keuangan

Perlu Enggak Sih Pakai Jasa Perencana Keuangan Walau Saya Bukan Orang Tajir?

Bocoran jawabannya: kalian sebetulnya gak perlu jadi konglomerat dulu kalau pengin menerapkan nasehat perencana keuangan pribadi.
KY
ilustrasi oleh Koji Yamamoto
16 Maret 2018, 7:52am
Ilustrasi oleh Koji Yamamoto.

Artikel ini pertama kali tayang di FREE—situs baru VICE Media yang membahas berbagai isu ekonomi dan pengelolaan keuangan secara nyeleneh.

Orang kaya itu yang seperti apa, sih? Yang kita lihat selama ini biasanya mereka-mereka yang suka koleksi tas atau sepatu mahal, makan di restoran mewah, liburan naik pesawat jet pribadi, atau punya penasehat keuangan sendiri. Untuk tiga contoh pertama mungkin memang ciri-ciri orang tajir, secara segala aktivitas di atas harus merogoh kocek yang lebih dalam. Tapi, bagaimana dengan yang terakhir?

Kita yang hanya orang biasa mungkin memang tidak mampu mengikuti gaya hidup mereka yang serba mewah nan glamor. Tapi, kita tidak perlu jadi miliarder dulu untuk menggunakan jasa perencana keuangan.

Selama ini banyak yang mengira kalau jasa konsultan keuangan hanya untuk orang kaya raya saja. Padahal, menurut Helen Ngo, CFP® (Perencana Keuangan Berlisensi) dan CEO Capital Benchmark Partners, LLC, anggapan di atas adalah dampak dari penggambaran media yang terlalu berlebihan. “Media mendramatisir keuangan, terutama di film-film seperti Wolf of Wall Street, atau saat Anda melihat pengusaha kaya raya di televisi. Kenyataannya tidak seperti itu.”

Klien Ngo datang dari berbagai kalangan, yang penghasilannya mulai dari $30,000 (setara Rp412 juta) per tahun, sampai kelas konglomerat dengan aset triliunan rupiah. Dia menjelaskan bahwa perencanaan keuangan dibutuhkan oleh semua orang, tidak peduli seberapa besar penghasilannya. Apabila membutuhkan konsultan, kalian tidak melulu harus pakai jasa konsultan purnawaktu yang bayarannya tinggi. Ada banyak pilihan lain yang jauh lebih terjangkau.

Cara paling umum yang dilakukan perencana keuangan dalam memasang tarif yaitu berdasarkan Jumlah Dana Kelolaan (AUM). Mereka akan meminta bayaran berdasarkan persentase total nilai rupiah yang dimodalkan. Agar mereka tetap untung, mereka biasanya akan menetapkan besaran rekening minimum. Selama ini, kalian mungkin mengira jasa konsultan keuangan hanya untuk orang kaya raya karena perlu mengeluarkan puluhan sampai ratusan juta untuk biaya di awal.

Untungnya, tidak semua perencana dan penasehat keuangan mematok biaya semahal itu lagi sekarang. Bahkan ya, kalian tidak perlu mempekerjakan mereka setiap saat.

Ngo menyarankan untuk memakai jasa penasihat yang memasang tarif per jam bagi pemula. “Anda bisa meminta mereka untuk membantu mengatur keuangan, melacak pengeluaran, dan memberi saran perencanaan pajak. Biayanya bisa jauh lebih terjangkau, sekitar Rp500 ribu-1 jutaan, dan kalian bisa menggunakan jasa mereka kapan pun kalian butuh.”

Apabila kalian merasa biayanya masih cukup mahal, kalian bisa mempertimbangkannya bagaikan membayar jasa konseling atau legal advice. Biaya awalnya memang mahal, tetapi memakai jasa mereka bisa lebih menghemat waktu dan uang dalam jangka panjang.

Pikirkan keuangan yang kalian dapat selama ini. Apabila kalian pegawai kantoran, biasanya kalian perlu mengurus bonus atau tunjangan yang tidak kalian pahami bagaimana sistem kerjanya—meskipun sudah dijelaskan oleh orang HR. Di sinilah peran penasihat sangat diperlukan. Mereka bisa membantu kalian mengoptimalkan bonus yang kalian dapat.

“Kadang, klien tidak sadar kalau mereka sudah membayar terlalu banyak untuk memperoleh keuntungan, atau tidak memanfaatkan bonus yang mereka dapat di kantor demi efisiensi pajak dan menghemat,” kata Ngo. “Saya mengumpulkan slip gaji mereka untuk menunjukkan berapa banyak uang yang sudah mereka keluarkan.”

Tampaknya sepele, tetapi saran Ngo sangat membantu kliennya menghemat lebih banyak uang setiap bulan dan tidak membuat mereka buntung. Penasihat keuangan juga bisa membantu membentuk budget yang realistis agar kalian bisa memenuhi kebutuhan dan menghemat lebih banyak uang.

“Misal, Anda ingin menabung Rp20 juta. Keseluruhan jumlah itu tidak serta merta masuk ke tabungan dana darurat. Kami akan mempertimbangkan rencana spesifik Anda, dan mencari solusi seberapa banyak uang tersebut akan dialokasikan untuk biaya liburan, hadiah dan sumbangan.”

Ngo memiliki beberapa saran yang bisa diingat-ingat bagi kita yang penghasilannya standar.

Pertama, kalian bisa menggunakan jasa CFP bermodel fee-only, kalian bisa mencarinya di XYPN Network atau NAPFA. Kedua, kalian bisa menggunakan jasa penasihat keuangan yang memasang tarif per jam jika ingin membatasi biaya pengeluaran. Kalian bisa menggunakan jasa yang sekiranya cocok dengan keinginan kalian, dan tidak perlu malu untuk jujur kalian sanggup membayar berapa.

Lagipula, mereka pakarnya keuangan. Mereka sudah terbiasa membahas anggaran untuk mengatur keuangan kalian. Jadi, emang enggak ada salahnya deh minta nasehat soal beginian buat anak muda.


Desirae Odjick adalah penulis bidang keuangan yang menjelaskan segala hal tentang uang dengan mudah. Dia menulis bagaimana mendapatkan uang lebih tanpa perlu menjual barang kesayangan di blog -nya, Half Banked .