Psikologi

Penelitian: Sekalipun Mabuk, Perempuan Bisa Membedakan Cowok Baik dari yang Narsis dan Psikopat

Mayoritas perempuan yang diteliti bisa menyadari bahaya kepribadian yang mereka temui, bahkan dalam kondisi dipengaruhi alkohol sekalipun.
12.3.19
Penelitian psikologi menunjukkan wajah seseorang bisa menunjukkan dia psikopat atau tidak
Foto ilustrasi oleh Shan Dodd via Stocksy 

Alkohol adalah zat buruk yang bikin kita melakukan hal-hal buruk (misalnya, curhat luar dalam sama orang yang tak kamu kenal). Penelitian yang baru saja terbit menunjukkan ada satu hal yang tak bisa dipengaruhi alkohol: kemampuan mengidentifikasi tipe-tipe orang berbahaya yang bisa kalian temui, baik mereka yang narsistik, Machiavelian, atau malah psikopat.

Tim peneliti yang diketuai Dr. Gayle Brewer dari University of Liverpool menyelidiki pengaruh konsumsi alkohol terhadap cara perempuan memandangi laki-laki yang mempunyai ciri-ciri "segitiga gelap" dalam kajian psikologi—yaitu narsisisme, Machiavellianisme, dan psikopat. Apa kesimpulannya? Alkohol tidak mengganggu kemampuan seorang perempuan mengenali bajingan Machiavellian atau cowok bangsat narsistik, bahkan setelah perempuan dicekoki vodka oleh para peneliti.

Iklan

Penelitian ini berangkat dari kajian sejenis yang mengindikasikan bila perempuan cenderung tidak menyukai wajah laki-laki yang menunjukkan tanda-tanda 'segitiga gelap'. Tim riset Brewer ingin menyelidiki apakah alkohol dapat mengganggu penilaian perempuan soal identifikasi lawan bicaranya. Sembilan puluh enam perempuan dari umur 18 sampai 26 tahun diberi foto laki-laki yang wajahnya dimanipulasi, untuk mempertunjukkan ciri-ciri segitiga gelap yang dominan.

"Kami mengambil wajah seseorang dengan kadar psikopat tinggi," ujar Brewer, "lalu kami mengubahnya menjadi wajah yang baru. Jadi, wajah psikopati tersebut dapat digabungkan dengan wajah saya, contohnya."

Perlu diingat, menurut Brewer, tim peneliti ini tidak menggunakan wajah laki-laki yang secara klinis didiagnosis mengidap gejala psikopat atau narsisme. Alih-alih, mereka menggunakan foto-foto laki-laki yang menunjukkan tingkat ciri-ciri segitiga gelap yang tinggi setelah menyelesaikan ujian kepribadian (kita semua berpeluang memiliki kadar rendah maupun tinggi terkait ciri tersebut).

Konsisten dengan penelitian sebelumnya, tim Brewer menemukan para perempuan tidak menyukai wajah laki-laki yang memperoleh nilai tinggi untuk ciri-ciri segitiga gelap. Menariknya, perempuan mampu menentukan dan menanggapi secara negatif wajah-wajah tersebut bahkan setelah mengkonsumsi alkohol. "Saat orang dikasih lihat wajah-wajah ini, mereka langsung dipandang sebagai tidak menarik dan lebih mengancam," ucap Brewer.

Ia berspekulasi adanya kemampuan bawah sadar mengidentifikasi ciri-ciri segitiga gelap menguntungkan perempuan secara evolusioner. "Dari perspektif evolusi, perempuan mampu menentukan siapa yang lebih mengancam, tidak dapat dipercaya, atau bahwa keselamatan fisik dan psikologis kami berisiko," lanjut Brewer.

Selanjutnya dia ingin menguji hipotesis ini pada perempuan yang pernah mengalami hubungan buruk, karena pasangannya mengidap narsisme atau sifat psikopat. "Pasti menarik sekali untuk melihat apakah perempuan yang pernah melalui hubungan buruk akan lebih sensitif terhadap wajah-wajah yang mengindikasikan sifat narsis atau psikopat."

Tentunya ada efek negatif dari kesimpulan penelitian ini. Kalau kamu sampai ketanggor cowok brengsek pas mampir ke bar, dan pertemuan itu malah berlanjut jadi rangkaian kencan yang bikin kamu patah hati, maka alkohol tidak bisa lagi jadi kambing hitam. Nasib buruk itu muncul semata akibat ketidakmampuanmu menilai karakter wajah laki-laki. Duh…

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly