welzijn

Minum Alkohol Enggak Bikin Tenang, Sebaliknya Malah Bikin Kita Makin Gelisah

Intinya, ungkapan “alkohol tak menyelesaikan masalah” itu ada benarnya juga.
Alfonso Scarpa/Unsplash

Tatkala John McGeary memimpin sesi terapi untuk mengatasi kegelisahan Veteran Affairs Medical Center di Providence, Rhode Island, dia sering menggambar sebuah grafik di papan tulis. Grafik itu akan menampilkan garis diagonal yang berbelok ke atas menandakan tingkat kegelisahan. Di tengah-tengah garis, tepat di sebelah kata “drinking (alias menenggak alkohol), garis itu akan menukik ke bawah, mengindikasikan rasa tenang yang diberikan alkohol sehingga seseorang lupa sejenak akan kegelisahannya.

Iklan

McGeary, seorang psikolog yang mempelajari adiksi di Brown University, kemudian akan menyusuri garis tersebut—dari puncaknya ke bawah dan lantas seiring bagian bawah grafik. Ini dilakukan McGeary berulang-ulang hingga muncul segitiga siklus ketergantungan yang mengaitkan konsumsi alkohol dan kegelisahan. Rupanya, metafora ini dengan mudah dipahami para peserta terapi. “Mereka sampai bilang ‘Ya ampun, ini toh alasan kenapa aku minum’” katanya.

Mayoritas orang pada akhirnya sadar bahwa kendati minuman beralkohol membantu kita mengurangi rasa gelisah, alkohol juga bisa memicu echo chamber effect. Maksudnya, kegelisahan yang kita redam dengan alkohol itu akan kembali dengan kekuatan yang berlipat ganda, keesokan harinya atau sehari setelahnya. Seperti yang diungkapkan oleh George Koob, direktur National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism, “Tak ada tumpangan gratis di otak kita. Semuanya akhirnya harus kita bayar.”

Yang perlu dicatat adalah efek samping alkohol tak bisa dipukul rata bagi setiap orang. Rasa gelisah bukanlah salah satu efek samping utama dari minum-minum di malam hari. Dalam sebuah penelitian terhadap gejala hangover pada seribu pelajar di Belanda, rasa gelisah nyaris berada di posisi paling bontot. Hanya 7 persen peminum yang mengaku mengalaminya. Efek samping paling umum dari minum-minum di malam hari adalah kelelahan—gejala yang nyaris dilaporkan oleh semua responden penelitian itu.

Iklan

Namun, bagi orang yang sudah lebih dulu diserang rasa gelisah, ada sejumlah alasan yang menjelaskan kenapa siklus mabuk-resah-mabuk-resah ini terjadi dan bagaimana kelelahan memainkan peranan penting di dalamnya.

Konsumsi alkohol yang berlebihan mengganggu pola tidur normal dan membuat kita kelelahan. Selain itu, otak seseorang yang kurang istirahat itu kurang tanggap menangkal rasa gelisah dan pikiran negatif lainnya, terang Koob. kalaupun kita bisa tidur setelah pesta minum-minum, kualitas tidur kita dipastikan tak sebagus biasanya. Selain itu, alkohol juga mengacaukan fungsi hormon di ginjal. Akibatnya, badan kita terpacu untuk mengeluarkan cairan alih-alih menyerapnya—artinya, kamu akan sering terbangun untuk bolak-balik kamar mandi dan akhirnya mengalami dehidrasi.

Selain terganggu, kita tak akan bisa tidur senyenyak biasanya. Alkohol menggeser pola tidur, mengubah durasi tiap tahapan tidur, kata Nasir Naqvi, seorang cognitive neuroscientist dan psikiater dari Columbia University. Di separuh pertama malam, alkohol bisa menghambat kita masuk fase REM sleep, yang dianggap penting dalam pembentukan memori. Setelah efek alkohol surut, tubuh kita cuma sempat mengecap tidur dalam yang singkat. Ini yang menyebabkan kita merasa letoy di keesokan harinya.

“Intinya, sehari setelah kamu minum-minum, otakmu berfungsi semestinya,” kata Naqvi. Bagian otak yang bekerja untuk menangkal pikiran-pikiran gelisah sangat terimbas bila kita kurang tidur. Dengan demikian, minum-minum bisa memperparah rasa gelisah pada mereka yang sebelumnya sudah merasakannya.

Iklan

Yang lebih parah lagi, perubahan pola tidur gara-gara alkohol bisa bertahan sampai beberapa minggu. Ini, pada akhirnya, akan menumpulkan fungsi restoratif tidur meski kamu sudah tak minum lagi. Bagi mereka yang kecanduan alkohol dan ingin berhenti, kecenderungan untuk minum agar bisa terbebas dari insomnia adalah tantangan tersendiri. Sementara bagi para peminum akut, sakau alkohol juga bisa memicu kegelisahan karena terjadi perubahan pada sistem pengiriman pesan kimia pada otak yang sedianya membuat mereka merasa tenang.

“Bila kita mengonsumsi sesuatu yang menekan fungsi otak, sistem tubuh akan berusaha kembali ke kondisi fungsionalnya,” kata Koob. Otak yang terus menerus diumpani alkohol, ujarnya, akan memproduksi lebih sedikit reseptor neurotransmitter bernama gamma-aminobutyric acid, atau GABA, yang berfungsi aktivitas neural di otak.

Sekian lama setelah tubuh kita beres mencerna alkohol, sistem saraf kita tetap bekerja dengan jumlah reseptor GABA yang lebih sedikit, “Sistem yang sudah berfungsi untuk mengimbangi konsumsi alkohol masih ada—butuh waktu sampai semuanya kembali normal.” Menurut Koob. Otak yang bekerja dengan sedikit GABA pada dasarnya beroperasi dalam mode overdrive sehingga membuat kita rentan gelisah.

Siklus yang berputar di situ-situ saja inilah yang menyebabkan banyak orang mengamini pendapat Johnny Cash. Penyanyi country legendaris ini pernah bilang obat hangover paling manjur adalah kembali minum. Cash benar, tapi solusi ini cuma sementara, dan pastinya tidak akan menyelesaikan, dan justru memperparah gangguan kecemasanmu.