FYI.

This story is over 5 years old.

Berita

Gangster di Ghana Sukses Menjalankan Kedubes AS Abal-Abal Selama Puluhan Tahun

Jaringan kriminal ini mencetak rekor sulit ditandingi penjahat lain. Bangunan Kedubes palsu di Accra dilengkapi bendera dan foto presiden AS. Mereka menyediakan visa aspal dan dokumen pendukung untuk calon imigran
Foto dari Kementerian Luar Negeri AS

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News

Jaringan kriminal di Ghana belum lama mengejutkan semua pelaku penipuan. Mereka mencetak rekor baru yang sulit ditandingi penjahat-penjahat lainnya.

Kriminal di Ghana ini menyediakan dokumen visa bodong untuk masuk ke Amerika Serikat. Selain itu, mereka tertangkap basah mengoperasikan sebuah kantor Kedutaan Amerika Serikat palsu selama puluhan tahun lamanya. Tak tanggung-tanggung, bangunan kedutaan palsu itu dilengkapi dengan bendera dan foto presiden AS, menyerupai yang asli.

Iklan

Melalui penyataan pers tertulis, Kementerian Luar Negeri AS menyatakan kantor kedutaan palsu Ghana, berdiri di sebuah bangunan usang di wilayah Ibu Kota Accra. Bangunan ini dikelola oleh jaringan kriminal asal Ghana dan Turki. Operasional kantor kedutaan abal-abal ini dibantu seorang pengacara imigrasi Ghana. Lebih gila lagi, para staff kedutaan KW ini tidak ada yang berstatus warga negara AS. Semuanya adalah warga Turki yang fasih berbahasa Inggris dan Belanda.

Dalam keterangan yang sama, pemerintah Negeri Paman Sam mengatakan bangunan usang yang dijadikan kantor kedutaan palsu—tentu saja kondisinya jauh berbeda dengan bangunan kedutaan asli di Accra—menjadi pusat kejahatan penipuan yang menyasar banyak warga Ghana, serta penduduk dari negara tetangga Ghana, Togo dan Pantai Gading.

Kelompok penipu ini menuntun korbannya lewat selebaran dan iklan billboard. Mereka akan mengangkut korbannya dengan bus dari berbagai daerah terpencil, menginapkan mereka di hotel terdekat. Korban diminta membayar $6.000 (setara dengan Rp102 juta) untuk mendapatkan sepaket dokumen aspal dengan iming-iming bisa berangkat ke AS. Dokumen-dokumen ini mencakup Visa abal-abal serta beragam dokumen lainnya seperti Ijazah dan akta kelahiran palsu.

Guna memeroleh dokumen ini, para penipu menyogok para pejabat Ghana yang korup untuk mendapatkan berkas dokumen kosong. Para pejabat imigrasi Ghana tutup mata atas praktik penipuan ini. Tindakan para penipu berlangsung selama beberapa dekade, tanpa pernah tersentuh pihak berwajib.

Iklan

Keberadaan kedutaan palsu ini baru terungkap ketika seorang staf kedutaan AS yang asli, menyelidiki maraknya penipuan dokumen di Ghana. Dia mendapat informasi tentang kedutaan abal-abal ini dari seorang informan.

Menurut sang informan, di samping kedutaan AS palsu, ada juga kedutaan Belanda palsu di Ghana. Daphne Kerremans, Juru bicara Kementrian Luar Negeri Belanda, mengatakan bahwa otoritas Ghana tengah menyelidiki klaim tersebut. "Kami masih menunggu info lebih lanjut." ujar Daphne.

Dalam penggerebekan kedutaan palsu AS bersama dua lokasi penipuan lainnya, staf kedutaan AS dibantu oleh pihak kepolisian Ghana dan beberapa partner dari komunitas internasional. Aparat berhasil menyita 150 paspor dari 10 negara. Hasil penggerebakan ini sekaligus memperoleh setumpuk visa dari AS, negara-negara Schengen, India, dan Afrika Selatan, baik yang bodong maupun yang resmi.

Sayangnya, para penjahat ini sempat melakukan trik terakhir sebelum digerebek. Seorang pengacara yang terlibat skema penipuan ini melarang detektif kepolisian Ghana masuk salah satu TKP. Pengacara itu berdalih tempat tersebut juga tengah menjadi TKP sebuah penyidikian kepolisian untuk kasus kriminal yang berbeda. Menurut, keterangan Kementrian Luar Negeri AS, keterangan palsu ini memberi cukup waktu bagi kelompok penipu itu memindahkan pabrik percetakan dokumen mereka, mengirim beragam dokumen bodong ke luar Ghana.

Surat perintah penangkapan bagi para tersangka penipuan yang masih bebas telah dikeluarkan.

Pemerintah AS tak merinci berapa orang masuk dari Ghana ke negaranya menggunakan dokumen aspal.

Meski kecolongan, Kementerian Luar Negeri AS menganggap operasi anti-penipuan di kawasan Afrika Barat ini sebagai sebuah kesuksesan. Dalam sebuah pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri AS mengatakan praktik penggunaan dokumen bodong untuk masuk ke wilayah AS turun sebanyak 70 persen.