media sosial

Pengen Jadi 'Influencer' di Medsos? Sekarang Ada Sekolahnya Lho

Kurikulumnya mengajarkan metode agar natural nampak seru di Instagram atau Twitter. Masalahnya jauh cuy, kampusnya di Italia.
Foto ilustrasi via @margaret__zhang / Instagram

Artikel ini pertama kali tayang di i-D Australia.

Awal minggu ini, Condé Nast Italia membuka cabang Social Academy, sebuah sekolah yang khusus memberi pelatihan cara “menjadi” influencer di media sosial. Merujuk laporan WWD, Fedele Usai selaku direktur eksekutif Condé Nast Italia, mengatakan misi akademi mereka adalah mendidik generasi baru pengguna media sosial tentang transparasi, konten berkualitas, dan cara mengelola konten berbayar maupun endorsement. Condé Nast adalah raksasa media yang memiliki berbagai majalah maupun situs gaya hidup, mulai dari Vogue, GQ, Vanity Fair, hingga the New Yorker. “Pendidikan macam ini adalah tanggung jawab sosial kami. Calon influencer potensial harus dididik sejak dini. Apabila suatu hari sebuah perusahaan membutuhkan jasa influencer terlatih dan profesional, kami sanggup menyediakan orang-orang ini bagi mereka,” kata Fedele.

Influencer sedang menjadi sorotan di berbagai negara. Beberapa selebritis Amerika Serikat tempo hari dikritik karena tidak secara terbuka mengaku mereka dibayar mengunggah postingan yang mempromosikan produk tertentu. Salah satu yang dikecam publik adalah artis Kendall Jenner. Dia memamerkan tiket Fyre Fest—festival musik di Bahama yang gagal total akibat panitia inkompeten—mengesankan dia sendiri sudah beli sendiri dan berniat datang. Ternyata Jenner dibayar. Komisi Persaingan Dagang AS (FTC) kini mengambil tindakan keras. FTC menuntut selebriti memasukkan tagar #Ad ke dalam caption postingan medsos mereka, entah itu Instagram atau Twitter, bila sebenarnya iklan produk. Di Indonesia, pelarian dana calon jamaah umroh First Travel menyeret seleb Syahrini. Penyanyi dan pembawa acara itu sempat dianggap Bareskrim Polri menjadi corong mempromosikan agen perjalanan bermasalah itu di medsos, berangkat umroh gratis, dan dibayar dengan dana jamaah yang tak kembali.

Luca DIni, direktur editorial dan komunikasi perusahaan Condé Nast Italia, meyakini Social Academy memiliki dua misi utama. Pertama, lulusannya sebisa mungkin harus mendobrak batasan antara blogger dan media. Misi lainnya, mendamaikan perusahaan media dan influencer yang sering dianggap berebut kue iklan. “Kami disini untuk menghapus mitos keliru bahwa influencer adalah musuh dari perusahaan media,” ujarnya.

Menurut WWD, setelah menyelesaikan kursus selama 240 jam, tamatan akademi ini akan bergabung dengan jaringan Condé Nast yang telah berisikan 300 influencer di seluruh dunia. Mereka semua memiliki pengetahuan mulai dari foto editing, manajemen audiens, dan “strategi komunikasi”. Hmmm, ada pelajaran soal twitwar ga neeh?