kesehatan

Mendengkur Bukan Tanda Tidur Nyenyak, Karena Kamu Berisiko Bangun di Akhirat

Di Indonesia, orang menganggap biasa kebiasaan ngorok. Malah ngorok dianggap seseorang pulas banget karena kecapekan. Dokter bilang, ada bahaya mengintai tukang ngorok.
Ilustrasi tidur dari akun flickr Masha Krasnova.

Aku ingat satu hari terburuk dalam hidup, gara-gara susah banget tidur semalaman. Penyebabnya? Teman kuliahku yang ngoroknya berisik minta ampun. Hari itu aku sengaja menemaninya di kosan karena dia sedang sakit. Setelah minum obat, dia langsung tidur menggelepar. Aku pikir ada yang enggak beres. Dengkurannya itu berlangsung cukup lama.

Keeseokan harinya, aku bilang padanya kalau dia mendengkur kencang banget, meskipun memang enggak biasanya begitu. Dia malah tanya balik. "Enggak ah, masa iya sih? Berarti gue tidur nyenyak atau emang capek banget."

Iklan

Bukan sekali ini saja aku dengar ungkapan khas di Indonesia, bahwa mendengkur adalah tanda seseorang sedang tidur nyenyak atau di puncak rasa lelah. Yanti Mulyanti, perempuan berusia 35 tahun yang menetap di Bogor dan cukup sering mendengkur, punya keyakinan lain—yang juga populer di Indonesia. Dia merasa orang yang mendengkur biasanya kegemukan.

"Kalo kegemukan biasanya tidurnya mendengkur. Yang gue ingat sih gue mendengkur pas badan gue gendutan," kata Yanti kepadaku.

Awalnya, Yanti sama sekali tidak sadar bahwa dirinya mendengkur. Ia baru sadar setelah diberitahu seorang teman. Dia bahkan merasa tidak ada yang salah dengan tidurnya.

"Rasanya sih [tidur] gue adem ayem aja, gue ngerasa tidur gue malah nyenyak dan belum merasakan dampak signifikan yang mengganggu, kecuali partner gue yang keganggu karena berisik," ungkapnya.

Kebiasaan tidur mendengkur seringkali dianggap sepele. Setelah aku baca-baca lebih lanjut, mendengkur ternyata dikategorikan sebagai gangguan tidur, bahkan merupakan sinyal dari indikasi yang lebih berbahaya. Aku semakin terkejut setelah ngobrol bareng Andreas Prasadja, satu-satunya dokter medis ahli gangguan tidur di Indonesia. Aku menemui Andreas di laboratorium tidurnyam di Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Jakarta Utara.

Di laboratorium tersebut berjejer berbagai alat pernapasan tidur di lemari ruang kerjanya. Dengan santai beberapa pasiennya keluar masuk menemui Andreas. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa ternyata banyak orang Indonesia yang mengalami gangguan tidur dan menjalani perawatan intensif. Tidur bukanlah masalah sepele. Sesaat setelah menemui pasiennya yang mengeluhkan alat pernapasan tidur, Andreas kembali menemuiku, menjelaskan perihal dengkuran pada saat tidur. Menurutnya dengkuran saat tidur bisa bisa mengantarkan kita pada kematian. Gejala penyakit mematikan itu dikenal dengan 'sleep apnea'.

Iklan

Sleep apnea adalah gangguan serius pada pernapasan yang terjadi saat tidur, hal ini terjadi ketika saluran udara terhambat akibat dinding jalur pernapasan (tenggorokan) mengendur, kemudian menyempit. Kondisi ini sering tidak disadari karena saluran pernapasan bisa mengendur dalam keadaan tidur. Sebaliknya, dalam keadaaan terbangun atau beraktivitas, penderita sleep apnea tidak merasa ada hal yang salah. Jadi, dengkuran pada saat tidur bukanlah tanda bahwa seseorang sedang tidur nyenyak.

"Hal yang sangat berbahaya adalah, waktu tidur rileks dia kolaps. Penelitian Yayasan Indonesian Society of Sleep Medicine mengatakan 20 persen penduduk Jakarta menderita sleep apnea. Namun, orang enggak sadar karena kejadiannya saat tidur," kata Andreas kepada VICE. "Kalau bukan pasangan yang memberitahu, ya siapa lagi."

Menurut Andreas, selain sulit untuk diketahui, faktor lain yang menjadikan sleep apnea sebagai pembunuh senyap adalah anggapan masyarakat yang cenderung menyepelekan dengkuran saat tidur. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan jurnal The Laryngoscope dijelaskan bila mendengkur lebih berbahaya dibanding merokok dan kolestrol tinggi.

"Di masyarakat kita ini, mendengkur masih dianggap wajar, apalagi si penderita enggak ngerasa apa-apa. Intinya si penderita cuma merasa bangun kok kurang segar, pada saat siang cenderung mengantuk," ujar Andreas.

Tidak hanya itu, efek jangka panjang membiarkan kebiasaan ngorok ternyata bikin ngeri. Andreas mengatakan sleep apnea dapat berujung pada hipertensi, diabetes, jantung, stroke, kematian, depresi, hingga impotensi. Pada perempuan hamil, ngorok terus-terusan bisa mengindikasikan adanya prematuritas, gangguan janin, atau gangguan kandungan. Sedangkan pada anak-anak, akibat mendengkur adalah gangguan tumbuh kembang. Oke Andreas. Kami paham deh, intinya tidur mendengkur adalah masalah serius.

Menurut Andreas, berbagai literatur medis menunjukkan angka penderita sleep apnea di negara-negara Barat memiliki prevalensi sekitar 14-16 persen. Penderitanya kebanyakan ras kaukasian yang memiliki rahang yang lebih lebar dan leher yang lebih panjang. Sementara itu, Andreas membeberkan fakta di negara-negara di Asia yang mayoritas penduduknya memiliki rahang yang lebih kecil dan leher yang lebih pendek, risiko menderita sleep apnea jadi lebih besar, mencapai 20 persen.

Lantas apakah mendengkur terkait dengan tubuh yang gemuk? Andreas menjawab bahwa hal tersebut tidak terkait dengan tubuh gemuk. Faktor luar yang justru memperparah adalah gaya hidup orang seperti merokok dan kebiasaan vaping, yang menyebabkan saluran pernapasan membengkak.

"Itu penyebabnya dari saluran pernapasannya yang sempit, hal yang enggak bisa kita hindari itu umur. Tambah umur [saluran pernapasan] tambah lembek," kata Andreas "Orang tahunya gara-gara gemuk, buktinya enggak, kegemukan cuma memperberat bukan penyebab."

Jadi, masih mau menganggap kebiasaanmu mendengkur cuma perkara sepele? Segera periksa ke dokter gih!