Terorisme

Panduan Lengkap Memahami Rangkaian Aksi Teror di Indonesia Sepekan Belakangan

Belum semuanya tuntas terjawab kendati semua pelaku telah teridentifikasi. Satu hal pasti, sel terafiliasi ISIS mulai bergerak.
15.5.18
Polisi mengamankan lokasi teror di depan Gereja Pentakosta Surabaya. Foto oleh Beawiharta / Reuters

Meski semua pelaku pengeboman di Surabaya yang terjadi pada Minggu dan Senin lalu telah teridentifikasi, teka-teki belum sepenuhnya terjawab. Benarkah aksi para teroris kemarin itu ada kaitannya dengan ISIS? Apakah ada komando dari pucuk pimpinan Jamaah Anshar Daulah (JAD)? Apakah JAD punya struktur, atau sebenarnya organik dan bergerak sendiri-sendiri tanpa perlu saling berkoordinasi? Dari mana para pelaku mendapatkan bahan peledak? Siapa yang mengajarkan mereka membuat bom?

Iklan

Tak mudah menjawab pertanyaan itu semua. Kepolisian tentu butuh waktu menyisir barang bukti dan saksi-saksi serta jejaring yang terafiliasi pada para pelaku penyerangan. Pada saat yang sama, aparat dan intelijen juga menanggung beban besar memastikan mereka tak kecolongan lagi. Dari informasi dan petunjuk yang terkuak pasca penyerangan, hal-hal inilah yang kiranya bisa disimpulkan redaksi VICE Indonesia:

Siapa Pelakunya?

Baik serangan di tiga gereja maupun serangan di Polrestabes Surabaya dilakukan oleh keluarga. Serangan gereja yang terjadi pada Minggu 13 Mei pagi dilakukan oleh lima anggota keluarga pasangan Dita Oepriarto, 48 tahun, dan Puji Kuswati, 43. Mereka berdua turut mendorong dan memboyong keempat anaknya ikut dalam penyerangan, tiga di antaranya usianya masih di bawah 17 tahun.

Dua anak laki-laki pasangan Dita-Puji, Yusuf Fadil, 18 tahun dan F, 16, mengendarai sepeda motor sambil memangku bom dan meledakannya di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel. Puji memboyong kedua anak perempuannya ketika meledakkan diri di Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro. Sementara Dita, setelah mengantar istrinya, beraksi seorang diri membom Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuno. Sementara bom di gerbang Polrestabes Surabaya, yang terjadi Senin 14 Mei pagi, dilakukan oleh satu keluarga asal Ngagel Rejo. Lima orang pelaku yang berasal dari satu keluarga mengendarai dua sepeda motor dan meledakkan bom ketika diperiksa polisi di pintu penjagaan. Bom kedua hanya berselang lima detik dari ledakan pertama. Motor pertama dikendarai oleh Murtiono, 50 tahun, dan kedua anaknya laki-laki berusia 14 dan perempuan 7 tahun. Anaknya yang perempuan selamat. Motor kedua dikendarai oleh Tri Ernawati, 43 tahun dan MDAM (laki-laki), 17. Semua anggota keluarga kecuali anak terkecil meninggal dalam aksi pemboman.

Iklan

Apakah terafiliasi ISIS?

Lewat media propaganda mereka, Amaq News yang dikutip oleh siteintelgroup, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom tiga gereja di Surabaya. Kepolisian sempat menyatakan bahwa Dita Oepriarto, pelaku bom gereja, pernah ke Suriah. Keterangan itu kemudian diralat oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian.


Tonton dokumenter VICE mengenai upaya seorang ustaz di Sumut mengajak anak teroris berpaling dari radikalisme agama:


Tito mengatakan rentetan ulah teroris yang terjadi belakangan tak lepas dari kebijakan ISIS sentral yang semakin terdesak di Suriah. Karena gagal membangun khilafah di Irak dan Suriah, ISIS menyerukan para mujahid untuk berjihad di negara masing-masing. "Kami sampaikan juga motifnya, serangan ini karena instruksi ISIS sentral. Mereka terdesak dan memerintahkan sel-sel lain di seluruh dunia untuk bergerak," kata Tito Karnavian di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Senin, sebagaimana dikutip Kompas.

Rangkaian Aksi Ini terorganisir atau inisiatif sendiri?

Untuk urusan ini, aparat belum memberi informasi pasti pada publik. Informasi rencana penyerangan tak sempat bocor keluar yang bisa diartikan info itu berhasil diamankan di lingkaran-lingkaran kecil. Kepolisian mengakui aksi yang dilakukan oleh pembom gereja maupun Polrestabes lolos dari deteksi dini kepolisian. "Dalam kasus Surabaya ini, mereka luput dari deteksi intelijen," kata Tito sebagaimana dikutip Koran Tempo.

Iklan

Menyatakan bahwa seluruh serangan adalah inisiatif sendiri tak sepenuhnya meyakinkan. Masalahnya, pemboman dilakukan dalam waktu yang berdekatan dan metodenya mirip, yakni melibatkan satu keluarga. Pada hari yang sama dengan hari pemboman gereja, sebuah bom tak sengaja meledak di Rumah Susun Sewa Wonocolo, Sidoarjo yang dihuni Anton Febrianto, 47 tahun, dan keluarga. Enam orang jadi korban ledakan itu, tiga di antaranya tewas termasuk istri dan anaknya yang berusia 17 tahun. Anton kemudian tewas di tangan polisi yang mendatangi lokasi. Dari ayah Dita, diketahui bahwa Anton adalah teman karib Dita sejak kecil.

Apa kaitannya dengan pembunuhan dan penyanderaan polisi di Mako Brimob?

Benang merah antara pengeboman Surabaya dengan insiden kerusuhan Mako Brimob adalah Jamaah Anshar Daulah (JAD). Napi-napi JAD berperan besar memicu kerusuhan di Mako Brimob. Pelaku pengeboman Surabaya, Dita Oepriarto, juga bagian dari JAD. Kapolri Tito Karnavian menyebut Dita sebagai Ketua JAD Surabaya.

Ayah Dita, Raden Doddy Oesodo yang diwawancarai oleh CNN, juga menyebut anaknya adalah bagian dari JAD. Menurut Doddy, Dita dan Anton, pemegang bom yang tewas di rusun Sidoarjo, adalah kawan karib sejak kecil. Anton adalah junior Dita di JAD.

Tak diketahui pasti apakah para pelaku dalam kericuhan Mako Brimob dan pengeboman Surabaya saling berkoordinasi. Yang bisa dipastikan adalah, sebagaimana diyakini oleh Kapolri Tito, baik jaringan di Mako Brimob maupun Surabaya sama-sama merujuk pada kebijakan ISIS. ISIS semakin terdesak di Suriah sehingga menyerukan para pendukung khilafah berjihad di negara masing-masing."Kerusuhan Mako Brimob tak sekadar makanan yang tidak boleh masuk, tapi dinamika internasional," ucap Tito kepada Kompas.

Berapa banyak penangkapan jaringan teroris terjadi pasca berbagai insiden sepekan belakangan?

Sepanjang Mei, tepatnya dari tanggal 2 hingga 14, setidaknya ada 17 terduga teroris yang terafiliasi dengan penyerangan ditangkap kepolisian. Di luar itu, ada 10 yang mati ditembak dalam proses penangkapan. Penyergapan terhadap teroris terjadi di banyak tempat, di antaranya Mimika, Depok, Bekasi, Cianjur, Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya.