Penonton Akhirnya Eneg Juga Sama Serial dan Film Menjual Nostalgia

Buktinya adalah sambutan suam-suam kuku dari penonton sedunia terhadap seri baru Star Wars, Star Trek, atau Jumanji. Habisnya remake/reboot sepanjang 2017 lebay sih.
29.1.18
Lia Kantrowitz

2017 adalah tahun nostalgia budaya populer. Mei tahun lalu kita menyaksikan kembalinya serial Twin Peaks (1990-91); September tahun yang sama, kita disuguhi season ketiga Full House (1987-95) dalam bentuk sekuel berjudul Fuller House dan premier Star Trek: Discovery; lalu bulan lalu, Psych (2006-14) kembali dalam bentuk film TV. jangan lupa di tahun yang sama, bioskop kita dipenuhi film baru dari waralaba Star Wars dan Jumanji. Tahun ini, sepertinya tren ini akan terus berlanjut dengan kemunculan episode terbaru The X-Files (1993-2002), reboot Roseanne (1988-97), season terbaru Arrested Development (2003-6), dan kembalinya The Office (2005-13).

Segala macam reboot, remake, dan revival bikin saya mikir untuk menyimpen celana jins dan flanel saya jelek di lemari kamar (ayolah, kalau Jumanji aja laku lagi setelah nyaris dua abad, kenapa flannel dan jins belel saya enggak?) begitulah, yang namanya nostalgia itu punya kekuatan magis. Gara-gara nostalgia, masa-masa SMA—sebagian dari kita melaluinya sebagai korban rundungan—jadi kelihatan lucu dan menyenangkan untuk dikenang. Gara-gara nostalgia juga, pintu balikan dengan mantan kadang terbuka lebar. Dan lantaran nostalgia, Hollywood lagi-lagi bikin film Jumanji movies (Maaf, saya memang paing seneng ngeledekin Jumanji).

Produk-produk budaya pop yang dibangkitkan lagi tahun lalu biasanya adalah film atau serial yang umumnya sudah memiliki marwah “klasik.” Kita bisa mudah memahami alasan studio-studio film gatel banget membangkitkan film atau serial klasik. Nostalgia, bagaimanapun, sangatlah menjual. Apalagi kalau serial atau film-film tersebut punya penggemar garis keras yang siap mengorbankan apapun untuk nonton film atau serial kesayangan mereka. Belum lagi, versi reboot atau remake sebuah produk budaya pop klasik berpeluang menjaring penonton baru. Pendeknya, apapun yang memiliki faktor nostalgia bisa dijamin sukses di pasaran.

Namun, tren nostalgia budaya populer mulai mencapai titik jenuh, fan akhirnya merasa keki juga.. Buktinya, situs review film Rotten Tomatoes menunjukkan bahwa hanya 49% penonton memberikan nilai positif untuk film Star Wars: The Last Jedi. Banyak fan mengutuk episode kedelapan Star Wars itu telah mengacaukan keseluruhan franchise lantaran melempar continuity antara episode ke tempat sampah, mengecilkan peranan Luke Skywalker dan mengolok-olok warisan para Jedi. kalau berkaca dari opini publik, Star Trek: Discovery punya nasib yang sedikit lebih baik. Film ini memperoleh rating 55 persen dari penonton yang menyebutnya sebagai episode Star Trek paling busuk lantaran sok-sokan gelap dan pengin punya cerita yang dibabarkan sepanjang satu season serta memasang karakter-karakter yang kurang membumi.

Yang menarik, agregat rating penonton ini bertolak belakang dengan ulasan para kritikus film. Baik The Last Jedi maupun Discovery berhasil menuai puja-puji dari para kritikus. Keduanya beroleh skor review yang tinggi—90 persen dan 82 persen secara berturut-turut. Jadi ada kesepakatan di antara kritikus film bahwa ada banyak hal yang bisa kita kagumi dalam dua episode waralaba legendaris ini. Ini lantas bikin saya gatel mengajukan dua pertanyaan: 1) kenapa penonton enggak suka The Last Jedi dan Discovery? 2) kalau emang kekuatan magis nostalgia segitu kuatnya, kenapa serial dan episode baru ini malah dapat review jeblok dari penonton?

Penjelasannya mungkin cuma satu: kelelahan akan nostalgia—sejnis kelelahan lantaran paparan berlebih terhadap masa lalu yang sentimental. Jika kita menjadikan skor di Rotten Tomatoes sebagai patokan, kelelahan akan nostalgia tengah mewabah di film dan TV. di beberapa ulasan, penonton yang rajin mengikuti franchise-franchise di atas mengaku bakal berhenti menonton serial/film kesayangan mereka. Di tengah gerutuan macam “ah ini sih ngancurin franchisenya” atau “kok semuanya beda sih?” saya malah penasaran: apakah penonton saat ini kadung kebanjiran banyak tontonam bagus? Atau kegigihan untuk menghidupkan kembali produk budaya klasik justru malah menghancurkan sebuah franchise itu sendiri?

Nostalgia itu menenangkan karena kita sudah tahu isinya. Masalahnya, fan yang mencari faktor nostalgia sebuah franchise umumnya tak mau konten nostalgianya berubah. Nah, begitu sebuh serial diperbaharui, perubahan mutlak dilakukan agar bisa nyambung dengan audiens zaman sekarang. Di sinilah, masalahnya muncul. Perubahan bikin fan lama keki karena mereka merasa kehilangan sesuatu yang dekat di hati mereka. Luke Skywalker di The Last Jedi adalah contoh yang paling tepat.

Di trilogi orisinalnya, Luke digambarkan sebagai Jedi yang bermoral, idealis, dan doyan meromantisir Jedi Order. Adapun dalam The Last Jedi, umur dan pengalaman Luke malah jadi kakek-kakek yang nyinyir pada Jedi. ini yang bikin banyak penggemar Star Wars ngamuk. Namun, harus diakui, perubahan ini tak bisa dihindari. Menggambarkan Luke sebagai seseorang yang punya idealisme buta bakal filmnya aneh dan buruk—yang pada akhirnya bikin penggemar Star Wars kecewa. Pendeknya, mau diapain juga, penontonnya bakal kecewa.

Sebaliknya, Jumanji: Welcome to the Jungle—yang merupakan sebuah reboot alih-alih episode lanjutan—tak menampilkan satupun karakter dari film alawasanya. Saat ini, Jumanji punya rating 75% dari kritikus dan 90%. Artinya, Jumanji sukses menyuguhkan nostalgia yang enggak bikin capek. Tentu saja, alasan lain yang membuat Jumanji baru lebih berhasil dibanding episode baru Star Trek dan Star Wars adalah karena pertaruhannya enteng-enteng saja. Fan kedua franchise yang terkahir dikenal taat dan kaffah sera tak ragu menyatakan pendapat merek. Jumanji tak punya fan macam ini. Begitulah faktnyanya, franchise film besar umumnya punya fan yang sangat berdedikasi sehingga hampir enggak peluang setiap episode barunya memenuhi episode mereka.

Nostalgia itu mirip seperti cemilan kesukaan kita. Mau bagaimanapun hidup kita berubah, kita toh tetap bisa kembali ke USS Enterprise dan galaksi nun jauh di sana. Menemukan bahwa kedua tempat itu tak berubah selalu bikin kita tenang. Namun, notalgia perlu jarak agar bisa bekerja. Masalahnya, keberjarakan ini tak bisa selalu dimiliki. Pengilon tentang “tontonan zaman dulu yang dahsyat” ada di sekitar kita. Itulah biang kerok kelehahan penonton. Meski nostalgia seringkali bikin kita nyaman, banjir film reboot atau remake kayak tahun lalu kemungkinan malah bikin kita eneg daripada senang.

Follow Samantha Edmonds di Twitter.