FYI.

This story is over 5 years old.

Berita

Rodrigo Duterte Meralat Pengakuannya Pernah Melempar Orang dari Helikopter

Presiden Filipina ini tak pernah kehabisan kontroversi. Dalam pidato pekan lalu, dia mengaku siap melempar koruptor dari atas helikopter, seperti yang pernah dia lakukan di masa lalu. Diwawancarai media, dia tiba-tiba bilang pengakuan itu cuma 'bercanda'.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali melontarkan pernyataan kontroversial pekan ini. Saat membuka sarasehan pemulihan bencana topan, dia mengklaim siap menghukum berat koruptor. Caranya? Melempar mereka dari helikopter yang sedang terbang tinggi. Duterte mengaku pernah melakukan tindakan itu sebelumnya, dan tak ragu mengulanginya lagi di masa mendatang.

Iklan

"Jika kamu korup, saya sendiri yang akan menyeretmu ke Manila, naik helikopter, dan dari ketinggian, saya akan melemparmu," ujarnya dalam Bahasa Tagalog. "Saya sudah pernah (membuang orang dari helikopter), jadi kenapa saya harus ragu mengulanginya?"

Kata-kata Duterte itu ditujukan pada para pejabat bidang penanggulangan bencana, supaya tidak macam-macam dengan anggaran. Saat berpidato itu, Duterte menyatakan orang yang dulu pernah dia lempar dari helikopter, saat masih menjabat Wali Kota Davao, adalah penculik dan pembunuh.

Sayangnya, klaim Duterte kali ini tidak bertahan seperti biasa. Dia membantah pernah membunuh orang dengan cara melemparnya dari helikopter yang sedang terbang, lalu buru-buru menegaskan semua itu cuma lelucon.

"Di [Davao] kami mana punya helikopter. Kami tidak pernah pakai," kata Duterte saat diwawancarai CNN Philippines.

Presiden 71 tahun itu kemudian mengolok-olok media massa karena mempercayai semua ucapannya. Juru bicara kepresidenan Filipina mengingatkan media agar tidak begitu saja mengutip semua kata-kata Duterte. "Ucapan presiden itu perlu ditanggapi serius, tapi tidak dalam makna harfiah," ujarnya.

Sejak resmi menjabat sebagai presiden Juni lalu, Duterte segera dikenal publik dunia karena kebijakannya yang melanggar HAM saat memerangi peredaran narkoba. Menggunakan dalih itu, ribuan orang dibunuh tanpa peradilan.

Duterte melanjutkan kebijakan yang dulu biasa dia lakukan selama masih menjabat sebagai wali kota di selatan Filipina, yakni menghabisi langsung orang-orang dianggap penjahat tanpa ada peradilan layak. Berulang kali dia mengaku pernah membunuh penjahat dengan tangannya sendiri. Beberapa ucapannya itu kemudian diralat atau ditarik kembali ketika dikonfirmasi oleh media massa. Salah satu ucapannya yang kontroversial, yakni semasa masih jadi wali kota dia kadang berkeliling naik motor sambil membawa pistol, demi "membunuh orang-orang yang suka jadi biang onar di masyarakat."

Duterte juga mengaku pernah menembak mati tiga orang dengan senapan mesin. Mereka semua, menurutnya, adalah pelaku pemerkosaan dan penculikan di Kota Davao. Lembaga pemantau hak asasi sudah mengkritik habis-habisan kebijakan Duterte yang mengorbankan rakyatnya sendiri. Duterte dan kabinetnya bergeming. Pembunuhan misterius terus dilakukan oleh polisi dibantu ormas-ormas bersenjata. Tak peduli banyak korban pembunuhan sistematis itu bukan pengedar narkoba, bahkan ada yang masih anak-anak. Perang berdarah ala Duterte sudah menyebabkan nyaris 5.900 orang di seluruh Filipina meregang nyawa dalam tiga bulan terakhir. Itu baru angka resmi Kepolisian Filipina. Angka dari LSM dan juga kelompok pemantau sipil jauh lebih tinggi. Dari angka itu, 3.841 orang tewas oleh aksi kelompok bukan kepolisian.

Duterte justru bangga banyak rakyatnya yang mati, karena mereka yang ditembak menurutnya adalah sampah masyarakat. Untuk membersihkan "kaum sampah" ini, Duterte menyamakan dirinya dengan Hitler saat memerintahkan holocaust bagi penduduk Yahudi Jerman.

Dengan segala kontroversi ini, tingkat kepuasan rakyat Filipina terhadap Duterte masih sangat tinggi. Kita akan semakin sering berurusan dengan sang pemimpin baru Filipina ini di masa mendatang.