Jerawat Kini Tak Lagi Haram Dalam Fotografi Fesyen
Standar Kecantikan

Jerawat Kini Tak Lagi Haram Dalam Fotografi Fesyen

Peter DeVito adalah fotografer yang gigih mengkampanyekan betapa jerawat normal adanya. Dia sengaja memotret model dengan wajah jerawatan dan mengunggahnya tanpa diedit.
06 April 2018, 12:00am

Artikel ini pertama kali tayang di i-D UK

Justin Bieber menggunakan Instagram pekan lalu untuk menyebar satu pesan: “Sekarang, jerawat itu keren.” Postingan Bieber merujuk pada kumpulan jerawat yang menghiasi jidatnya. Respons dari unggahan ini enggak bisa dianggap enteng loh. Jerawat ternyata betulan menyebalkan, bagi siapapun itu, terlepas dari negara dan ras mereka. Peliknya lagi, tak cuma bikin muka kita rusak, jerawat ikut memicu rasa minder, rasa benci pada diri sendir hingga kegelisahan. Yang aneh, sampai saat ini, tak ada yang mempertanyakan eksistensi jerawat dengan serius.

Akhirnya tak hanya Bieber yang membuat kita lebih lega. Upaya mengubah persepsi soal jerawat disokong tagar #AcneIsNormal, sebuah kampanye online didedikasikan untuk menggusur stigma jelek jerawat ke tempat sampah. Tagar ini ramai di internet. Begitulah, jerawat kini masuk dalam gerakan body positivity yang kian hari kian luas cakupannnya. Bieber bukan pertama yang mengkampanyekan betapa jerawat itu sebenarnya keren dan enggak perlu dipermasalahkan. Kadeeja Khan, seorang blogger kecantikan yang foto diri tanpa editannya memincut hati banyak orang, lebih dulu melakukannya.

Selain, Khan, Peter DeVito, seorang fotografer berusia 20 tahun, juga ikut serta mengkampanyekan bahwa jerawat adalah fenomena kulit yang normal-normal saja. Bosan dengan foto-foto yang diperhalus habis-habisan dengan Photoshop, Peter memberanikan diri menjungkirbalikan diktum fotografi fesyen. Alih-alih mengaburkan noda atau jerawat pada kulit model, Peter malah dengan sengaja memoto jerawat dari dekat, memajang foto tanpa editan wajah berjerawat dengan dibubuhi slogan melegakan macam “acne is normal” atau “Love Yourself.”

Saking seringnya berjerawat, Peter kenal betul stigma buruk tentang jerawat. Malah, sampai beberapa waktu lalu, Peter masih tergolong males mengagih fotonya di internet tanpa terlebih dahulu mengeditnya dengan Photoshop. Lucunya, kini karirnya malah moncer lantaran blak-blakan menegaskan keberadaaan jerawat di kulit model fotonya. “Aku banyak menemukan postingan tentang body positivity dan kesadaran akan penerimaan diri di sosial media, namun jarang sekali ada orang yang terang-terangan menerima keberadaan jerawat di wajahnya,” ujar pada i-D. “Jadi, aku ingin membuat unggahan untuk orang-orang seperti ini. Aku ingin orang sadar bahwa jerawat adalah sesuatu yang normal dan bukan sesuatu yang harusnya bikin kita malu.”

Rencana awalnya adalah Peter bakal memotret muka orang-orang berjerawat, tapi pesan yang ingin dia sebarkan jadi kurang nampol kalau Peter tak mengambil foto dirinya dan mengunggahnya tanpa editan sedikit pun? Alhasil, Peter nekat mengambil foto mukanya sendiri dan mengagihnya di internet. Foto tersebut akhirnya viral, salah satunya karena di-regramm oleh Cara Delevigne. “Kalau aku yang memotret foto itu, aku tak mungkin mengunggahnya, ini jelas salah besar,” tulis sang model. Caption tersebut menunjukkan betapa stigma jelek tentang jerawat sudah terlanjur mengakar.

“Masyarakat menanamkan anggapan pada setiap anggotanya bahwa mereka diwajibkan punya kulit tanpa cela setiap saat,” tutur Peter. “Lihat saja, kebanyakan majalah dan iklan, semuanya cuma ngomong tentang cara menghilangkan jerawat, tak ada satupun yang menegaskan bahwa jerawatan itu sangat normal. Ini yang bikin mereka jerawatan minder. Hal yang sama terjadi pada kebiasaan kita mengedit habis-habisan foto kita. Kebiasaan ini mencipatakan ukuran kecantikan yang tidak realistis. Begitu orang tak bisa memenuhi standar itu, mereka langsung meragukan diri sendiri dan merasa kurang cantik.”

belakangan, Peter mulai mendapati pergeseran cara orang-orang memandang dan merepresentasikan sosok dengan wajah berjerawat. “Melihat Justin Beiber berani mengatakan ‘Jerawat itu keren’ adalah sesuatu yang menarik,” katanya. “Sebab aku masih ingat beberapa tahun lalu, Justin masih mengerjakan iklan Proactive. Aku bisa melihat sebuah perubahan yang menjanjikan. Dulu waktu aku lebih muda, foto-foto fesyen menciptakan ukuran kecantikan yang picik. Foto-foto tersebut membuatku berpikir kalau yang cantik adalah perempuan yang berbadan kurus dan tinggi serta pria-pria berotot.

Kini, saya bisa menemukan model perempuan tubuh pendek, perempuan bahenol, pria pendek serta pria dewasa berotor. Perkembangan ini menyadarkan bahwa semua orang pada dasarnya cantik. Ini mungkin bakal kedengaran norak, tapi menurutku kamu akan sangat cantik dan tetap 100 persen menjadi dirimu sendiri. menjadi manusia tulen tanpa editan adalah sesuatu yang sedap dipandang mata.”