fobia

Saya Punya Fobia Akan Muntah dan Tak Tahu Apa yang Mesti Dilakukan

Mendengar atau melihat orang muntah membuat saya refleks menutup kuping, mata, dan kabur secepat mungkin.
24 April 2018, 11:30am
ballyscanion / Getty

Dia tidak berhenti muntah. Saat itu hampir tengah malam dan kami semua kelelahan. Saya menatap anak perempuan saya yang berusia 14 bulan, wajahnya yang mungil pucat, tubuhnya hangat karena demam. Mulutku kering—suatu gejala, pikirku, tentang ketakutan mendalam yang kumiliki tentang hal-hal yang bisa salah dengan bayiku. Suami saya akhirnya memutuskan hubungan dengan perawat untuk ketiga kalinya dan mengatakan kami harus membawanya ke ruang gawat darurat.

Dua pagi kemudian, dia menyender pada saya, tidak bisa membuka matanya. Meskipun dia dianggap hanya memiliki bakteri lambung oleh dokternya, saya sangat khawatir sampai-sampai hampir tidak dapat menahan diri untuk memanggil ambulans, meskipun kami sudah melalui UGD sekali. Kemudian dia muntah lagi dan tampak lega.

Dia terus sakit seperti ini setiap dua atau tiga bulan untuk setahun berikutnya. Saya membawanya ke dokter spesialis anak gastrointestinal, tapi semua itu tak tepat dan dokternya cuma bilang dia rentan terhadap flu lambung. Ini adalah musim yang buruk untuk anak-anak, menurut teman-teman saya yang punya anak. Nanti juga sembuh.

Tapi saya tidak sembuh-sembuh. Saya jadi punya rasa takut yang tak masuk akal terhadap muntah, dan saya tak tahu apa yang harus saya lakukan.

Saya merasa sedih bahwa putri saya harus mengalami ketidaknyamanan ini, tetapi di kepala saya, saya berjuang melawan teror terburuk yang pernah saya alami, yang membuat perut saya bengkak dan membuat saya susah tidur. Setiap dengusan dan desahan dari kamar bayi berarti potensi dia muntah. Dan kemudian saya mengatakan dengan keras kata-kata yang telah saya pikirkan selama berbulan-bulan: “Ini parah banget sampai-sampai saya berharap dapat memutar waktu dan tidak memiliki bayi.”

Tentu saja saya tidak bersungguh-sungguh. Tetapi pada saat itu saya tahu ini lebih dari apa yang dapat saya tangani sendiri. Kecemasan itu hampir terasa seperti panik. Selama satu episode, penglihatan saya menjadi hitam saat saya memegang handuk untuk putriku untuk muntah, penyakit keempatnya sejak yang pertama kali. Saya menelan Ativan yang sudah kadaluwarsa—yang tersisa dari kunjungan UGD dua tahun yang lalu—dan mulai merasakan kecemasan itu lenyap.

Saya mulai terapi pada minggu berikutnya. Saya mengunjungi seseorang yang berspesialisasi dalam kecemasan, dengan rencana untuk menemui ahli fobia nanti jika dianggap perlu. Saya tidak tahu emetophobia, istilah yang bagus untuk takut muntah, bahkan suatu hal yang sah.

Tumbuh dewasa, saya selalu panik ketika seseorang di sekitar saya muntah. Sebagai orang dewasa, mendengar atau melihat seseorang (yang bukan anak saya) muntah menyebabkan saya secara refleks menutup telinga, mata, dan kabur secepat mungkin.

Menurut Anxiety and Depression Association of America, sekalinya muntah fobia dimulai, itu dapat meningkat cukup cepat: “Selangkah demi selangkah, kamu menghindari tempat dan hal-hal yang kamu kaitkan dengan muntah. Kamu menjadi semakin peka, dan rasa takut itu segera mendominasi hidup Anda.”

Saya tidak pernah didiagnosis dengan emetophobia karena saya juga punya kecemasan di area lain dalam hidup saya, jadi terapis saya merawat saya untuk kecemasan umum (GAD). Saya belajar untuk berfungsi dengan rasa takut ini menggunakan terapi perilaku kognitif dan reframing dan restrukturisasi pikiran saya. Setelah memulai terapi, putri saya mengalami dua episode muntah lagi, dan pada episode kedua, saya tidak lagi berada di luar kendali. Saya menghadapinya, merawatnya, dan tetap mengendalikan kegelisahan saya alih-alih membiarkannya menyentak saya.

Gangguan fobia sebenarnya adalah gangguan kecemasan yang paling umum dan dicirikan oleh “penghindaran paparan terhadap stimulus yang ditakuti,” kata Ashwini Nadkarni, seorang psikiater di Harvard Medical School’s Brigham and Women’s Hospital. “Dalam kasus di mana paparan terjadi, orang mengalami gejala panik, termasuk sesak napas, jantung berdebar, gemetar, dan keinginan yang kuat untuk melarikan diri.” Dalam kasus saya, saya melakukan segala daya untuk menghindari anak saya muntah, dan ketika dia melakukannya, saya panik—karena saya tidak punya pilihan untuk melarikan diri.

Butuh waktu hampir setahun sebelum saya bahkan mempertimbangkan untuk menjalani terapi untuk membantu saya mengatasi kecemasan ini. Saya ingat menentang diri sendiri begitu saya mulai, karena saya sudah terlalu lama menderita tanpa bantuan. Mengapa orang tidak segera mencari bantuan untuk fobia ini?

“Bagian dari alasan orang akan menunda mencari pengobatan adalah bahwa fobia dicirikan oleh penghindaran,” jelas Nadkarni. “Selama orang tidak terkena stimulus yang mereka takutkan, individu dengan fobia akan berfungsi dengan baik. Jadi perawatan tidak selalu diperlukan.”

Saya tidak bisa menyangkal itu. Ketika putriku sehat, kecemasan itu cukup reda sehingga kupikir saya baik-baik saja. Saya, setidaknya, cukup baik untuk berpikir saya bisa berfungsi tanpa bantuan dari luar. Namun, saya penasaran bagaimana gangguan kecemasan umum saya berhubungan dengan fobia yang saya miliki. “Gangguan kecemasan umum bisa terjadi bersamaan dengan fobia spesifik,” kata Nakdarni. “Bahkan, gangguan kecemasan sering timbul bersamaan dengan gangguan kecemasan lainnya.”

Saya berharap dapat mengakhiri tulisan ini dengan mengatakan saya sembuh, dan terapi serta obat-obatan tersebut telah menghilangkan kepanikan yang saya rasakan ketika putri saya sakit. Tetapi saya masih punya banyak PR dan perjalanan saya masih jauh untuk meredakan kegelisahanku. Saya bisa mengatakan bahwa saya telah mengambil langkah ke arah yang benar. Terapi telah memberi saya kesempatan untuk memproses reaksi saya. Jadi sementara saya mungkin tidak pernah acuh tak acuh tentang muntah orang lain, setidaknya saya tidak akan pingsan di tempat, atau benar-benar termakan oleh rasa takut.