*Curhatan pembaca: Saya baru dua kali pindah bekerja. Rekan kerjaku di kantor ini semuanya baik, tak seperti dulu. Di kantor lama, semua orang suka berteriak dan gajinya di bawah UMR. Mantan bos bahkan memantau karyawan dengan CCTV.
Dalam sebulan, saya beberapa kali rapat di tempat yang sama dengan manajer meski acara kami berbeda. Kira-kira ada tiga kali kami selesai rapat pada waktu bersamaan, dan kembali ke kantor barengan. Dalam perjalanan, atasan saya sering menanyakan sudah makan siang atau belum. Saya tidak pernah merasa tertekan. Saya boleh memilih tempat, dan kami senang bisa makan siang bersama. Atasan bahkan tak jarang mentraktir saya. Sejauh ini, situasinya oke lah!
Masalahnya, saya tak yakin sudah cukup berterima kasih kepadanya. Saya rasa saya seperti ini karena pekerjaan sebelumnya memberikan kesan buruk ketika berinteraksi dengan atasan, jadi reaksi awal saya standar-standar saja. Saya merasa bilang ‘terima kasih’ masih kurang, tapi tidak mau berlebihan juga. Saya sebaiknya harus bagaimana?
Mengucapkan terima kasih setelah dibayarin sebenarnya sudah cukup, kok!
Dalam lingkungan bisnis, orang yang lebih berkuasa umumnya akan membayar makanan yang dibeli. Jika manajer kamu mengajak makan siang bersama, dia (atau perusahaan) yang akan membayarnya. Begitu juga ketika wawancara kerja, anggap pihak perusahaan yang membayarnya. Beda ceritanya jika satu kantor makan bersama. Kamu mungkin akan membeli minuman sendiri, atau membayar tambahan makanan yang kamu ambil. Bos kemungkinan besar akan menanggung biaya makan siang jika cuma berdua.
Saya menduga pekerjaanmu dulu mengubah harapan kamu terhadap atasan—ini sering terjadi pada orang-orang yang bekerja di lingkungan tidak sehat—dan pada akhirnya sekarang kamu merasa sangat berterima kasih untuk hal-hal yang sebenarnya kecil.
Berterima kasih itu penting, tapi ngomong “terima kasih makan siangnya, Bos. Saya menyukainya” sudah tepat. Kamu juga bisa berkomentar sedikit apabila diajak makan siang di tempat baru atau kesukaanmu, tapi jangan sampai berlebihan. Kamu bisa membayangkan apa kira-kira yang ingin atasanmu dengar. Kamu harus tulus berterima kasih, dan tidak memberi kesan mengharapkan lebih (Jangan sampai bikin atasan ilfil).
Sekarang mari bicarakan pertanyaanmu yang lebih luas. Seberapa bersyukur kamu—dan bagaimana seharusnya kamu menunjukkan rasa terima kasih—terhadap kebaikan kecil di tempat kerja? Bisa jadi atasan membelikan makan siang, teman satu kantor menanyakan mau nitip beli kopi atau tidak, atau bos menenangkanmu sebelum presentasi di depan klien. Kebaikan apapun yang dilakukan rekan kerja bisa membuat waktumu di sana terasa lebih menyenangkan.
Lalu, apa yang bisa kamu lakukan? Pertama, berterima kasih dengan tulus. Ngomongnya pun tidak perlu dilebih-lebihkan.
Kedua, jadikan kebaikan mereka alasan mempererat hubungan kalian. Sebagaimana semestinya manusia saling berhubungan dan mengekspresikan niat baik. Pastikan kamu mengembalikan kebaikan mereka, baik itu membantu melakukan sesuatu ketika mereka sibuk maupun menaruh kepercayaan kepada mereka.
Idealnya, hubungan kerja dipenuhi kehangatan dan niat baik. Kamu tentu harus bersikap ramah kepada semua orang di kantor, khususnya kepada rekan kerja yang melakukan segalanya untuk berhubungan baik denganmu. Namun, kamu tidak perlu merasa berutang budi kepada rekan kerja yang bersikap jahat hanya karena mereka pernah ketitipan kopi sekali.
Silakan baca saran-saran lainnya dari Alison Green di Ask a Manager atau dalam bukunya.
Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.