Banjir Mayat Belum Berakhir Bagi Pengelola Bisnis Rumah Duka Filipina
Foto jasad tanpa identitas di Manila oleh Dante Diosina Jr/NurPhoto via Getty Images.
Perang Narkoba Filipina

Banjir Mayat Belum Berakhir Bagi Pengelola Bisnis Rumah Duka Filipina

Nyaris setiap hari selalu ada jasad baru akibat Perang Narkoba ala Presiden Duterte. Rumah Duka di negara itu saling berebut mayat demi menangguk untung besar.
03 Mei 2017, 10:29am

Jarum jam menunjuk pukul delapan malam di rumah duka Eusobio, sebelah utara Ibu Kota Manila. Kami sedang menunggu seseorang yang bakal meregang nyawa malam itu.

Entahlah siapa yang akan tewas malam itu. Siapapun bukan masalah. Toh, peti mayat yang tersedia bisa memuat korban dengan ukuran apapun. Sejak musim panas tahun lalu, pasca Presiden Filipina yang baru terpilih Rodrigo Duterte mendorong penduduk Filipina membantai bandar dan pengguna obat-obatan terlarang, bisnis sedang cerah-cerahnya di Estubio. Nama Estubio pun kini kerap masuk sorotan media akibat kerap jadi tempat persemayaman korban perang obat-obatan terlarang yang dicanangkan Presiden Rodrigo Duterte. Cerahnya bisa rumah duka dengan gamblang terlihat di Estubio. Pekerja di sana memakai seragam dan jam tangan baru ketika saya pertama kali tiba di sana.

Orly Hernandez, manajer jaga malam, tinggal di sebuah ruangan ceruk dari semen yang menempal di garasi rumah duka itu. Fernandez mengurung diri dalam ruangan itu menjelang subuh dan baru keluar dari sarangnya setelah senja tiba. Fernandez kenal orang dalam dalam kepolisian Filipina yang siap sedia membocorkan informasi terbaru tentang kasus pembunuhan, aku Fernandez. Saban kali, pesawat telepon berwarna hitam di kantornya berdering, anak buahnya akan segera memacu mobil jenazah secepat mungkin menuju TKP pembunuhan terbaru. Malam itu, adalah lelaki bernama Ruel yang kebagian giliran jadi supir mobil jenazah. Di tangannya, mobil jenazah Estubio lincah bermanuver, mengakali kemacetan agar perusahaannya dapat menjadi mobil jenazah pertama tiba di TKP.

Mayat korban pembunuhan, bagi para pekerja rumah duka, telah menjadi semacam hadiah yang patut diperebutkan. Kadang dalam semalam terjadi beberapa kasus pembunuhan berdekatan. Satu mayat korban akhirnya menjadi bahan rebutan karyawan beberapa rumah duka berbeda. Sumpah serapah deras diucapkan dalam perebutan mayat. Salah satu karyawan bahkan mengaku pernah melihat mayat yang ditarik seperti dalam "lomba tarik tambang."

Pemandangan kampung kumuh di tengah Ibu Kota Manila. Foto oleh penulis.

Matahari terbit, prosesi persemayaman dimulai. "Ada lima mayat hari ini," ujar seorang penerjemah, mengabarkan berita terbaru dari rumah duka Estubio. "Tiga tewas setelah dipukuli. Dua orang mati karena luka tembak. Kuku salah satu mayat laki-laki ada yang dicabut. Satu mayat perempuan ditemukan mengapung di dasar laut."

Bagi saya, yang ternganga mendengarkan berita macam ini, fakta paling mengejutkan bukanlah jumlah korban—tentu saja jumlah korban bikin manusia normal trenyuh. Yang mengejutkan adalah kondisi beberapa korban disiksa sebelum menemui ajal. Ada kabar yang tersebar bahwa mayat para pemadat dan pengedar obat-obatan dihargai sampai $100.000 (setara Rp1,3 miliar) per kepala, tergantung kedudukan mereka dalam skema peredaran obat-obatan terlarang di Filipina. "Harga" nyawa para pemadat ini pernah dinyatakan secara eksplisit oleh Duterte sendiri, meski belakangan dia mulai mengurangi peran pemerintah dari kebijakan perang narkoba, setelah mendapatkan tekanan masyarakat internasional beberapa minggu lalu. Sampai tulisan ini dilansir, perubahan kebijakan yang diambil oleh Duterte baru berupa pencopotan jabatan Ismael Sueno sebagai Menteri Dalam Negeri. Sueno dikenal sebagai tangan kanan Duterte dalam perang melawan Obat-obatan terlarang karena tuduhan korupsi). Akhir pekan minggu lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump—yang sama-sama dikenal sebagai presiden berideologi populis—mengundang Duterte berkunjung ke Gedung Putih. Sampai hari ini, pembunuhan ekstrajudisial terus terjadi di seantero Filipina. Korban tewas lebih dari 7 ribu orang. Kebanyakan pembunuhan ekstrajudisial terhadap pengedar maupun pecandu narkoba dilakukan oleh pasukan pembunuh khusus.

Kelompok yang membantai lelaki bernama Raul, kata saudara perempuan, mengenakan bandana biasa untuk menutupi muka dan kepala mereka. Kendati keluarga Raul berkukuh bahwa Raul tak bersalah, korban menikah dengan anak perempuan seorang bandar obat-obatan di dekat provinsi Bulacan. Raul baru saja kembali ke Manila usai cekcok dengan istrinya. Khawatir nyawanya terancam, keluarga Raul memohonnya kembali ke keluarga istrinya dan bersembunyi di sana. Sayang, istrinya enggan rujuk. "Aku tepat berdiri di sisi Raul saat tiga orang datang mengendarai sepeda motor dan menyeretnya," kenang saudara perempuan Raul dalam proses berkabung. "Sejam kemudian kami menemukan jenazahnya di lapangan kosong. Mereka menembak paul di kedua kaki, dada dan mukanya."

Prosesi persemayaman sering dilakukan di daerah kumuh—barisan gubuk dua lantai yang dibuat dari material bekas. Saya sudah mengantongi alamat tempat pelaksanaan sebuah upacara persemayaman. Tetap saja, saya harus bertanya kesana-kemari, pada setiap penduduk yang saya temui, agar saya tak tersesat di lorong yang penuh kelok. Ketika saya sampai, mayat-mayat korban sudah ditempatkan di peti mayat yang kacanya sudah kusam. Wajah mayat-mayat tersebut—umumnya rusak—telah diurut agar kelihatan wajar di ruang belakang sebuah rumah duka.

Setelah diurut, muka mayat-mayat ini ditutupi makeup. Lazimnya, peti mati korban beberapa meja yang digunakan untuk berjudi. Bahkan jauh sebelum Duterte berkuasa, keluarga orang yang meninggal sudah terbiasa menggelar meja judi untuk menghibur pengunjung atau dalam beberapa kesempatan untuk mengatasi ongkos prosesi persemayaman yang tinggi.

Peluru dikeluarkan dari tubuh korban pembunuhan misterius saat otopsi.

Dalam proses persemayaman lainnya di lokasi tak terlalu jauh, seorang Ibu mengatakan bahwa anaknya cuma sedang mabuk—lalu pingsan di jalan—ketiak sekelompok orang berbandana mendatanginya. "Mereka memerintahkan semua orang masuk ke dalam rumah. Setelah jalanan sepi, mereka menembak putraku," ujar Ibu malang itu. "Mereka membunuhnya dalam tidur seperti binatang. Setelah itu, mereka menaruh sabu dekat mayatnya untuk menutupi perbuatan mereka."

Sudah menjadi rahasia umum bahwa serangkai pembunuhan di Filipina terkait dengan peredaran obat-obatan terlarang. Alhasil, kasus pembunuhan ini jarang disidik oleh Polisi—dan kalau pun melakukannya, upaya polisi tidak pernah serius.

Tak jelasnya sikap pemerintah dimanfaatkan pasukan pembunuh. Dalam banyak kasus, kelompok pembunuh membungkus kepala korban dengan lakban dan kantong plastik guna menandai bahwa korban pantas dibunuh tanpa peradilan, karena terlibat peradaran obat-obatan terlarang, seperti yang telah dianjurkan oleh Duterte.

Seringkali jasad-jasad itu ditempeli karton bertuliskan: "DRUG PUSHER (Pengedar Narkoba)," atau "THIS COULD BE YOU (Anda Bisa jadi Korban Berikutanya)".

Sesosok mayat lelaki tanpa identitas tiba di Estubio pukul 4 dini hari. Darah kental berwarna kehitaman menetes dari celah lakban yang menutupi kepalanya. Petugas rumah duka dengan cekatan segera memotong lakban dari kepala korban. Ekspresi terakhir lelaki misterius itu benar-benar bikin saya terhenyak.

Tatkala Ruel mencabut peluru dari kepala korban dan menjatuhkannya dalam sebuah wadah, terdengar suara mirip lonceng. "Sebelum korban ditembak, mereka terlebih dulu menusuknya dengan penusuk es," ujar penerjamah yang saya sewa sambil menunjuk serangkai luka di daerah rusuk korban.

Malam itu, adalah Ruel yang bertugas melakukan otopsi. Setelah mayat ini selesai dibalsem, masih ada tiga mayat lagi yang mengantre, menunggu di balik kantung kain berwarna hijau. Ruel asyik membelah rusuk dengan gunting besar, meraup organ dalam, dan menggergaji batok kepala bukan urusan mudah. Mayat yang dibersihkan Ruel seakan ingin menjaga rahasia dalam dirinya sendiri. Keringat Ruel meluncur dari mukanya, mendarat di pipi mayat. Sepintas terlihat seperti air mata.

Mayat-mayat korban meninggalkan rumah duka Estubo tanpa organ dalam dan dijahit dengan kasar. "Aku sering dapat mimpi buruk gara-gara pekerjaan ini," Ruel mengaku. "Aku pernah mimpi mayat-mayat ini marah karena apa yang aku lakukan pada mereka."

Ruang pembalseman di rumah duka pinggiran Ibu kota Manila.

Dalam sebuah prosesi persemayaman keesokan harinya, saya bicara dengan ibu seorang korban. "Mereka membunuh putra saya tiga hari lalu," jawabnya sambil terisak. "Ramil sudah 35 tahun, tapi bagi saya dia masihlah seorang anak kecil. Ketika saya menimang Ramil dan melakukan segala sesuatu untuknya—itu adalah masa-masa terindah dalam hidup saya. Ramil anak yang baik. Dia pernah bekerja sebagai penyapu jalan agar kami bisa makan."

Beberapa tahun lalu, Ramil mulai menggunakan shabu. Tiap kali mengkonsumsi shabu, Ramil jadi orang lain. Dia bakal lari ke jalan dan menantang orang lain berkelahi. "Pernah suatu kali, Ramil memukul ayahnya sampai dua giginya tanggal. Tapi, saya tahu sebelum meninggal, ia mengirim surat untuk minta maaf. Dia mulai mendalami injil. Ramil ingin tobat dan jadi lebih baik," kata sang ibu.

"Mereka membunuh Ramil sebelum dia mendapatkan kesempatan [bertobat]," imbuh sang ibu.

Di Eusebio, matahari kembali terbit. Hari baru menunggu datangnya mayat-mayat malang dimulai. Orly Fernandez masih terjaga dan tengah menulisi papan yang menyertai tiap mayat. Di papan peti mayat Ramil tertera:

In Memoriam
Lahir: Desember 18, 1981
Meninggal: April 9, 2017
Usia: 35

Fernandez meludahi kain lap dan menghapus tulisan itu. Papan itu kini bersih. Setidaknya sampai mayat baru berakhir di Estubio.

Ikuti proyek Roc Morin mencatat mimpi dan cerita-cerita sureal selama berkeliling dunia di World Dream Atlas .