Filipina

Ciuman dan Gandengan Tangan di Jalan Kini Terlarang di Filipina

Polisi bakal menegur pasangan yang pamer kemesraan di ruang publik. Aturan ini bersumber dari kebijakan social distancing pandemi yang memancing kritik publik.
15.3.21
Ciuman dan Gandengan Tangan di Jalan Kini Terlarang di Filipina untuk atasi Covid-19
Ilustrasi pasangan yang bergandengan tangan di ruang publik. Foto via Getty Images

Polisi di Filipina punya tugas baru: mengawasi pasangan yang pamer kemesraan di ruang publik. Berdasar aturan anyar yang dilansir Kementerian Kesehatan Filipina, tidak boleh ada warga pegangan tangan, berciuman, hingga pelukan untuk mengontrol risiko penularan Covid-19.

Aturan yang diumumkan pada 11 Maret 2021 itu segera menuai kritikan oleh masyarakat di media sosial. Juru bicara kepolisian mengklarifikasi, bahwa petugas tidak akan menangkap pasangan yang PDA, namun sekedar “memberi teguran.”

Iklan

Brigadir Jenderal Polisi Ildebrandi Usana, dari tim humas Mabes Kepolisian Filipina, mengakui aturan social distancing terbaru ini cukup merugikan masyarakat. “Kami akan terpaksa menegur orang yang berpacaran, keluarga, atau sahabat dekat yang mengekspresikan rasa sayang di ruang publik,” ujarnya saat diwawancarai radio dzMM.

Hukum Filipina tidak melarang warga untuk pamer kemesraan di ruang publik. Aturan yang kontroversial ini sepenuhnya muncul sebagai langkah menekan angka penularan Covid-19 di masa pandemi.

Saat ini tercatat sudah terjadi 600 ribu kasus penularan Covid di Filipina, dengan 13 ribu orang meninggal. Pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte sudah sering dikritik karena kebijakan penanganan pandemi yang maju mundur. Bahkan, sampai artikel ini dirilis, Filipina belum berhasil mendapat kepastian pasokan vaksin Covid-19.

Netizen Filipina tentu saja asyik mengolok-olok larangan pamer kemesraan ini, karena dianggap tak berdampak apapun dalam mengontrol penularan Covid. Bahkan, epidemiolog menganggap aturan social distancing berlebihan ini tidak berdasar sains.

“Saya harap pemerintah Filipina berpegang saja pada kebijakan yang ilmiah, bukan seperti ini,” kata Dr. Tony Leachon, saat dihubungi VICE World News.