Konflik Semenanjung Korea

Peristiwa Langka Terjadi, Kim Jong-un Minta Maaf Tentaranya Bunuh PNS Korsel

Sang diktator Korut menganggap insiden pembunuhan kejam pekan lalu "seharusnya tidak perlu terjadi."
Junhyup Kwon
Seoul, KR
28.9.20
Kim Jong-un Minta Maaf Tentaranya Bunuh PNS Korsel di laut perbatasan
Kim Jong-un saat menghadiri rapat politbiro Partai Pekerja Korut. Sumber foto KCNA VIA AFP

Pekan lalu, publik internasional dikejutkan oleh pembunuhan sadis seorang pegawai kementerian kelautan Korea Selatan. Jasad sang pegawai saat ditemukan telah terbakar menurut media Korsel. Ternyata penyebab dia hilang di laut pada 21 September 2020 karena dibunuh oleh personel militer Korea Utara.

Insiden ini memicu kejadian langka dalam sejarah Korut, karena sang diktator Kim Jong-un secara terbuka meminta maaf pada Presiden Moon Jae-in dan rakyat Korsel. Kim menyatakan “insiden ini seharusnya tidak perlu terjadi.”

Sang pejabat Korsel itu berada dalam kapal yang secara tidak sengaja memasuki wilayah perbatasan Korut. Patroli kapal Korut yang melihatnya di laut segera memberondongkan peluru, menewaskan sang pejabat. Dari investigasi Pyongyang, korban yang berusia 47 tahun, ditembus lebih dari 10 peluru.

Namun, soal kabar bahwa jasadnya dibakar, Korut membantahnya. Versi Kim Jong-un, setelah menembaki si pejabat, tentaranya tidak berhasil menemukan jasad pejabat yang terjatuh ke laut. Mereka hanya membakar kapalnya, bukan jasad si pejabat. Alasannya, bakar-membakar termasuk protokol penanganan Covid-19 di negara mereka.

Meski hubungan kedua negara memburuk enam bulan terakhir, Moon dan Kim masih sering berkorespondensi lewat surat. Menurut Suh-hoon, Direktur Keamanan Nasional Kantor Staf Presiden Korsel, surat kedua pemimpin menyinggung banyak isu, termasuk kolaborasi penanganan Covid-19. Lewat surat rutin itulah, Kim menawarkan permintaan maaf dan berjanji akan menghukum pelaku.

Jenderal Ahn Young-ho, Panglima Tentara Korsel, mengutuk tindakan patroli keamanan Korut dan menuntut personel yang terlibat dihukum berat.

Pembunuhan ini mengakhiri momen satu dekade tanpa insiden melibatkan tentara Korut. Tiap kali ada warga Korsel yang tewas karena perilaku tentara Korut, kondisi politik kedua negara memanas, dan sentimen nasionalisme menguat di Korsel.