FYI.

This story is over 5 years old.

Food

Gandum Sebagai Senjata Perang di Suriah

Bagaimana rezim Suriah, pemberontak, pasukan jihad dan lembaga swadaya masyarakat bertarung untuk mengontrol sumber daya yang paling penting di negara ini.

Catatan Editor: Ini adalah seri pertama dari tiga bagian tulisan mengenai peran penting dari biji-bijian, gandum, dan roti dalam krisis Suriah saat ini. Sebagaimana dilaporkan oleh jurnalis Emma Beals, dalam rangkaian laporan perdana ini akan ditampilkan cerita awal mula gandum Suriah telah menjadi pusat dari konflik ini.

Penyebab dari perang saudara di Suriah dan seberapa besar pengaruh dari bermacam-macam komoditi terhadap perang ini telah menjadi bahan perdebatan yang sengit. Namun, sejak awal konflik, biji-bijian, gandum dan roti telah menjadi pusat dari masalah. Hanya menaruh perhatian terhadap minyak sebagai kekayaan negara yang paling penting dan berpengaruh berarti mengabaikan betapa pentingnya persediaan makanan dan kekuatan dari pihak yang mengatur mereka.

Iklan

"Kami kekurangan makanan," kata Abu Wael, penduduk dari desa Homs yang merupakan daerah pertama yang berani menentang pemerintahan Presiden Bashar Al Assad di tahun 2011. "Situasinya sudah seperti ini di dalam 4 tahun terakhir dan akan bertambah buruk. Roti hanya disediakan setiap 3 atau 4 hari, padahal dulu setiap hari. Tidak ada penyediaan roti atau gandum secara berkala." Biarpun ada berbagai ketetapan dari Dewan Keamanan PBB mengenai akses kemanusiaan dan bantuan global bermilyar-milyar dolar, pemerintah Suriah-lah yang mempunyai kuasa mengatur aliran makanan ke penduduk, bahkan yang berasal dari lembaga swadaya masyarakat internasional.

Akses ke makanan merupakan senjata perang di Suriah. Assad pernah menggunakan taktik pengepungan untuk memaksa area pemberontak menyerah karena kelaparan, dan mengebom titik persediaan roti dan toko roti menggunakan militer udara. Seiring perang yang semakin intens, akses terbatas ke pertanian dan peredaran produksi makanan menyebabkan Suriah yang tadinya merupakan negara berdikari, untuk mengimpor gandum dan bahan makanan lainnya - dibantu oleh Rusia dan Iran, sekutu militer mereka - untuk memberi makan penduduk di daerah yang dikuasai pemerintah. Bantuan ini sama pentingnya dengan bantuan militer yang diberikan negara-negara tersebut dalam mendukung rezim Assad.

Di daerah pengepungan dan Suriah utara, lembaga swadaya internasional bekerja sama dengan lembaga swadaya lokal untuk merebut kendali bahan makanan dari sistem pemerintah yang terpusat agar warga sipil dapat kembali mendapatkan perwakilan di hidup mereka.

Iklan

"Kasus Suriah merupakan kasus intervensi kemanusiaan yang paling rumit di dalam sejarah, menurut saya," kata Daniele Donati, wakil direktur Divisi Keadaan Darurat dan Rehabilitasi dari Organisasi Makanan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa. "Ini bukan masalah krisis makanan. Ini adalah krisis penghidupan. Kami berusaha membantu orang-orang agar tidak mempunyai alasan tambahan untuk meninggalkan negara mereka."

Lembaga Bantuan Kemanusian IHH, sebuah lembaga swadaya masyarakat di Reyhanli, Turki menyediakan roti kepada warga Suriah. Beberapa organisasi berusaha menyediakan makanan untuk penduduk kawasan ini yang terlantar dan membangun infrastruktur pertanian di Suriah. Semua foto adalah karya David Hagerman.

"Alasan utama orang mengungsi adalah serangan udara," kata Rami Alkatib, seorang pekerja pembangunan Suriah yang tinggal di Turki Selatan. "Kalau kita memberi sokongan terhadap pertanian, orang akan tinggal di daerah mereka. Area yang dipegang oleh musuh kebanyakan adalah daerah pertanian. Kalau anda dibom dari udara, dan tidak punya makanan di darat, maka orang-orang pasti akan mengungsi." Menurut Donati, membenahi masalah pertanian di Suriah bukan hanya sekedar perkara mengisi perut yang lapar; ini adalah sarana menuju perdamaian.

Makanan pokok Suriah adalah roti. Warga Suriah memakan roti bulat, gepengi - biasa dijual lusinan - setiap saat. Melihat sejarah mereka, negara ini memang memiliki sistem terpusat dalam hal sumber makanan pokok; pemerintah menyediakan biji-bijian, mensubsidi produksi gandum, membeli hasil panen, dan mengatur produksi tepung, termasuk pemanggangan dan penjualan roti-roti tersebut. Investasi dari pemerintahan Assad dan beberapa bantuan komersil internasional seperti Nestle, menjadikan Suriah sebagai negara yang "aman pangan" di akhir abad dua puluh. Suriah berhasil memproduksi cukup gandum untuk memberi makan rakyat mereka tanpa harus bergantung pada impor. Mereka dilihat sebagai titik cerah di kawasan yang gersang dan tidak stabil.

Iklan

Sayangnya, antara tahun 2007 dan 2011, bencana alam menghancurkan negara ini; masa kekeringan menghantam sektor pertanian. Produksi gandum berkurang 50 persen, dan harga makanan melunjak hingga sepertiga di tahun 2008. Biarpun sempat pulih pasca panen yang buruk tahun itu, kombinasi dari hasil penuaian yang lebih sedikit, biaya produksi yang naik, dan kebijakan resmi yang berfokus di liberalisasi pasar menyebabkan warga pedesaan mengganggur. Di awal 2011, warga mulai turun ke jalan. Ketidakpuasan warga pedesaan mungkin bukan penyebab revolusi tersebut, namun imbas dari masa kekeringan di daerah pertanian mendorong protes anti rezim.

Tidak lama kemudian, Assad menetapkan beberapa pembaruan di sektor pertanian : mengurangi skala privatisasi, meningkatkan subsidi, menghapuskan hutang petani, dan menyiapkan dana darurat bagi warga desa yang miskin. Untuk menjaga kepuasan konsumen, rezim mulai mengimpor gandum dari Eropa Timur, namun itu tidak cukup.

Ketika protes-protes ini berubah menjadi perang habis-habisan dan para warga berusaha menyesuaikan diri terhadap kekacauan rutinitas kehidupan sehari-hari ini, pemerintah merancang strategi yang efektif untuk melawan pasukan pemberontak : mereka mengebom antrian toko roti yang panjang yang disebabkan oleh kelangkaan gandum di daerah-daerah yang diperebutkan. Pengeboman-pengeboman ini terjadi sepanjang konflik ini berlangsung; pada serangan baru-baru ini, serangan udara Rusia menghantam toko roti yang menyediakan makanan untuk 45.000 orang.

Iklan

Para sukarelawan membagikan roti hangat kepada pengungsi Suriah di sebuah desa di luar Rayhanli. Beberapa pekerja lembaga swadaya harus membayar tentara agar mereka bisa masuk ke daerah-daerah yang dikepung.

Pihak rezim dan pemberontak memperebutkan wilayah, termasuk lumbung gandum dan persediaan roti di daerah timur laut, dan ketika kelompok jihad melihat kesempatan di dalam kekacauan ini, mereka mengambil alih sumber-sumber kekayaan yang penting ini. Dokumen mengenai Haji Bakr, otak dari Islamic State (ISIS, yang didapatkan oleh Der Spiegel (publikasi berita Jerman), menunjukkan bahwa ISIS memiliki rencana terperinci untuk mengambil alih pabrik tepung di Suriah utara. Begitu mereka berhasil, mereka melakukan pendekatan yang disiplin terhadap alur produksi dan memberi makan rakyat untuk memenangkan dukungan mereka.

Video propaganda ISIS memuji-muji keunggulan produksi pertanian mereka, dengan menunjukkan gambar lumbung gandum yang penuh, petani yang sedang bekerja keras di sawah yang memiliki irigasi yang baik, dan para pekerja mengisi karung gandum untuk membuat roti. Namun video yang dibuat oleh kelompok pemberontak saingan menentang propaganda agraris ISIS. Cuplikan video tersebut - yang belum diverifikasi - menunjukkan bahwa ISIS melakukan penjualan cepat dan menjual kembali gandum tersebut ke rezim. Ini masuk akal berhubung di tahun 2013, sebelum ISIS menyatakan diri sebagai suatu kesatuan di Suriah, pasukan rezim dan pemberontak di provinsi Idlib sempat melakukan gencatan senjata sementara. Para pemberontak mengirim gandum ke pihak rezim untuk digiling dan kemudian dikembalikan dalam bentuk tepung dan sebagai gantinya pihak rezim mendapatkan jatah gandum.

Iklan

Sekarang, lembaga swadaya memusatkan perhatian mereka untuk memecahkan kebutuhan perdagangan dan gencatan senjata aneh antar faksi-faksi yang bermusuhan ini dengan mengganti sistem produksi terpusat yang sebelumnya ditetapkan pemerintah. Sistem yang dulu berjalan mandiri ini sudah mulai runtuh. Pemerintah hanya memiliki kurang dari setengah toko roti yang mereka miliki sebelum perang dimulai, pabrik-pabrik yang menyediakan pupuk dan ragi bagi para petani ditutup atau dihancurkan, dan distribusi biji-bijian ambruk (hanya sepertiga fasilitas pra-perang masih beroperasi). Semenjak 2012, rezim tidak mampu membeli gandum dalam jumlah banyak di dalam negeri semenjak tanah garapan direbut oleh para pemberontak dan diperburuk oleh ketidakmampuan rezim untuk mengangkut biji-bijian ke lumbung milik mereka.

Karena hal ini, pemerintahan Assad bergantung pada bantuan kemanusiaan dan pembelian secara kredit dari Iran dan akhir-akhir ini, Rusia. Contohnya, di tahun 2014, Iran dilaporkan mengirim 30.000 ton persediaan makanan ke Suriah. Iran dan Rusia dengan mudah memenangkan kontrak untuk membangun infrastruktur pertanian Suriah dikarenakan negara-negara barat memberikan sangsi kepada mereka dalam hal pembiayaan dan perbankan. Dari dulu Suriah mempunyai hubungan yang dekat dengan kedua negara ini, namun pasca 2013, hubungan ini menjadi sangat penting dari sisi persediaan makanan.

Dukungan ini, disertai aksi memanipulasi program bantuan PBB, menjadi faktor yang penting dalam mempertahankan stabilitas di daerah-daerah milik pemerintah di Sariah. Projek-projek bantuan pertanian baru dapat beroperasi secara rahasia ketika Dewan Keamanan PBB mengesahkan ketetapan di tahun 2014 yang memperbolehkan bantuan lintas batas masuk ke Sariah tanpa izin dari pemerintah. Biarpun begitu, di kenyataannya, pemerintah tetap menolak organisasi kemanusiaan untuk mengakses daerah-daerah yang membutuhkan bantuan. Di bulan Mei, pasukan rezim memblokir pengiriman bantuan pertama ke Daraya semenjak November 2012 di pos pemeriksaan terakhir.

Iklan

Penyelewengan yang dilakukan pemerintah terhadap akses makanan menjadikan intervensi kemanusiaan yang bertujuan untuk menciptakan alur makanan yang mandiri, bebas dari rezim sangat penting.

Sekarang, sekantong roti di Suriah berharga antara dua hingga empat kali lipat lebih mahal dibanding sebelum perang dimulai - tergantung apakah toko roti tersebut swasta atau milik pemerintah - menurut statistik yang dihimpun oleh Program Pangan Dunia. Aktifis bahkan melaporkan bahwa di beberapa daerah, roti bisa dihargai puluhan hingga ratusan pounds Sariah lebih mahal dari harga sebelumnya akibat kelangkaan dan biaya yang tinggi untuk membawa mereka masuk ke pasar. Terkadang, pemerintah mencoba mendapatkan sogokan dan memungut "pajak" di pos pemeriksaan di jalan, dengan cara menyita produk, mengakibatkan harga barang tersebut semakin naik akibat kelangkaan.

Badan-badan pertolongan awalnya membantu warga-warga terlantar dengan menyediakan makanan, namun sekarang, program-program bantuan dimulai dari irigasi dan upaya-upaya pertanian - termasuk pengecambahan biji-bijian - hingga penggilingan gandum, membangun ulang penggilingan, dan menyediakan tepung bagi toko roti. Masalahnya telah bergeser dari sekedar membawa masuk persediaan menjadi pengaturan harga dan distribusi produk akhir.

Ini merupakan proses yang rumit. Rami Alkatib mengatakan bahwa untuk banyak proyek yang dia persiapkan dari Turki selatan, organisasi dia memperoleh biji-bijian dari wilayah pemerintahan dan menyelundupkan mereka ke daerah-daerah yang dikepung. Alkatib dan Abu Wael mengatakan bahwa mereka mesti menghadapi pedagang-pedagang yang korup dan membayar tentara untuk dapat masuk ke daerah tersebut biarpun dana program mereka sangat terbatas. Organisasi Pangan dan Pertanian, contohnya, melaporkan bahwa projek pertanian darurat mereka kekurangan dana sebesar lebih dari 70% tahun lalu, yang mengakibatkan intervensi mereka tidak sempurna. "Kami belum bisa memberikan yang terbaik," kata Donati. "Di dalam situasi dimana akses sangat fluktuatif."

Namun para pekerja badan pertolongan ini percaya bahwa fokus mereka untuk menciptakan pekerjaan di bidang pertanian guna mengatasi kelangkaan makanan akan menyelesaikan masalah penelantaran. Alkatib mengatakan bahwa dia telah melihat keluarga yang berhasil kembali dari barak-orang-terlantar di perbatasan Turki dan Suriah dimana makanan tersedia. "Ada hasilnya," kata dia. "Kami melaporkan kembalinya enam puluh hingga delapan puluh keluarga ke suatu daerah karena adanya keswasembadaan." Projek berkebun mendorong warga untuk menjadi mandiri, bahkan ketika persediaan pokok seperti tepung gandum tidak tersedia karena diblok. "Sekarang mereka membuat roti dari biji-bijian yang berbeda. Mereka dulu biasa membuat roti dari tepung. Sekarang mereka membuat roti dari bulgur atau daun-daun lain."

Di desa Homs, Wael telah mempersiapkan program tumbuh gandum dimana biji-bijian dan penggilingan sudah siap, namun masih kurang untuk kebutuhan wilayah tersebut. Bahkan dengan biji-bijian dan penggilingan yang siap, kurangnya bahan bakar masih menjadi halangan, karena mereka dibutuhkan bukan hanya untuk mengangkut bahan tapi juga menjalankan generator yang menyediakan energi untuk penggilingan dan toko roti.

Selain untuk kebutuhan konsumsi lokal dan menyediakan nafkah bagi penduduk, memelihara tanaman pangan merupakan bagian integral dari menjaga struktur sosial. Organisasi masyarakat sipil seperti Komite Koordinasi Lokal Suriah menilai gandum dan roti sebagai cara terbaik untuk membebankan pajak dan retribusi, yang membiayai pelayanan masyarakat. "Daerah-daerah kekuasaan oposisi melakukan apa yang mereka bisa lakukan untuk bertahan mandiri selama 9 bulan dalam setahun" kata Alkatib. "Dewan lokal menghasilkan pemasukan dengan cara memanggang gandum yang mereka beli dari petani lokal dan menjualnya ke rakyat."

Sudah bukan rahasia bahwa Wael dan Alkatib dan sekutu mereka dari lembaga-lembaga swadaya meniru strategi kelompok jihad yang mencoba menguasai populasi melalui gandum dan roti. Namun yang lebih penting, mereka berusaha untuk memberikan orang-orang awam Suriah - yang paling terpengaruh oleh perang yang sedang berlangsung - untuk mempunyai kendali atas penghidupan mereka. Resolusi yang damai ataupun solusi politik terhadap konflik ini masih sulit ditemukan, namun Wael bangga bahwa ia "membawa kehidupan dan kegiatan ke masyarakat setempat dan memulihkan keseimbangan alam," biarpun dalam skala kecil. Ketika anda hidup di dalam masa perang, sedikit keadaan normal akan sangat berarti.