magic mushrooms

Sejumlah Ilmuwan Ingin Magic Mushroom Resmi Dijadikan Obat Buat Depresi

Masih susah mengklasifikasi ulang 'jamur tahi' keluar dari substansi berbahaya yang dianggap bisa mencelakakan. Diperkirakan magic mushroom baru diakui secara medis tiga sampai sepuluh tahun lagi.
2.10.18
Foto ilustrasi: Shutterstock 

Periset di Johns Hopkins University, Amerika Serikat, menilai sekarang sudah waktunya kita mengubah klasifikasi 'magic mushroom' bukan lagi sebagai narkotika berbahaya tanpa nilai medis sedikitpun. Jamur yang memicu halusinasi itu dianggap cocok menjadi salah satu pilihan mengatasi depresi.

Sedari dekade 1970'an, pihak berwenang di AS mengklasifikasikan psilocybin alias magic mushroom sebagai narkotika kelas Schedule I. Artinya, magic mushroom sangat berpotensi disalahgunakan dan kegunaan medisnya nyaris nihil. Menurut para peneliti—yang tentunya sudah kenyang melakukan penelitian terhadap segala macam jamur—kedua anggapan itu tak memiliki dasar sedikitpun.

Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam jurnal Neuropharmacology edisi Oktober ini, empat peneliti —Matthew Johnson, Roland Griffiths, Peter Hendricks, dan Jack Henningfield—mengusulkan bahwa sudah saatnya Food and Drug Administration mengubah klasifikasi magic mushroom dari Schedule I menjadi Schedule IV. Dengan demikian, para peneliti ini menganggap magic mushroom berpotensi rendah untuk disalahgunakan dan tak bikin ketagihan. Jika permintaan para peneliti dituruti, dokter-dokter di AS, disusul negara lain, bisa mulai meresepkan magic mushroom untuk pasien depresi pada kondisi-kondisi tertentu.

Ruangan di Johns Hopkins University ini dipakai untuk terapi magic mushroom. Foto: Matthew Johnson

Sejumlah peneliti telah berhasil menggunakan psilocybin untuk mengatasi depresi dan adiksi dalam serangkaian percobaan klinis beberapa tahun terakhir ini. Dalam sebuah penelitian yang dilangsungkan pada 2016 lalu, tim peneliti yang sama dari Johns Hopkins University meresepkan magic mushroom bagi pasien kanker stadium akhir guna mengatasi depresi dan segala macam keresahan di akhir hidup mereka.

"Penelitian menunjukkan penggunaan klinis psilocybin mengurangi gejala depresi dan keresahan secara signifikan setelah diresepkan selama enam bulan," seperti dikutip dari kesimpulan penelitian tersebut.

Iklan

Makalah setebal 24 halaman yang diajukan oleh empat peneliti di Johns Hopkins juga menyertakan informasi tentang penelitian lain terhadap magic mushroom yang dianggap perlu diketahui pihak FDA. Harapannya, setelah membaca makalah tersebut FDA berkenan mengubah klasifikasi magic mushroom.

Dalam proses penentuan klasifikasi sebuah substansi, pihak berwenang di Amerika Serikat harus mempertimbangkan delapan faktor berbeda termasuk potensi riil dan relatif penyalahgunaan, risiko bagi kesehatan umum dan kecenderungan kecanduan psikis serta psikologis.

Magic mushroom tergolong lebih aman jika dibandingkan dengan narkoba dan obat-obatan terlarang jenis apapun. Psilocybin berada di urutan paling bontot dalam hal risiko kesehatan yang ditanggung penggunanya. "Magic mushroom bahkan jauh lebih aman jika dibandingkan dengan alkohol dan tembakau sekalipun," kata Johnson, pemegang gelar doktor bidang behavioral science di Johns Hopkins University, lewat sambungan telepon.

Johnson juga menjelaskan bahwa potensi penyalahgunaan psilocybin rendah. "Tak ada satupun orang yang sakau karena menggunakan magic mushroom." Ini tidak berarti magic mushroom tak punya potensi penyalahgunaan sama sekali.


Tonton dokumenter VICE mengenai terobosan terapi depresi tak lazim memakai ketamine:


Pada praktiknya, magic mushroom sudah digunakan untuk mabuk sejak beberapa dekade lalu, dan kebiasaan ini tak akan hilang dalam waktu dekat. Bedanya dengan kokain atau heroin, magic mushroom tak bikin pengonsumsinya terus-terus pengin menghabiskan malam dan akhir pekannya dengan mabuk magic mushroom.

"Potensi berbahaya dari magic mushroom meliputi perilaku berbahaya magic mushroom pemula dan tak diiringi pendamping, eksaserbasi gangguan mental pada pengguna yang sebelumnya sudah mengidap gangguan psikotik," seperti yang dikutip dari laporan peneliti dari Johns Hopkins. "Namun, cakupan penggunaan dan potensi berbahaya psilocybin masih lebih rendah dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang pada umumnya."

Iklan

Johnson lantas memberi contoh cerita-cerita tentang orang-orang yang teler halusinogen dan akhirnya jatuh dari atap rumah karena merasa benar-benar bisa terbang. Namun, dia lekas menggarisbawahi kasus macam ini sebenarnya bisa dihitung dengan jari. "Orang yang jatuh dari ketinggian gara-gara alkohol lebih banyak lagi…dengan atau tanpa pengaruh apapun, kenyataan orang bisa jatuh dari atap kok."

Sejauh ini, peneliti telah berhasil menggunakan magic mushroom sebagai obat dalam kondisi yang terkontrol—maksudnya dosisnya benar-benar diatur dan magic mushroom hanya diberikan oleh tenaga medis di bawah bimbingan psikolog dan terapis. Serta jangan lupa. Ada tujuan spesifik dari setiap percobaan klinis magic mushroom.

Dalam kasus penderita kanker, penderita kanker dibiarkan mabuk dengan magic mushroom untuk menguatkan diri mereka sebelum kematian datang. Jadi, jelas bukan teler ala hippies di tengah hutan yang sunyi.

Penelitian juga merupakan langkah besar dalam sebuah proses yang panjang. Penderita depresi tentu belum bisa datang klinik dan minta diresepkan magic mushroom dalam beberapa tahun atau satu dekade mendatang. Menurut Johnson proses klasifikasi ulang bisa memakan waktu "tiga sampai sepuluh tahun." Sepanjang kurun waktu itu, segala macam penelitian yang belum dilakukan atau masih dalam fase awal harus dibereskan. Pun, hasilnya mesti konsisten dan mendukung pentingnya klasifikasi ulang.

Bahkan, jalan menuju klasifikasi ulang tak akan mudah. "Pencabutan magic mushroom dari kategori Schedule 1 hanya bisa terjadi jika produk medis yang mengandung substansi Schedule 1 diizinkan digunakan sebagai obat-obatan oleh FDA," menurut para peneliti. Maksudnya, harus ada pihak ketiga yang memproduksi psilocybin sebagai obat, menyerahkannya ke BPOM-nya AS itu agar bersedia melakukan klasifikasi ulang.

Prosesnya terkesan merepotkan, tapi Johnson yakin perjuangan para ilmuwan akan membuahkan hasil. "Pemakaian magic mushroom untuk terapi gangguan kejiwaan akan jadi cabang ilmu pengetahuan yang progresif dan hasilnya cukup menjanjikan mengobati sejumlah gangguan mental," tukas Johnson.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard