Steven Lewis/Unsplash
Artikel ini pertama kali tayang di TonicSiapa sangka, tinggal di luar negeri rupanya bisa membantu kita menemukan jati diri sebenarnya. Kamu akan lebih memahami diri jika sudah tinggal di sana selama bertahun-tahun. Itu bukan kesimpulan ngasal lho, tapi didasarkan pada penelitian yang melibatkan ribuan responden.Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak saja orang yang memutuskan pindah ke luar negeri untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan. Mereka yakin kalau hidup akan jauh lebih baik apabila mengadu nasib di luar negeri. Selain itu, mereka merasa bisa lebih mengenal diri karena harus bisa mandiri dan memulai semuanya dari awal. Melihat tren kehidupan transnasional macam itu, Hajo Adam dari Rice University tertarik menelitinya. Dia mengajak beberapa rekannya untuk meneliti pengaruh tinggal di negeri orang pada kepribadian. Penelitian mereka diterbitkan dalam Jurnal Organizational Behavior and Human Decision Processes.Penelitiannya melibatkan 1.874 orang dan dilakukan dalam beberapa bagian. Pada tahap pertama, ada 296 orang yang berpartisipasi. Separuh dari responden sudah tinggal di luar negeri. Mereka menyelesaikan 12 pertanyaan yang menjelaskan pemahaman diri. Mereka disuruh memilih antara setuju dan tidak setuju pada setiap pertanyaan yang bunyinya kira-kira menyerupai: “Saya memahami diri sendiri” dan “Saya jarang mengalami masalah kepribadian.” Responden yang tinggal di luar negeri memiliki konsep diri yang jelas.Tapi, apa benar tipe orang seperti ini cenderung mengejar peluang di luar negeri? Untuk mencari tahu, mereka mengamati kepribadian 261 orang baru. 136 respondennya tinggal di luar negeri, sedangkan sisanya baru punya rencana saja dan berniat pindah dalam waktu sembilan bulan. Sama seperti skala kejelasan konsep diri, seluruh responden menyelesaikan penilaian “refleksi diri”—seperti: “Hubungan saya dengan orang lain berdasarkan nilai-nilai diri sendiri dan orang lain” dan “Kepribadian saya mencerminkan siapa saya sebenarnya atau budaya di tempat tinggal.”Responden yang sudah tinggal di luar negeri memiliki konsep diri yang lebih jelas daripada yang baru punya rencana. Hasilnya dijelaskan secara statistik menggunakan skor tertinggi pada refleksi diri (setelah mengontrol variabel dan kepribadian). Hasil penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di luar negeri lebih meningkatkan refleksi diri dan sangat memahami konsep diri.
Tonton dokumenter VICE mengenai perjalanan kakek-nenek naik motor keliling Korea Utara:
Penelitian lain yang dilakukan, termasuk studi kasus terhadap pelajar asing yang datang dari berbagai negara, menyimpulkan waktu yang dihabiskan di luar negeri memiliki tingkat pemahaman konsep diri yang lebih tinggi daripada jumlah negara yang pernah ditinggali. (Berdasarkan data responden penelitian ini, lama waktu mereka tinggal di luar negeri rata-rata 3,3 tahun). Tingginya pemahaman bisa meningkatkan kualitas hidup mereka. Pelajar internasional yang sudah lama tinggal di luar negeri melaporkan bahwa mereka sudah memiliki arah karir yang jelas karena mereka mengenal diri dengan baik.“Hipotesis kami didukung berbagai latar populasi subyek, metode campuran, dan metode kejelasan konsep diri yang saling menunjang. Hal ini membuktikan ketahanan diri mereka selama tinggal di luar negeri sangat mempengaruhi kejelasan konsep diri masing-masing,” tulis para peneliti tersebut. “Penelitian ini jadi yang pertama dalam menunjukkan bahwa tinggal di luar negeri bisa mengubah pandangan terhadap diri sendiri.”Penelitian mereka di kesempatan berbeda memperoleh kesimpulan tak jauh beda. Pengalaman tinggal di luar negeri bisa memengaruhi kadar "konsep diri" seseorang. Mereka menggunakan istilah seperti “suka bertualang” pada deskripsi diri partisipan. Sedangkan temuan terbaru menunjukkan kalau seseorang bisa memutuskan mana yang lebih penting dan tidak berkat tinggal di luar negeri. Mereka juga jauh lebih percaya diri. Menurut peneliti, semakin lama seseorang tinggal di luar negeri, semakin sering mereka melakukan refleksi diri.Kesimpulan penelitian ini menggunakan kutipan buku Travel Diaries of a Philosopher karya filsum Jerman, Hermann von Keyserling, terbitan 1919. Kutipannya berbunyi, “The shortest path to oneself leads around the world.” Peneliti juga menambahkan, “Dalam 100 tahun ke depan, penelitian kami bisa jadi bukti empiris untuk mendukung gagasan ini.”Artikel ini pertama kali tayang dalam format yang sudah dimodifikasi di British Psychological Society Research Digest. Sila baca artikel aslinya di sini .
Iklan
Iklan
Tonton dokumenter VICE mengenai perjalanan kakek-nenek naik motor keliling Korea Utara:
Penelitian lain yang dilakukan, termasuk studi kasus terhadap pelajar asing yang datang dari berbagai negara, menyimpulkan waktu yang dihabiskan di luar negeri memiliki tingkat pemahaman konsep diri yang lebih tinggi daripada jumlah negara yang pernah ditinggali. (Berdasarkan data responden penelitian ini, lama waktu mereka tinggal di luar negeri rata-rata 3,3 tahun). Tingginya pemahaman bisa meningkatkan kualitas hidup mereka. Pelajar internasional yang sudah lama tinggal di luar negeri melaporkan bahwa mereka sudah memiliki arah karir yang jelas karena mereka mengenal diri dengan baik.“Hipotesis kami didukung berbagai latar populasi subyek, metode campuran, dan metode kejelasan konsep diri yang saling menunjang. Hal ini membuktikan ketahanan diri mereka selama tinggal di luar negeri sangat mempengaruhi kejelasan konsep diri masing-masing,” tulis para peneliti tersebut. “Penelitian ini jadi yang pertama dalam menunjukkan bahwa tinggal di luar negeri bisa mengubah pandangan terhadap diri sendiri.”Penelitian mereka di kesempatan berbeda memperoleh kesimpulan tak jauh beda. Pengalaman tinggal di luar negeri bisa memengaruhi kadar "konsep diri" seseorang. Mereka menggunakan istilah seperti “suka bertualang” pada deskripsi diri partisipan. Sedangkan temuan terbaru menunjukkan kalau seseorang bisa memutuskan mana yang lebih penting dan tidak berkat tinggal di luar negeri. Mereka juga jauh lebih percaya diri. Menurut peneliti, semakin lama seseorang tinggal di luar negeri, semakin sering mereka melakukan refleksi diri.Kesimpulan penelitian ini menggunakan kutipan buku Travel Diaries of a Philosopher karya filsum Jerman, Hermann von Keyserling, terbitan 1919. Kutipannya berbunyi, “The shortest path to oneself leads around the world.” Peneliti juga menambahkan, “Dalam 100 tahun ke depan, penelitian kami bisa jadi bukti empiris untuk mendukung gagasan ini.”Artikel ini pertama kali tayang dalam format yang sudah dimodifikasi di British Psychological Society Research Digest. Sila baca artikel aslinya di sini .