Ingin Selamat dari Perubahan Iklim, Umat Manusia Wajib Merombak Industri Pertanian

Berdasarkan penelitian terbaru, kita terlalu banyak menghabiskan lahan untuk karbohidrat dan gula, dan menyisakan sedikit saja buat buah, sayur, dan sumber protein lain yang tidak rewel saat ditanam.

Oct 29 2018, 12:10pm

Kita belum berhasil mengelola hasil panen industri pertanian untuk memenuhi kebutuhan nutrisi global. Faktanya, umat manusia justru meluangkan jumlah tanah secara krang proporsional untuk berlebihan menanam padi-padian, lemak, minyak, dan gula yang menyerap banyak zat hara. Sebaliknya, kini tidak cukup lahan tersedia di berbagai negara untuk menanam buah-buahan dan sayur-sayuran yang kita butuhkan untuk terus bertahan hidup menghadapi perubahan iklim. Demikianlah kesimpulan sebuah penelitian yang baru terbit mengkritik cara kerja industri pertanian modern.

Iklan

Perubahan iklim menuntut manusia memproduksi bahan makanan secara efisien. Perubahan iklim tidak hanya mengancam produktivitas panen global, kita pun harus ingat betapa sektor pertanian selama ini merupakan salah satu sumber emisi rumah kaca terbesar setelah pembakaran bahan bakar fosil.

Para peneliti membandingkan profil nutrisi yang idealnya dikonsumsi manusia dengan kebutuhan tanah dan emisi rumah kaca yang terkait dengan proses produksi makanan tersebut. Temuan ilmuwan menunjukkan bahwa demi menumbuhkan nutrisi yang diperlukan dalam diet kita, kita harus mengurangi jumlah tanah yang digunakan untuk menanam padi-padian sebanyak 150 hektar, 105 juta hektar untuk lemak dan minyak, dan 30 juta hektar untuk gula.

Sedangkan, tanah yang harus diluangkan untuk menanam buah dan sayur harus ditambah sebanyak 171 hektar. (1 hektar adalah 10.000 meter persegi.)

Para peneliti menggunakan model Harvard Healthy Eating Plate sebagai dasar model nutrisi yang ideal. Berdasarkan ini, mereka menganjurkan tambahan penanaman tiga porsi buah dan sayur, dua porsi protein, dan pengurangan enam porsi gula per orang.

Rekomendasi tim Sumber Nutrisi Harvard di Bidang Nutrisi yang menciptakan model Harvard Healthy Eating Plate, sayangnya, tidak menetapkan ukuran satu porsi ideal. “Ukuran porsi yang digunakan tidak berdasarkan jumlah kalori tertentu dan tidak bertujuan untuk menetapkan jumlah kalori tertentu per hari, karena kebutuhan kalori dan nutrisi setiap orang bervariasi berdasarkan umur, gender, ukuran tubuh, dan tingkat aktivitas,” demikian keterangan dari tim peneliti tersebut lewat pernyataan tertulis.

Iklan

Walau demikian, kita tetap wajib mengubah cara produksi makanan secara drastis. Mengingat populasi dunia terus meningkat, maka produksi emisi gas rumah kaca dalam produksi makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan global juga bertambah. Sepanjang kurun 1993 hingga 2013, emisi rumah kaca yang disebabkan pertanian melonjak sebanyak lebih dari satu gigaton.

Penelitian ini menegaskan umat manusia selama Abad 20 hingga Abad 21 sukses memproduksi jumlah makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori (bukan kebutuhan nutrisi ya) bagi setiap orang di Planet Bumi. Sayangnya, masalah kita adalah pengelolaan pertanian yang buruk.

Satu solusi adalah untuk mengkonsumsi jumlah daging yang lebih sedikit, menurut sebuah laporan baru oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sekelompok ilmuwan iklim yang bekerja untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Meskipun konsumsi daging lebih rendah akan membantu mengurangi emisi, para peneliti mengaku strategi ini tidak realistis.


Tonton dokumenter VICE mengenai dampak perubahan iklim yang berpengaruh terhadap hidup manusia tanpa kita sadari:


"Misalnya kita ingin mengubah pola makan banyak orang menjadi vegetarian, di mana protein dihasilkan dari panen leguminosa, maka pertanian global akan membutuhkan tambahan 80 juta [hektar] tanah subur dan pengurangan 360 juta [hektar] tanah padang rumput untuk memenuhi kebutuhan makanan populasi pada 2050," begitu kesimpulan dalam penelitian tersebut.

Seandainya berpantang daging juga bukan pilihan, para peneliti menawarkan beberapa strategi lainnya demi mengurangi emisi rumah kaca yang memicu pemanasan global. Misalnya, kita bisa meningkatkan efektivitas produksi ternak dengan ganti memelihara hewan yang memproduksi jumlah emisi rumah kaca yang lebih sedikit. Ingat, ternak macam sapi mengeluarkan jumlah metana yang eksesif hanya melalui kentutnya, dan metana merupakan emisi rumah kaca yang lebih membahayakan bagi atmosfer dibandingkan karbon. Bisa juga industri pertanian berkomitmen membatasi perumputan pada wilayah tanah yang lebih kecil untuk waktu yang lebih pendek.

Iklan

Para peneliti juga menganjurkan berbagai pemerintah agar mulai mendorong konsumsi protein-protein alternatif seperti jamur, ganggang, ataupun serangga, serta meningkatkan konsumsi ikan yang juga mempunyai masalah-masalah lingkungan tersendiri, tapi lebih baik dari sudut pandang emisi rumah kaca.

Laporan ini memperhitungkan inovasi ilmiah dan teknologis seperti organisme termodifikasi secara genetika, yang telah membantu kita untuk menanam jumlah makanan yang memenuhi kebutuhan populasi pada masa kini. Para peneliti berasumsi bahwa kita akan menemukan metode teknologi baru untuk meningkatkan hasil panen buah dan sayur sebesar 1 persen pada 50 tahun berikutnya—angka yang masih jauh dari 8 persen yang dianjurkan untuk beradaptasi pada pertumbuhan populasi sembari mengikuti diet yang sesuai dengan Harvard Healthy Eating Plate.

“Kenyataannya, kenaikan hasil panen kemungkinan akan bervariasi akibat faktor-faktor seperti perubahan iklim dan perubahan-perubahan tak terduga pada sistem pertanian,” laporan menjelaskan. Bencana alam seperti topan dan badai, yang juga disebabkan perubahan iklim, bisa berdampak menghancurkan bagi hasil panen. Tahun ini, petani di Florida dan Georgia diperkirakan telah kehilangan US$4 miliar makanan karena kehancuran yang disebabkan Badai Michael.

Ahli-ahli lain telah menganjurkan kita untuk melabeli produk-produk makanan kita berdasarkan dampak iklim setiap produk agar konsumen memahami konsekuensi menyantap masakan tertentu.

Temuan laporan ini mencerminkan beberapa ide dari laporan 1.5 derajat oleh IPCC: Kita harus mengevaluasi kembali cara kita mengelola makanan, transportasi, pemerintahan, dan produksi jika kita berharap untuk menyokong populasi manusia melalui skenario iklim yang mengerikan sekaligus optimis dimana pemanasan planet bumi akan berkurang sebanyak 50 persen dari yang selama ini kita lakukan.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Tagged:

meat, diet, Berita, penelitian, Sains, Pemanasan Global, Lingkungan, Scitech, Industri Pertanian, Emisi Rumah Kaca, Konsumsi Manusia

More
like this
Kasus Perdagangan Manusia Memburuk di NTT, Krisis Iklim Turut Jadi Pemicunya
Travis Scott Mengaku Bukan Satanis dan Merasa Tak Salah Penonton Astroworld Tewas
Ada Dugaan Sabotase Pistol Dalam Insiden Alec Baldwin Tembak Kru
Ilmuwan Melatih Sapi Pipis Seperti Kucing, Supaya Tidak Mencemari Lingkungan
Angka Perceraian Burung Albatross Meningkat Akibat Perubahan Iklim
Deretan Foto Ini Menjadi Bukti Kondisi Bumi Semakin Mengkhawatirkan
Mengenali Sindrom yang Bikin Perempuan Orgasme Sepanjang Hari
Adegan Vespa di ‘The Book of Boba Fett’ Bikin Fans Marah: 'Gak Kayak Star Wars'