Tips Kencan

Jangan Merasa Bersalah Apabila Kamu Pacaran atau Pedekate Terus Tiba-Tiba Menghilang

Percaya atau tidak, hilang tanpa penjelasan itu ada manfaatnya juga.
17 Juli 2018, 11:19am

Dalam rubrik Fighting Words, VICE mengundang siapapun mengutarakan pendapat yang tidak disetujui banyak orang tapi patut dipertimbangkan soal kebugaran, kesehatan, nutrisi, dan percintaan. Ada yang ingin diutarakan? Sila kirim pitchnya ke tonic@vice.com.

Ada banyak alasan mengapa aplikasi kencan online lebih sering dipakai pada saat awal tahun baru. Tidak ada salahnya bagi para jomblo yang ingin mencoba peruntungannya di aplikasi tersebut, tapi kamu harus ingat satu hal: jangan buang percuma waktumu untuk orang yang tidak tepat. Kamu tidak jahat kalau tiba-tiba menghilang (ghosting) dari orang yang tidak kamu sukai.

Ghosting sudah sangat umum terjadi sekarang. Survei yang dilakukan pada 2016 menemukan bahwa 78 persen orang lajang dari usia 18 sampai 33 pernah mengalaminya. Penelitian yang dilakukan oleh Elle menemukan bahwa lebih dari separuh orang yang mengalami ghosting juga pernah melakukannya kepada orang lain.

Menghilang tanpa kabar sebenarnya wajar, tapi hasil pencarian Google menampilkan artikel-artikel yang menyebut pelaku ghosting sebagai sosiopat. Saya bahkan sampai menghina diri sendiri di internet karena biasa melakukan ghosting. Apa benar tindakan ini tidak sopan? Mungkin saja, tapi melakukan ini jauh lebih baik daripada berpura-pura. Saya tidak merasa bersalah melakukannya, jadi kamu juga tidak perlu khawatir soal itu.

“Ghosting ada baiknya juga,” ujar Ben Michaelis, dokter psikolog yang menulis Your Next Big Thing : 10 Small Steps to Get Moving and Get Happy. “Kita tidak boleh menghilang begitu saja kalau hubungannya sudah sangat dekat, tapi tidak masalah kalau ingin melakukannya kalau tidak lagi tertarik setelah berkencan.”

Kita tidak perlu mengulur waktu jika melakukan ghosting. “Orang yang mengalami ghosting cepat atau lambat akan menyadari alasannya. Kedua pihak bisa move on lebih cepat.”

Banyak yang tidak setuju dengan gagasan ini. Sebagian besar berpendapat bahwa ghosting membuat orang yang ditinggalkan tidak yakin harus melakukan apa. Pelaku ghosting dianggap memberikan harapan palsu dan memainkan perasaan orang lain. Mereka dinilai egois, jahat dan tidak punya hati.

Dalam buku Closure: The Rush to End Grief and What it Costs Us, Nancy Berns menulis soal berakhirnya hubungan karena putus dan kematian. Dalam sebuah esai, ia mengatakan bahwa mereka yang ditinggalkan hidup dalam ketidakpastian. Mereka jadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, kenapa pasangan meninggalkan mereka begitu saja. Sayangnya, jujur soal perasaan kita bisa menyebabkan masalah yang lebih besar.

Contohnya seperti cerita yang ditulis di Gawker ini. Ada laki-laki yang menyatakan ketidaktertarikannya untuk berkencan dengan seorang perempuan lewat SMS. Tidak terima diperlakukan seperti itu, dia mempermalukannya di blog dan mengirimkan foto telanjang laki-laki itu ke bosnya. Mungkin tidak semua orang akan bersikap sama seperti perempuan ini, tapi ditolak orang yang kita sukai memang sangat menyakitkan.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2010, sekelompok peneliti di Albert Einstein College of Medicine di New York City menunjukkan kesamaan antara respons otak terhadap penolakan dan jatuh cinta atau kecanduan. 15 mahasiswa yang pernah putus cinta tapi masih menyayangi mantannya discan otaknya sambil ditunjukkan foto mantannya. Bagian otak yang aktif saat melihat foto sama dengan bagian yang terpicu oleh perasaan jatuh cinta, ingin sesuatu dan kecanduan. Ini membuktikan kalau ghosting bukanlah tindakan keji; orang yang mengalami ghosting merasa sakit hati karena otaknya tidak bisa menanganinya dengan baik.

Penolakan mampu membuat kita melakukan yang tidak-tidak, dan ghosting adalah cara tepat menghindari ini. Menghilang begitu saja memang bisa membuat orang bertanya-tanya, tapi setidaknya mereka bisa lebih cepat mengobati rasa sakit hati. Bisa saja pasangannya menghilang karena sibuk, mati, atau segan mengatakan kalau mereka tidak tertarik.

Orang tidak suka di-ghosting karena itu sama saja dengan penolakan. Saya juga pernah mengalaminya. Saya tidak menyukainya, tapi tidak membenci tindakan ghosting. Saya tentunya tidak mau gebetan bilang kalau mereka tidak tertarik dengan saya. Memang sakit kalau tidak ada kepastian, tapi saya sadar kok apa maksudnya kalau mereka menghilang begitu saja. Berkat tindakan ini, saya bisa lebih cepat cari orang baru.

Saya harap orang bisa lebih mempertimbangkan manfaat ghosting. Kamu lebih baik bersyukur daripada marah. Tapi, ingat… Kamu tidak perlu mengirim chat ke mereka.