Fanatisme K-Pop

Bisakah Fans K-Pop di Indonesia Berhenti 'Bela Oppa' Sampai Titik Darah Penghabisan?

Acara kumpul fans di Jakarta dukung Seungri yang tersandung skandal memicu kecaman penggemar internasional, sampai mucul surat permohonan maaf terbuka. Kita wajib lebih sering membahas isu ini.
21 Maret 2019, 11:55am
Seungri dari BigBang
Seungri saat menjalani pemeriksaan di kantor polisi Seoul. Foto oleh Kim Hong-ji/Reuters

Lebih dari 200 orang berkumpul di Livespace, venue di kawasan pusat bisnis Sudirman, Jakarta, Minggu 17 Maret lalu. Mereka berkumpul mengungkapkan solidaritas bagi Lee Seung-hyun, lebih dikenal lewat julukan Seungri mantan anggota BIGBANG, salah satu boyband paling sukses sepanjang sejarah Korea Selatan. Seungri sedang tersangkut skandal paling menghebohkan kancah K-Pop.

Penggemar berat Seungri di Indonesia sendiri awalnya berkumpul demi meratapi konsernya terpaksa dibatalkan akibat dugaan kasus skandal narkotika dan bisnis prostitusi—yang ramai diliput media sejak dua pekan lalu. Seungri sedang menjalani rangkaian investigasi kepolisian Negeri Ginseng. Akibat skandal ini, lewat instagramnya Seungri memutuskan mundur dari dunia hiburan dan meninggalkan rumah produksi YG entertainment.

Di sela skandal yang menyeret banyak petinggi dunia hiburan itu, sebagian penggemar berat Seungri di Indonesia berkumpul di tempat semestinya Seungri mengadakan konser. Mereka bangga melakukannya, karena itu tanda setia dengan idola di saat-saat sulit dalam hidup Seungri.

Ketika aksi kumpul-kumpul dan pembuktian dukungan pada Seungri tadi diunggah ke media sosial, reaksi keras diungkapkan netizen asal Korea Selatan. Kebanyakan dari mereka heran, "kok mereka masih aja pada dukung Seungri di tengah tudingan skandal serius ini?"

Pertanyaan tadi berubah jadi kecaman selama tiga hari belakangan.

Gara-gara serangan masif dari netizen Korea dan banyak negara lain, Indonesian Seungri Fans melayangkan surat permohonan maaf terbuka, seperti dilaporkan platform penggemar Hallyu berbahasa Inggris KStarLive. Dalam surat tersebut, penggemar Seungri di Indonesia menyatakan acara “kumpul-kumpul” pada 17 Maret lalu sekadar cara mereka memberi dukungan agar Seungri tabah menghadapi seluruh proses investigasi, tanpa bermaksud mengecilkan apa yang dialami korban dalam skandal ini.

Militansi penggemar K-Pop di Indonesia merupakan salah satu kajian banyak pengamat budaya pop Korea. Sejak pesatnya perkembangan fenomena Korean Wave alias Hallyu sejak 2010, negara dengan populasi lebih dari 250 juta jiwa ini merupakan pasar K-pop terbesar Asia Tenggara. Tak heran basis penggemar BIGBANG di Tanah Air menjadi salah satu yang paling besar secara global.

Fanatisme ini, berdasarkan pantauan kontributor VICE Haemotion, jadi cukup destruktif. Fandom K-Pop sering mendukung buta, yang dia sebut sebagai, "budaya siap bela Oppa sampai titik darah penghabisan."

Kritikan keras dari sesama fans K-Pop terhadap dukungan penggemar Seungri di Indonesia, membuka kembali perbincangan penting berikut: pentingkah kehidupan pribadi artis dipisahkan dari pilihan sadar kita menikmati karyanya?

Rupanya tak semua fans K-pop lokal bersikap fanatik membabibuta. Salah satu penggemar, Berlian ‘Bere’, mengaku sejak kasus Seungri heboh langsung menghapus lagu-lagu BIGBANG dari playlist Apple music-nya.

"We shouldn't separate artists and their works. Ini enggak cuma berlaku untuk kasus Seungri saja. Misalnya, aku pribadi sudah menolak menonton film sutradara Woody Allen [yang terlibat dugaan pelecehan seksual-red_]," kata Berlian kepada VICE. "Kasus Seungri ini menurut aku unik. Karena ini melibatkan korupsi. _So it's way bigger than it looks on the outside. Aku lumayan kesal dan malu dengan fans internasional, termasuk Indonesia, yang masih mendukung Seungri."

"Malu-maluin banget yang masih support Seungri. Memang banyak orang yang melakukan kesalahan barengan sama dia di kasus ini, but that doesn’t make him less of a criminal. He doesn’t deserve support especially from women," kata penggemar K-pop lainnya, Putri Ruthia, kepada VICE. "Terserah orang sih masih mau menikmati karya dia apa enggak, tapi ngapain juga masih dukung karya-karya dia."

Apa yang dilakukan Berlian dan Putri sedikit berbeda dengan pendapat penggemar K-Pop lainnya, Oktafiana. Baginya keputusan terus menikmati karya pop macam itu tak harus terkait dengan kepribadian atau sikap personal sang artis.

"Personal sama karya harus dibedain sih menurutku, selama karyanya tidak mendorong atau mengajak penggemarnya buat ikutan ke perilaku dia yang buruk, silahkan tetap mendukung dan memberikan support untuk karya yang selama ini telah dia buat," kata Oktafiana kepada VICE. "Tetapi public figure kan pasti jadi contoh buat penggemarnya, alangkah baiknya pula karya dia yang baik diiringi perilaku yang bisa dicontoh oleh banyak orang."

Fandom Indonesia sayangnya punya rekam buruk untuk lebih percaya pada idola dibanding korban pelecehan seksual. Penggemar Lee Jin Wook di Tanah Air, yang juga tersangkut dugaan pemerkosaan, sebagian besar menganggap idolanya tak bersalah.

Begitu pula untuk skandal yang membelit Park Yoo-chun, mantan anggota boyband TVXQ. Yoochun, panggilannya, dilaporkan dalam lima kasus dugaan pelecehan dan kekerasan seksual sekaligus. Kasusnya sendiri mulai sejak 2016. Tapi fanbase di Indonesia paling banter hanya menyayangkan perilaku musisi idola tersebut.

Haemotion sebagai salah satu influencer K-Pop di Indonesia, menyodorkan tawaran menarik yang harusnya perlu lebih sering kita perdebatan lagi. "Saya ingin kawan-kawan saya, sesama penggemar budaya pop Korea, tak hanya memikirkan nasib idolanya saja saat diserang kasus, namun juga nasib sang perempuan yang menjadi korban. Butuh segunung keberanian melaporkannya."

Jadi, apakah fandom K-Pop siap untuk tidak bela oppa sampai titik darah penghabisan?