Ngobrol Bersama Perra Vida, Band Hardcore Punk Feminis di Peru yang Gigih Melawan Diskriminasi
Semua foto dari arsip band.

FYI.

This story is over 5 years old.

Band Keren Perlu Kalian Tahu

Ngobrol Bersama Perra Vida, Band Hardcore Punk Feminis di Peru yang Gigih Melawan Diskriminasi

"Pembunuhan perempuan, pemerkosaan dan eksploitasi seksual tergolong tinggi di Peru. Kadang kamu pengin nyerah dan nangis. Tapi, kenyataan ini juga memacu kamu untuk ngelakuin sesuatu."

Punk belum mati dan Perra Vida adalah buktinya. Band hardcore feminis asal Lima—yang namanya berarti "Hidup yang Sundal"—menjaga api genre bengal itu tetap menyala di Peru. Perra Vida mewarisi sound punk ‘80an yang pernah dipopulerkan oleh band-band seperti Narcosis, Leuzemia, Kaos dan G3.

Musik punk yang diusung Perra Vida adalah jenis punk yang digemari segelintir pecinta genre ini dan dipengaruhi masa lalu Peru yang penuh kediktatoran bengis dan terorisme serta tumbuh di bawah bayang-bayang pemerintahan Alberto Fujimori. Di samping semua pengaruh itu, inspirasi utama Perra Vida adalah semangat pembangkangan, setidaknya begitu menurut para anggotanya yang terdiri dari Diana (vokal), Noelia (bass), Alejandro (gitar), dan José (drum).

Iklan

"Enggak banyak cewek di kancah punk Peru. Di setiap gig punk, 80 persen yang datang pasti cowok dan 20 persen lebihnya adalah cewek pacar anak band yang main," kata José. "[Perra Vida] lahir dari ide untuk melakukan sesuatu yang lain dan mencoba tampil beda dengan band-band lainnya. Punya suara perempuan dalam band kami adalah suatu yang perlu dilakukan dalam konteks kehidupan perempuan di Peru."

Seluruh personel Perra Vida berpose bersama.

Peru seperti tak pernah beres dilanda skandal korupsi dan rentetan kasus korupsi besar ini berimbas pada kehidupan masyarakat di Peru. Mengacu pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Thomson Reuters Foundation pada 2017, Ibu Kota Lima berada di urutan kelima daftar kota paling berbahaya bagi perempuan sejagat.

"Seperti yang lazim terjadi di banyak negara Amerika Latin, perempuan di Peru juga kerap jadi korban pembunuhan. Kasus pembunuhan perempuan, pemerkosaan dan eksploitasi seksual—serta berbagai hal mengerikan lainnya—tergolong tinggi di Peru. ini bikin kamu pengin nyerah dan nangis. Tapi, kenyataan ini juga memacu kamu untuk ngelakuin sesuatu," ujar Diana, penulis lirik di Perra Vida. "Kami berencana menyumbangkan uang yang kami dapat dari pesta launching EP kami kepada Asamblea de Mujeres y Diversidades del Perú (Majelis Keberagaman dan Perempuan Peru), dan kami juga punya rencana menggelar lebih banyak gig amal lagi. Selain itu, kami akan memainkan lagu-lagu yang menyerang machoisme, pelaku pelecehan seksual, pendeta-pendeta pedofil dan sejenisnya."

Iklan

Lirik-lirik inilah yang menjelaskan mengapa Perra Vida—yang mengaku banyak dipengaruhi band-band hardcore Negeri Paman Sam seperti G.L.O.S.S. dan Limp Wrist—menginspirasi ribuan perempuan Peru—mirip seperti yang dilakukan oleh band-band Riot Grrrls pada dekade ‘90an.

"Kamu dari awal sudah mencoba tampil dengan band-band yang ada di Lima. Dan cari kami melakukannya—selain dengan menjadi band yang separuh anggotanya perempuan—adalah dengan memainkan lagu yang liriknya harus diteriakkan," kata Diana. "Skena rock di Lime didominasi laki-laki sementara skena mainstream Peru sebagian besar isinya band pop-punk doang. Parahnya lagi, lirik-lirik band ini enggak membantu perjuangan perempuan Peru sama sekali."

Nyali untuk jadi band liyan inilah yang menyebabkan EP perdana Perra Vida disambut dengan hangat di dalam dan di luar Peru. Lagu-lagu semisal "Acoso (Harassment)" menarik bagi semua pecinta musik yang mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang perempuan. Daya tarik utama lagu ini terletak pada liriknya: "No mister, I don't trust you, you don't see me with respect / Harassment on the streets, harassment in our homes, harassment in our school, harassment at a show / I want to be free, that's my right." Keras!

Pun, pesan yang diusung oleh Perra Vida sampai ke Amerika. Dalam waktu dekat En Tu Kara Records, sebuah label asal California, sedianya akan merilis 300 buah EP pertama Perru Vida.

Iklan

"Respons seperti ini memotivasi kami untuk terus meneriakkan apa yang kami rasakan dan apa yang bikin kami keki dari hari ke hari. Ini juga bikin kami pede untuk menunjukkan bahwa punk belum kelar di Peru—dan bahwa punk masih relevan dan kami enggak omdo," ungkap José.

Album mini perdana Perra Vida sejatinya merupakan ajakan lantang yang mendorong perempuan di Peru untuk mengklaim tempat mereka di masyarakat Peru. ke depannya, Perra Vida berencana merilis panjang dan, mungkin, sebuah split. Mereka juga tengah mencari celah untuk menggelar tur di Amerika Serikat—asalkan semua anggotanya berhasil mendapatkan visa—dan Amerika Utara.

Lazimnya band-band dalam skena punk, anggota Perra Vida juga tergabung dalam band-band lainnya seperti Alias la Gringa, The Underground Parties, Kusama dan Venganza!. Kesibukan masing-masing anggota Perra Vida ini memang bukan kendala. Malah, masing-masing personil band ini berniat menggunakan pengalaman bermain di band lain untuk mempersolid perjuangan Perra Vida.

"Punk enggak punya aturan, tapi bikin aturan untuk dirimu sendiri sebenarnya lebih nge-punk lagi," kata José. "Kalau peraturan itu berjalan dengan baik, ya bagus—yang lainnya udah enggak penting lagi."

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey en Español.