kapitalisme

Pria Ini Duduki Rumah Kosong Demi Melawan Ketimpangan Ekonomi

Panggilannya Riz, asal Australia. Dia sadar betul tidak adilnya konsep rumah hanya dipakai untuk investasi si pemilik.
3.8.17
Semua foto oleh penulis.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia.

Kami duduk-duduk di belakang tempat tinggal baru Riz. Sambil ngebir dan nonton matahari terbenam, kami ngobrolin isu berat macam ketimpangan ekonomi dan sosial. Kami membahas bagaimana Menteri Keuangan Australia, Scott Morrison, berpidato kesenjangan sosial tidak memburuk, dan justru membaik. Riz kelewatan berita itu, jadi saya jelasin deh kalau surat kabar The Australian membahas hal yang sama selama berminggu-minggu. Disusul kemudian The Financial Review merilis editorial aneh mengklaim bahwa semuanya baik-baik saja, meski kepala Bank Sentral Australia belakangan menyanggah segala pernyataan tersebut dengan bilang, "YA, kesenjangan sosial telah meningkat," dan banyak hal memburuk bagi orang-orang yang tidak memiliki rumah sendiri, karena tak mampu membeli atau bahkan menyewa. Contohnya ya Riz.

Iklan

Kami ujung-ujungnya jadi ngobrolin data dua pertiga politisi Australia memiliki lebih dari satu properti. Gimana bisa, anak-anak muda tidak bisa mengakses pasar properti sementara harga sewa terus meningkat, dan satu dari tujuh properti di Sydney CBD tidak dihuni sama sekali. Menurut ACOSS, 30,4 persen orang-orang di bawah usia 24 hidup di bawah garis kemiskinan. Artinya, hampir satu di setiap tiga orang yang hidup di Australia. Kami lalu mikir, hal yang sama terjadi di negara lain ga ya?

"Berita kayak gitu udah ga bikin aku marah lagi," ujar Riz. "Aku sebetulnya enggak benci sama orang kaya, apalagi kalau dia menggunakan kekayaannya untuk membantu orang-orang yang terpinggirkan. Aku masih yakin ada orang kaya baik sebagaimana ada pula yang buruk, tapi hal itu enggak membuat saya memandang mereka dengan stereotipe tertentu." Riz merasakan langsung kesenjangan sosial itu, karena delapan minggu sebelumnya bersama beberapa teman dia pindah ke properti kosong dan mulai tinggal di sana tanpa bayar apapun. Riz dalam istilah Bahasa Inggris masuk kategori squatter (orang yang tinggal secara tanpa izin properti tak dihuni milik orang lain). Hal ini bukan sesuatu yang mereka coba sembunyikan, meski untuk alasan keamanan kami tidak mencantumkan nama asli Riz dan teman-temannya. Kata Riz, sebagian besar squatter dan gelandangan sebetulnya santai menerima nasib. Tempo hari, tetangga mereka—pasangan paruh baya—mampir ke tempat tinggal mereka saat menyadari ada tanda-tanda kehidupan pada rumah tua itu. Sewaktu bercakap-cakap, tetangganya bertanya apakah Riz menyewa rumah yang lama kosong itu; Riz jujur mengatakan kalau dia tinggal di sana secara ilegal. "Enggak ada gunanaya berbohong sama orang-orang," ujar Riz. "Lagipula bohong malah kurang ajar."

Uniknya, pengakuan itu ditanggapi santai pula sama tetangga-tetangganya. Riz sedang dalam proses membersihkan rumah itu, dan para tetangga senang-senang saja soalnya rumah itu jadi berguna. Pasangan tetangga paruh baya itu bahkan bilang bahwa Riz tak sendirian. Ada orang lain di kompleks itu juga squatting. Ini bukan kali pertama Riz menduduki rumah tanpa izin dan tinggal di dalamnya. Pertama kali melakukannya, Riz berusia 31, baru saja bergabung komunitas punk sambil menjalankan program Food Not Bombs. Riz bukan orang yang bernasib buruk. Dia menduduki rumah kosong sebagai penolakan terhadap prinsip kapitalisme. "Ada banyaklah alasannya," ujar Riz. "Ada krisis rumah. Ada masalah pencurian tanah. Ada hunian kosong yang disia-siakan—kenapa enggak kita tinggali saja? Kalau kamu bayar uang sewa, kamu ngebayarin cicilan orang lain. Dulu masih ada lembaga Housing Trust, ada pilihan sewa untuk membeli, jadi orang-orang berpenghasilan rendah di negara kita masih mungkin membeli rumah." "Sedangkan sekarang kamu mau sewa rumah, kamu harus punya tabungan lebih dari Rp500 juta. Enggak mungkin lah."


Simak video dokumenter kami tentang aksi serupa di Inggris:

Sejak saat itu, mereka telah berpindah-pindah tempat tinggal di sekitar Adelaide. Menurut Riz, hidup sebagai squatter punya seni tersendiri. Dia tidak akan tergesa-gesa asal menghuni bangunan kosong. Sewaktu dia menyadari sebuah bangunan sepi, dia lihat dulu kondisinya. Pertama, pastikan tidak ada orang lain yang tinggal di situ. Ketika dia pindah ke sana sekalipun, dia menunggu beberapa minggu memantau. Memastikan saja, kalau-kalau ada orang yang datang dan mengusirnya. "Kalau kamu beruntung, kamu bisa tinggal dua minggu di Adelaide," ujar Riz. "Yang terakhir saya bisa tinggal selama delapan bulan, lalu saya jalan-jalan. Pas balik, saya cuma bisa tinggal dua minggu lalu diusir." Riz menunjukkan ke kami lingkungan pinggiran sebelah barat Adelaide, sebuah pondok era kolonial dengan bangunan tambahan. Bangunan itu dulunya pasti bagus dan masih bisa menarik perhatian pengembang.

Kini sekitar dua minggu telah berjalan sejak Riz dan anjingnya Cooper pindah ke sana, jadi mereka sudah bisa merasa yakin bahwa tidak akan ada yang mengusirnya. Riz telah membuang sampah-sampah dalam rumah itu, memasang panel surya untuk mengkompensasi ketiadaan listrik, dan membangun pagar putih menggunakan papan-papan kayu supaya Cooper enggak asal lari ke jalanan. Hidup Riz bagaikan simbolisme perlawanan atas ketidakadilan dalam hidup.

Seperti setiap rumah yang pernah dihuni Riz, bangunan yang kami datangi siang itu juga punya kisahnya. Menilai dari sampah-sampah yang ditinggalkan penghuni resminya, dan beberapa surat dari bank yang menyatakan bahwa tuan tanah memiliki uang dari dua investasi properti termasuk yang ini.

Riz yakin rumah mewah tersebut tadinya disewakan pada mahasiswa internasional. Lalu sesuatu terjadi pada sang tuan tanah. Mungkin dia meninggal dunia, atau dirawat di rumah sakit, atau dipenjara; apapun itu, para pelajar memanfaatkan kondisi ini selama yang mereka bisa, sampai akhirnya mereka pergi, dan tempat ini jadi terbengkalai. Sampai suatu hari pegawai bank datang untuk mengklaimnya, Riz akan menganggap bangunan ini rumah. Tapi Riz ingin memperjelas bahwa nasib mereka tak terlalu buruk. Ada banyak orang yang mengalami nasib jauh lebih buruk darinya. Dia bukan squatter karena terdesak kebutuhan ekonomi. "Aku ya ada privilese juga lah," ujar Riz, yang merupakan warga kulit putih, dan berpendidikan—anak seorang guru dan pegawai pemerintahan minor. Riz bahkan lulus kuliah dengan gelar pada bidang manajemen lingkungan, namun itu berarti pilihan karir antara membantu perusahaan tambang mengeksploitasi bumi, atau bekerja untuk departemen pemerintah yang memberi izin pada perusahaan-perusahaan itu. Pada akhirnya, Riz tidak memilih keduanya. Terlepas dari itu semua, hidup sebetulnya manis-manis saja. Riz bisa tidur di bawah atap dan memiliki sejumlah uang di rekening bank karena dia tidak perlu membayar sewa. Dia memiliki pekerjaan di bidang manajemen konservasi tanah. Kalau kenapa-kenapa sekalipun, Riz masih punya komunitas punk yang menerimanya. Sebelum pengusiran terjadi, setidaknya sekarang Riz punya pagar putih mengkilap di depan rumah yang dia tinggali tanpa perlu mengeluarkan uang itu.

Follow Royce di Twitter