Dunia Kerja

Kaum Introvert Ternyata Lihai Menilai Kemampuan dan Profesionalitas Orang Lain

Buku Karen Wickre menjelaskan alasan orang introvert lebih sensitif terhadap kebutuhan, keinginan, rahasia, dan kekhawatiran orang lain—dan sifat ini berperan penting dalam dunia kerja.
29.11.18
Introvert ternyata paling jago melakoni networking
Foto kiri dari Touchstone Books. Foto kanan dari Getty Images / Britt Erlanson

Buku Susan Cain berjudul Quiet memberi kita pergertian baru terhadap cara para introvert menjalani kehidupan dan pekerjaan mereka. Buku itu sekaligus membahas keuntungan-keuntungan menjadi seorang introvert dan mengenal seorang introvert. Mungkinkah ada introvert yang jago networking—enggak salah tuh? Aku mengusulkan beberapa ciri-ciri penting yang dikuasai para introvert: rasa ingin tahu; kemampuan pengamatan, dan kemampuan mendengarkan orang lain. Semua ciri-ciri tadi merupakan keahlian yang bisa membantumu memiliki hubungan tulus dengan orang lain.

Iklan

Intorvert sebetulnya senang menjadi pemimpin, yang tidak pernah mau makan sendirian, atau yang lagi sibuk beraksi terkadang ketinggalan kesempatan untuk mempelajari lebih banyak tentang orang lain—dan mempengaruhi kemampuan mereka untuk benar-benar berhubungan. Superpower introvert berguna ketika kamu bertemu dengan orang yang kamu tidak kenal, atau belum kenal dengan baik. Keuntungannya banyak: ide-ide baru, petunjuk untuk pekerjaan baru atau peluang lain, hubungan kreatif, dan pertemanan. Semua mulai dengan bersikap terbuka terhadap semua kemungkinan.

Simak di bawah kutipan eksklusif dari bukuku yang akan segera diterbitkan, "Taking the Work Out of Networking: An Introvert’s Guide to Making Connections That Count", membahas mengapa para introvert bisa membuat hubungan profesional yang lebih bermakna dibandingkan orang lain.


Ide bahwa kamu harus selalu “hidup” untuk melakukan networking—bersalaman dengan setiap orang dan memukau setiap orang (selama semenit, lah)—adalah sesuatu yang kita pikir dilakukan para ekstrovert dengan baik, dan tidak oleh para introvert. Tapi dalam hal membuat hubungan, mungkin saja introvert lebih diuntungkan. Kamu tidak perlu mengubah dirimu atau merumuskan persona palsu demi bertemu dengan orang lain.

Mari kita membahas apa arti sebenarnya “introvert.” Pada tahun 1920-an, psikolog asal Swiss carl Jung mengembangkan teori mengenai tipe-tipe psikologis, dan menyatakan “Setiap orang tampaknya entah mendapat energi dari eksternal (extraversi) atau dari internal (introversi).” Urban Dictionary lalu meluaskan ide itu: “Bertentangan dengan kepercayaan populer, enggak semua introvert malu-malu. Ada yang kehidupan sosialnya sehat banget dan mereka senang ngobrol sama teman, tapi mereka butuh waktu sendirian untuk mengisi ulang energi ’ (recharge) setelah itu."

Recharging itu penting. Seperti yang diyakini Jung, para ekstrovert cenderung mendapat energi energi dari acara sosial besar—sebuah pesta, pertandingan, konser, pindah dari satu acara sosial ke yang lainnya. Kita yang berada di ujung spektrum yang berlawanan membutuhkan waktu untuk diri kita sendiri, untuk berpikir, berencana, dan bermimpi. Aku yakin bukan hanya aku yang suka menghitung waktu di kepala sampai aku boleh meninggalkan sebuah acara sosial. Walaupun aku menikmati waktuku di sebuah acara, aku selalu tidak sabar pulang.

Iklan

Satu lagi ciri-ciri seorang introvert adalah kemampuan untuk merasa nyaman menjadi pendiam, yang terkadang disalahpahami orang lain. Sebagai remaja yang doyan mikir dan introspektif, aku suka mengamati dan menguping percakapan orang dewasa. Waktu orang tuaku mengundang tamu ke rumah, aku terkesan oleh suara rendah mereka ketika membahas soal masalah-masalah yang dialami teman-teman mereka. Tidak ada yang dibahas di meja makan, pastinya, yang membuatku sadar bahwa pengalaman kemanusiaan itu lebih dalam daripada yang diperlihatkan formalitas kesopanan. Aku mulai merasa kayak antropolog—si orang luar yang meneliti sebuah kelompok sosial, tapi tidak bergabung dengan mereka.

Aku yakin semua ciri-ciri yang dimiliki para introvert—merasa kayak orang luar, menjadi pengamat, rasa ingin tahu tentang cerita dan situasi orang lain—telah membantuku menjalani kehidupan. (Seperti yang dijelaskan sebuah penelitian akademik, “Seorang introvert yang menjadi pendiam dalam kelompok pertemanan mungkin saja sangat terlibat dalam interaksi sosial tersebut—meresapi percakapan, memikirkan apa yang sedang dikatakan, menunggu gilirannya untuk berbicara.”) Menurutku, kemampuan untuk mengamati dan mengevaluasi merupakan kualitas terbaikku, dan mungkin begitu juga dengan kamu. Apakah kamu malu, rendah hati, tidak menonjolkan diri, memiliki kegelisahan, atau tidak suka sama stereotip networking, aku ingin mendorong kamu untuk memanfaatkan gaya pribadimu untuk membangun kepercayaan dalam otakmu sendiri—untuk mulai dengan situasimu yang sekarang.

Iklan

Teoriku adalah bahwa introvert (dan orang sederhana lainnya) cocok membangun jaringan hubungan yang kuat akibat karakteristik-karakteristik khusus yang kita punya, misalnya:

Sosok Introvert Adalah Pendengar yang Baik

Saat aku bertemu dengan seseorang pertama kalinya, membuat mereka bicara duluan adalah permainan bagiku—membuat mereka berbagi informasi pribadi lebih banyak daripada aku. Mungkin ini terdengar tidak ramah, tapi ini memberiku peluang untuk mengevaluasi mereka dan kemampuanku untuk mempercayai mereka. Kalau perasaanku baik, aku berbagi lebih banyak tentang diriku (sedikit). Taktik ini penting: bertanya dulu. Kamu akan belajar menyortir seberapa banyak kamu ingin berinteraksi dengan seseorang yang berbicara denganmu (atau padamu). Di sini lebih penting menggunakan keterampilanmu untuk mendengarkan orang lain, dan tidak melompat ke dalam percakapan. Sesudah kamu mendengarkan, kamu bisa memilih seberapa jauh kamu ingin berbicara.

Kami Pengamat Situasi yang Jeli

Walaupun merasa kayak orang luar tampaknya bisa mengisolasi kita, fakta bahwa kamu tidak memakan ruang sosial yang banyak (kayak teman-teman ekstrovert kita) membiarkan orang lain kesempatan untuk mengungkapkan diri mereka sembari kamu menyerap informasi itu. Sepanjang hidupku aku terbiasa mengamati orang lain—apa saja yang aku bisa simpulkan tentang seseorang setelah bertemu dengan mereka atau duduk di hadapan mereka di kereta? Siapa saja yang bersemangat, yakin dengan dirinya sendiri, marah, depresi—dan kenapa? Saat aku bertemu dengan seseorang, aku cenderung mengingat beberapa hal tentang mereka—hobi mereka, kota asal, gaya pribadi, di mana mereka kuliah—yang membantuku mendekati seseorang. Dan bakat ini sangat menguntungkan untuk berkoneksi dengan seseorang. Kamu memasukkan dirimu ke dalam pola pikir orang lain, yang membuat mereka merasa lebih lega dan membuat pertemuan itu lebih berarti.

Kami Selalu Penasaran Sama Hal Baru

Saat kamu merasa kayak orang luar, kamu menyangka semua orang lain sudah paham hidup ini—berkoneksi dengan orang lain, membuat keputusan, mengejar tujuan tertentu—tidak seperti kamu. Pengamat tajam cenderung memanfaatkan bakat observasi ini. Sebagai anak pendiam, aku dulu selalu penasaran bagaimana orang lain menavigasi diri dalam dunia, terutama bagaimana mereka terlihat beradaptasi dengan masyarakat, sementara saya kesulitan. (Semacam berkat bagiku ketika sudah dewasa: Kamu sadar tidak begitu banyak orang merasa dirinya cocok dengan masyarakat luas.)

Aku pikir introvert lebih sensitif dengan pola kebutuhan, keinginan, rahasia, dan kekhawatiran yang dialami banyak orang. Kesadaran ini mendukung pengertian kita akan orang lain dan ini hal yang baik.

Iklan

Ini membantu kita berpikir lebih luas (dan lebih pintar) tentang siapa yang paling cocok untuk mengisi posisi tertentu, atau siapa orang yang cocok untuk mengkritik CV-mu; untuk menjadi pelaksana wasiatmu; teman yang cocok untuk pergi menonton film action atau pergi ke bar; orang yang paling cocok untuk membantumu dengan idemu bisnis—dan ribuan hal lain. Kamu pasti sudah mempunyai ide siapa yang kamu inginkan untuk hal-hal ini, melalui rekomendasi teman atau pengalamanmu. Bakat ini juga berfungsi ketika kamu menerapkannya dalam lingkup yang lebih luas yang dapat membantumu dengan keputusan-keputusan yang kamu harus buat dalam karier, dan tentunya dalam kehidupan.

Kombinasi introversi dan pengamatan adalah kemampuan yang luar biasa: seni mengevaluasi orang. Kita bisa merasakan ciri-ciri orang dengan relatif cepat: apakah mereka membutuhkan perhatian, sombong, gugup? Apakah mereka orang yang stabil, penasaran, punya selera humor yang baik? Merasakan ciri-ciri seperti ini berarti kamu sudah mengerti dengan baik tentang apa yang kamu harus tanyakan atau harapkan dari orang yang kamu temui—itulah bakat yang berguna untuk membangun jaringan kontakmu.


Nukilan buku ini dimuat dari Taking the Work Out of Networking: An Introvert’s Guide to Making Connections That Count , seizin penerbit Touchstone Books, Simon & Schuster.

Follow Karen Wickre di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di FREE