Gunung Agung, puncak tertinggi Pulau Bali, akhirnya meletus setelah penantian dua bulan. Selama masa-masa peningkatan status, puluhan ribu penduduk di sekitar gunung tersebut diungsikan pemerintah setempat keluar dari zona berbahaya radius 12 kilometer dari kawah. Di tengah rangkaian peristiwa tersebut, ada penduduk setempat yang mengaku punya alasan Gunung Agung kembali aktif setelah terakhir kali meletus pada 1963.Teori ini dilontarkan Pedanda (pendeta Hindu setempat) dari Desa Munting. Dia mempersalahkan maraknya turis asing, terutama yang berkulit putih, bersikap kurang ajar saat berkunjung ke Gunung Agung. Dia menuding banyak turis mancanegara nekat berhubungan badan ketika mendaki. Sebagian lainnya, yang perempuan, melanggar pantangan naik gunung bila sedang menstruasi."Para pendaku melanggar dan melakukan tindakan tidak santun itu," kata Jaya, pedanda yang diwawancarai Sydney Morning Herald beberapa waktu lalu. Desa yang dihuni Jaya masuk dalam zona evakuasi pemerintah.Tentu saja, pandangan ini tidak diterima begitu saja oleh semua penduduk Bali. I Dewa Made Mertayasa, selaku Kepala Pos Pengamatan Gunung Agung, saat diwawancarai media menyatakan jenis letusan yang terjadi Selasa (21/11) sore waktu setempat adalah phreatic. Artinya, yang keluar adalah awan panas membumbung ke angkasa, tanpa disertai lelehan lava. Karenanya, I Made mengatakan zona radius berbahaya masih akan dipertahankan lebih dulu seperti sekarang.Berdasarkan laporan Stasiun Televisi ABC, letusan pada pukul 05.05 WITA kemarin skalanya kecil, sehingga otoritas terkait belum meningkatkan status maupun cakupan evakuasi. Aktivitas penerbangan di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai sampai sekarang juga masih normal.Saat Gunung Agung meletus lebih dari setengah abad lalu, korban jiwa mencapai lebih dari 1.000 penduduk. Sebagian besar tewas akibat terjangan awan panas. Kecil kemungkinan jatuh korban bila aktivitas gunung yang disucikan tersebut masih seperti kemarin.
Iklan
