Pengungsi Rohingya Nekat Kabur Lewat Laut Hindari Badai di Bangladesh

Pakar khawatir akan muncul potensi krisis kemanusiaan seperti pada 2015. Kala itu, belasan ribu orang Rohingya naik kapal dan berakhir jadi korban perdagangan manusia.
9.5.18
Photo by Mohammad Ponir Hossain/ Reuters

Hujan turun tanpa henti di sepanjang perbatasan Myanmar-Bangladesh mengancam kondisi yang sudah kelam bagi 700.000 pengungsi Rohingya yang lari rumahnya demi menyelamatkan diri dari genosida menjadi makin parah begitu badai musim hujan melanda kamp pengungsi yang penuh sesak. Kini, pemerintah setempat dan kelompok hak asasi manusia bersiap untuk menyambut perahu-perahu baru yang membawa pengungsi Rohingya. Mereka meninggalkan kamp-kamp pengungsian di daerah pesisi yang makin buruk kondisinya dan situasi di provinsi Rakhine yang kian membahayakan.

“Saya bisa memastikan dalam waktu dekat perahu-perahu Rohingya akan sampai di Thailand,” kata Haji Ismael, Direktur Rohingya Peace Network di Thailand. "Lalu seperti apa masa depan yang menanti kamu? Rasanya kami tak punya harapan lagi.”

Akhir April laku, 76 orang muslim Rohingya tiba di Aceh, dengan menumpang perahu yang sempat terombang-ambing di laut lepas setelah lepas dari kawasan Myanmar. Di awal bulan yang sama, lima pengungsi Rohingya diselamatkan dari laut oleh nelayan di Aceh Timur. Belum jelas dari mana kelima pengungsi itu berlayar. Mereka bisa saja memulai perjalanan dari Myanmar, Bangladesh atau kawasan lain di sekitarnya.

Perahu lainnya, kali ini membawa 56 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, berlabuh di pulau Koh Lanta Thailand, awal Mei ini. Di sana, para pengungsi diberi pasokan makanan, air bersih dan bahan bakar sebelum diminta melanjutkan perjalanan sampai Malaysia, tujuan akhir perahu tersebut, seperti yang dikutip dari pernyatan pihak berwenang Thailand.

Meski berbagi tanah perbatasan dan batas maritim langsung dengan Myanmar, Thailand tak secara resmi mengaku hak pencari suaka dan pengungsi dari Burma. Thailand tak termasuk negara penanda tangan Konvesi Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kendati demikian, kamp pengungsi di sepanjang perbatasannya dengan Myanmar sudah berdiri lebih dari 30 tahun.


Tonton dokumenter VICE mengenai nestapa muslim Rohingya di Myanmar:


Sampai kini, pemerintah Negeri Gajah Putih masih menolak mengizinkan perahu-perahu pengungsi masuk wilayahnya serta tak segan meminta kapal angkatan lautnya mendesak perahu tersebut kembali ke lait lepas. Thailand masih kokoh dengan pendiriannya bahkan ketika negara-negara tetangga seperti Indonesia dan Malaysia mulai menyambut kedatangan para pengungsi sejak terjadinya krisis perahu pengungsi Rohingya di Laut Andaman pada 2015. Pihak berwenang kini memilih menyediakan apa yang mereka sebut sebagai “pertimbangan kemanusiaaan” untuk perahu pengungsi Rohingya, dengan harapan mereka akan melanjutkan perjalanan mereka sampai ke negara lain.

“Meski tak ikut menandatangani Konvensi Pengungsi PBB, Thailand masih berkewajiban untuk menyelamatkan pengungsi yang terombang-ambing di luatan, di mana hukum maritim internasional berlaku,” jelas Lilianne Fan, pakar Myanmar dan direktur Geutanyoe Foundation, sebuah grup yang berbasis di Aceh dan didirikan untuk menyelamatkan para pengungsi di lautan.

Thailand telah membela keputusannya untuk tidak menerima pengungsi dengan mengklaim bahwa perahu-perahu yang mengangkut pengungsi Rohingya pada dasarnya dalam perjalanan menuju Malaysia, kendati Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha menyatakan kepada awak media pad 2017 bahwa negaranya siap menerima “beragam macam pengungsi” dan “mengirim mereka pulang jika para pengungsi sudah siap.”

"Thailand harus membantu orang-orang ini," kata Puttanee Kangkun, seorang pakar hak asasi manusia di lembaga nirlaba Fortify Rights. "Kita tak pernah tahu apa saja yang hadapi selama di berlayar di laut atau apakah mereka akan sampai di tujuan dengan semangat. Mereka harus diperlakukan dengan baik dan diwawancarai untuk mengetahui apakah mereka melakukan perjalanan ini dengan sukarela atau sebaliknya. Kita harus menyelidiki apa yang benar-benar terjadi. Memberi makanan dan mendesak mereka kembali ke laut bukanlah tindakan yang benar.”

Sekitar 5.000 pengungsi Rohingya kini tinggal di Thailand secara pemanen walaupun setengah dari mereka belum tercatat secara resmi atau menjadi pemukim ilegal, menurut estimasi Haji Ismael. Inilah yang membuat advokasi pengungsi yang baru tiba oleh etnis Rohingya yang lebih dulu tiba susah dijalankan. Saat ini, pengungsi Rohingya yang tak tercatat secara resmi diperlakuakn bak imigran biasa, alih-alih sebagai pencari suaka. Mereke bisa ditangkap dan dideportasi sewaktu-waktu.

Thailand turut menandatangani Konvesi ASEAN Melawan Perdagangan Manusia, terutaam perempuan dan anak-anak pada 2015. Dengan demikian, Thailand berkewajiban menolong para korban perdangangan manusia. Maka, jika etnis Muslim Rohingya mengaku bahwa mereka sampai Thailand sebagai sindikat perdagangan manusia, opsi satu-satunya yang tersisa untuk mereka adalah hidup di rumah singgah milik pemerintah alih-alih di pusat detensi imigrasi.

"Sangatlah penting bagi negara-negara ASEAN untuk mengambil langkah-langkah guna menyusun kebijakan perlindungan pengungsi yang mencakup penyelamatan pengungsi di laut, penerimaan pengungsi ke dalam teritori mereka, akses terhadap bantuan kemanusiaan dan alternatif kebijakan detensi,” kata Fan pada VICE.

Kendati perhatian komunitas global masih tertuju pada nasib pengungsi Rohingya di Bangladesh, grup-grup hak kemanusiaan menuding bahwa tak banyak yang sudah dilakukan untuk menolong Muslim Rohingya yang masih tersisa di Myanmar, yang juga menghadapi ancaman cuaca ekstrem dan kekerasaan tak berujung.

“Dengan semakin dekatnya musim hujan, pengungsi harus berpacu dengan waktu untuk kabur dari Rakhine,” jelas Fan. “Terdapat satu populasi besar pengungsi di Rakhine yang sama sekali tak memiliki solusi atas situasi mereka yang mereka hadapi.”