Artikel ini pertama kali tayang di VICE Canada.
Jauh sebelum terjadi penembakan yang menyebabkan enam orang tewas di Masjid Jami Quebec akhir pekan lalu, kekerasan menyasar kaum muslim merupakan rahasia umum di provinsi Kanada tersebut. Pemimpin komunitas etnis minoritas rutin mengelukan kekerasaan, vandalisme, bahkan ancaman kekerasan fisik. Kaum perempuan muslim di Quebec kerap jadi sasaran cemoohan ketika menggunakan hijab dan pakaian panjang seperti niqab.
Kebencian antimuslim di Quebec tak berhenti pada tindakan simbolis seperti membuang kepala babi di pintu masuk sebuah mesjid pada Ramadhan tahun lalu. Sebelumnya, jendela-jendela masjid di Quebec pernah dipecahkan. Beberapa muslim melaporkan ancaman pembunuhan , serta mobil-mobil jamaah masjid jadi sasaran vandalisme. Megmet Deger mengungkapkan pada CBC tentang aksi vandalisme yang tak lama lalu terjadi di masjidnya yang terletak di Kota Dorval. Akibat kejadian itu, anggota komunitas muslim di sana tak lagi merasa aman. "Hidup kami terancam," ujarnya.
Foto via akun Flickr ibourgeault_tasse
Islamfobia mewabah di ruang publik Quebec. Dalam referendum yang dilaksanakan di kawasan Ahuntsic-Cartierville Juni 2016, mayoritas pemilih menolak rencana mengubah sebuah community center menjadi sebuah masjid. Charter of Values, sebuah kebijakan yang melarang penggunaan lambang-lambang keagamaan di ruang publik, pemakaian lambang agama oleh pegawai negeri dan terkesan menyasar penggunaan hijab, diusulkan oleh Partai Québécois menjelang pemilihan provinsi 2014 lalu. Di samping itu, banyak insiden yang dibesar-besarkan oleh media setempat memicu kemarahan dan sentimen anti muslim di kalangan warga mayoritas kulit putih beberapa tahun ke belakang.
Tapi, bagaimana bisa kedegilan ini berubah jadi kebencian yang melahirkan nafsu untuk membunuh? Kenapa terjadi di Quebec dan baru sekarang? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dalam beberapa tahun ke depan bakal berusaha dijawab oleh para akademisi. Saat ini, kita cuma bisa mengambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang memicu insiden ini tak sekadar masalah kewarasan akses terhadap senjata api.
Dalam pandangan Daniel Weinstock, seorang profesor di Fakultas Hukum McGill University dan pakar hubungan antaragama dan masalah-masalah kelompok agama minoritas, kisruh perpolitikan dan media—entah itu media mainstream, media sosial atau media abal-abal—yang berkisar tentang komunitas muslim memungkinkan insiden penembakan hari Senin lalu terjadi. Bagi Weinstock, penembakan kemarin tak bisa diduga tapi bukan muncul sekonyong-konyong begitu saja.
"Beberapa tahun ke belakang, kami yang tinggal di Quebec hidup dalam iklim politik, yang atas beberapa alasan politis, sangat menyoroti komunitas Muslim," terang Weinstock, "Komunitas Muslim sangat menonjol, tak seperti komunitas lainnya..sayangnya, mereka makin menonjol di pikiran mereka yang punya intensi untuk membunuh."
Berkat rutinnya komunitas Muslim Kanada masuk berita, mereka sering menjadi target kejahatan kebencian. Tak ada yang merasa perlu menghujani Baha'i center dengen peluru karena memang tak ada yang memperhatikan pemeluk agama minoritas ini. Sebaliknya, kalangan Muslim semakin jadi pusat perhatian di Amerika Utara. Sebegai catatan, sentimen negatif pada orang Islam di Kanada atau AS terjadi jauh sebelum Donald Trump terang-terangan memamerkan ketidaksukaannya terhadap kaum Muslim.
Para peneliti sosial menduga ekstremisme anti-muslim mengalami peningkatan di Quebec. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2016, Barbara Perry dari Ontario Institute of Technology dan Ryan Scrivens dari Simon Fraser University memperkirakan ada lebih dari 100 kelompok ekstrem kanan nasionalis di Kanada, seperempatnya bermarkasa di Quebec. Jumlah anggota tiap kelompok beragam, mulai dari 15 sampai 100 orang.
Angka itu mungkin belum terlalu mengagetkan. Sepanjang kurun 2010 sampai 2015, terjadi 800 kasus kejahatan berlatar kebencian terhadap ras atau pemeluk agama tertentu di Quebec. Yang mengagetkan, sepanjang 2014-2015, jumlah kasus serupa melonjak 50 persen. Pada 2014, kejahatan kebencian "hanya" terjadi 167 kali. Sepanjang 2015, jumlahnya melonjak sampai 257 kasus, menurut data yang diperoleh Montreal Gazette dari kantor provinsi kementerian Keamanan Publik Quebec. Menurut data statistik yang di keluarkan Kepolisian Montreal, jumlah kejahatan kebencian berbasis agama (150) sedikit lebih tinggi dari kejahatan kebencian berbasis ras dan etnis (146). Pun, jumlahnya jauh melampui kejahatan kebencian berbasis orientasi seksual (35).
Weinstock lekas mewanti-wanti bahwa penembakan yang terjadi awal pekan ini bisa terulang di mana saja, selama ada ketegangan rasial dan etnis yang tinggi pada masyarakatnya. Sebagai contoh, pada 2015, Dylann Roof, seorang fanatik kulit putih, membantai sembilan jemaah paroki sebuah gereja di Charleston, South Carolina. Seluruh korban adalah orang keturunan Afrika-Amerika. Insiden Charleston terjadi di tengah bangkitnya gerakan hak sipil warga kulit hitam di AS. Contoh lainnya, tak lama setelah Presiden Donald Trump mengesahkan pelarangan muslim masuk Amerika Serikat, sebuah masjid dibakar di Texas.
"Ada dimensi psikologis ketika seseorang mencapai titik yang membuat mereka mengangkat senjata dan membunuh orang lain yang tidak berdosa," ujar Weinstock. "Apa yang terpicu dalam diri mereka? Apakah faktor pemicu ini akan mengarahkan mereka pada target ini atau target lainnya? Ini semua tergantung pada apa yang terjadi dalam lingkungan mereka."
Weinstock menyatakan lingkungan tempat tinggal para ekstremis kanan ini mudah menyulut insiden semacam penembakan masjid tempo hari. Rata-rata pelaku tinggal di lingkungan homogen, membaca situs berita bertendensi sayap kanan dan antiimigran. Rata-rata pelaku kekerasan sayap kanan kulit putih, menurut Weinstock, punya prasangka negatif terhadap umat Islam. "Jika terjadi lagi, komunitas Muslim bakal lebih berpeluang jadi sasaran dibandingkan komunitas minoritas lainnya."
Follow Patrick Lejtenyi di Twitter .
