Standar Kecantikan

Kecantikan Dianggap Hak Asasi, Pemerintah Brasil Beri Anggaran Operasi Plastik Bagi Warga

Setiap tahun, pemerintah Brasil akan memberi subsidi asuransi bagi warganya yang ingin operasi plastik untuk kecantikan. Tertarik pindah jadi warga negara sana?
7.5.18
Foto oleh Douglas Magno/Getty Images

Kalau kamu tinggal di Indonesia, kamu tidak bisa pakai asuransi kesehatan untuk operasi plastik kosmetik. Kamu harus menanggung sendiri biayanya. Di Indonesia, asuransi untuk operasi plastik hanya akan diberikan jika memang dibutuhkan untuk kesehatan.

Sedangkan di Brasil, penduduknya berhak memperbaiki penampilan fisiknya untuk jadi cantik. Di rumah sakit umum, bedah plastik biayanya sangat murah. Mereka bahkan bisa operasi gratis! Negara mensubsidi hampir setengah juta operasi plastik setiap tahun.

Iklan

Sebagai ahli antropologi kesehatan, saya bertahun-tahun mendalami praktik operasi plastik di Brasil. Meskipun banyak dari mereka yang merasa beruntung karena dibiayai operasi plastik, praktik ini juga punya sisi gelapnya.

Semua responden yang saya wawancarai mengakui kalau operasi plastik sangat berisiko. Banyak pasien yang memberi tahu kalau biayanya bisa murah karena mereka jadi “kelinci percobaan” bagi ahli bedah.

Tapi, di sisi lain, mereka (terutama perempuan) juga mengatakan kalau hidup di Brasil akan jauh lebih sulit jika tidak cantik. Kecantikan sangat penting dalam mencari pekerjaan, menemukan pasangan, dan meningkatkan standar hidup. Mau tidak mau mereka harus operasi plastik.

Antrian panjang untuk operasi plastik—kadang bisa sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun—menunjukkan kalau mereka sangat ingin cantik. Ini membuat Brasil menjadi negara konsumen operasi plastik terbesar kedua di dunia, dengan dengan jumlah 1,2 juta praktik operasi yang dilakukan setiap tahun..

Pemerintah Brasil mulai menganggap hidup sehat adalah hak asasi manusia, dan memberikan jaminan kesehatan gratis bagi seluruh penduduknya. Kemajuan besar ini terjadi setelah jatuhnya pemimpin diktator Brasil dan konstitusi demokratis terbaru disahkan secara hukum pada 1988. Akan tetapi, rumah sakit umum masih kekurangan dana, dan kebanyakan orang Brasil dari kalangan kelas menengah dan atas lebih menyukai pelayanan dari rumah sakit swasta.

Iklan

Karenanya, fasilitas kesehatan Brasil terbagi menjadi sistem dua tingkat. Rumah sakit swasta menyediakan sarana yang mutakhir, dan rumah sakit umum yang kekurangan dana tapi harus menyediakan layanan utama bagi working class.

Operasi plastik dianggap penting berkat ahli bedah bernama Ivo Pitanguy. Pada akhir 1950-an, Pitanguy— yang dijuluki sebagai “ahlinya bedah plastik”—berhasil meyakinkan Presiden Juscelino Kubitschek kalau “hak untuk cantik” termasuk sebagai HAM dasar. Pitanguy membuat studi kasus yang menyatakan bahwa menjadi jelek bisa menyebabkan kesengsaraan psikologis di Brasil sehingga bidang kesehatan tidak bisa mengabaikan masalah ini.

Pada 1960, dia membuka lembaga pertama yang menawarkan operasi plastik kepada orang miskin. Lembaga ini juga bisa digunakan sebagai tempat latihan ahli bedah baru. Lembaga ini sangat sukses sampai-sampai dijadikan model pendidikan bagi mahasiswa spesialis bedah di Brasil. Pasien yang berasal dari working class bisa operasi plastik dengan murah atau gratis, tapi mereka dijadikan bahan percobaan bagi ahli bedah.

Brasil adalah tempat pengujian sempurna untuk ini. Pada awal 1920an, para ilmuwan eugenetik Brasil mengatakan bahwa kecantikan adalah ukuran kemajuan rasial suatu bangsa. Budaya semakin bergantung pada kecantikan, dan ahli bedah plastik melancarkan praktiknya. Mereka bertugas untuk “memperbaiki” kekurangan fisik yang berasal dari ciri khas ras di Brazil, terutama bagi kalangan kelas bawah. Dalam buku saya yang baru saja terbit, The Biopolitics of Beauty , saya mempertanyakan apakah humanitarianisme menjadi alasan operasi plastik diterapkan di rumah sakit umum di Brasil.

Iklan

Korban luka bakar dan orang dengan cacat bawaan dulunya menjadi pasien prioritas di rumah sakit tersebut. Tetapi di banyak rumah sakit yang saya jadikan objek penelitian, hampir 95 persen dari praktik operasi plastik sekarang murni untuk kecantikan. Saya mendokumentasikan ratusan kejadian di mana ahli bedah dan pasien dengan sengaja mengaburkan batasan antara kepentingan kesehatan dan kecantikan agar disetujui oleh pemerintah.

Karena sebagian besar operasi di rumah sakit umum dilakukan oleh mahasiswa spesialis bedah, mereka tertarik mempelajari operasi plastik kosmetik - keterampilan yang nantinya dapat mereka jual ke masyarakat ketika membuka praktik pribadi. Jarang ada mahasiswa yang tertarik mempelajari prosedur operasi plastik untuk perbaikan (rekonstruktif) yang bisa meningkatkan fungsi tubuh atau mengurangi cacat fisik.

Selain itu, sebagian besar inovasi bedah plastik di Brasil pertama kali diuji oleh ahli bedah plastik di rumah sakit umum. Pasien dari working class risikonya lebih besar daripada yang berasal dari kelas atas. Mereka dijadikan kelinci percobaan. Beberapa dari responden saya mengatakan bahwa mereka kecewa dengan hasil operasinya.

Contohnya saja Renata. Hasil operasi payudaranya berantakan. Payudaranya cacat dan putingnya tidak rata. Dia juga mengalami infeksi parah yang penyembuhannya butuh waktu berbulan-bulan. Infeksi ini cuma meninggalkan luka yang sangat tampak. Dia tadinya ingin menuntut ahli bedahnya, tapi dia mengurungkan niatnya karena tidak mampu kalau harus menjalani evaluasi dokter spesialis yang mahal. Selain itu, sangat tidak mungkin bagi sistem hukum Brasil untuk memberikan ganti rugi kepadanya. Pada akhirnya, dia menyetujui untuk melakukan operasi plastik gratis yang dia harap hasilnya bisa jauh lebih baik.

Hal serupa sering terjadi pada pasien berpenghasilan rendah. Mereka merasa sangat dirugikan oleh ahli bedah plastik. Mereka tidak bisa mendapatkan keadilan karena kurangnya biaya. Akibatnya mereka harus menanggung semua risikonya.

Di sisi lain, dokter bedah plastik selalu ingin mencoba cara baru yang sekiranya menjanjikan, tidak peduli betapa riskan caranya. Misalnya, metode yang dikenal sebagai “bioplastia”. Dalam metode ini, ahli bedah akan menyuntikkan senyawa cair bernama PMMA ke dalam tubuh agar bisa mengubah bentuk tubuh pasien secara permanen. Kebanyakan pasien tidak mendapatkan efek samping dari senyawa yang menyerupai kaca akrilik ini. Tapi, ada sejumlah kecil pasien yang mengalami komplikasi parah, termasuk nekrosis jaringan tisu. Sayangnya, saat saya mewawancarai para dokter bedah, banyak dari mereka yang membela metode tersebut. Mereka mengatakan kalau ini adalah cara fenomenal yang bisa mengubah bentuk tubuh manusia. Risiko adalah hal biasa dalam prosedur bedah apa saja.

Dokter bedah plastik Brasil dikenal sebagai yang terbaik di dunia. Mereka juga terkenal akan keberaniannya dalam melakukan metode baru. Dalam konferensi bedah plastik di Brasil, dokter bedah Amerika yang saya wawancarai mengatakan bahwa “Dokter bedah Brasil menjadi perintis dalam sektor ini karena mereka tidak memiliki batasan institusional atau hukum dalam menciptakan terobosan baru. Mereka bebas melakukan apa saja.”

Intinya, ada beberapa peraturan yang dapat melindungi hak pasien berpenghasilan rendah dari malpraktik. Sayangnya, di negara yang mementingkan penampilan, rakyat rela dijadikan kelinci percobaan agar mereka bisa tampil menarik. Tetapi itu seringnya karena terpaksa dan memiliki dampak yang sangat mengerikan.

Alvaro Jarrin adalah asisten dosen jurusan antropologi di College of the Holy Cross. Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation . Sila baca artikel aslinya di sini .