The VICE Guide to Right Now

Mi Instan Dituding Jadi Alasan Jutaan Anak di Asia Kekurangan Gizi

Meski perekonomiannya relatif maju, para orang tua terlalu sibuk menyiapkan makanan sehat untuk anak-anaknya.
17.10.19
Mi Instan Dituding Jadi Alasan Jutaan Anak di Asia Kekurangan Gizi
Foto oleh Matt & Chris Pua via Unsplash

Mi instan adalah makanan penyelamat yang bisa disantap kapan saja. Lagi tanggal tua? Kesiangan bangun dan enggak sempat bikin sarapan? Atau kamu sedang bosan kepingin ngemil? Tinggal bikin mi saja! Masaknya cepat, harganya juga murah meriah pula.

Tapi sayangnya, makanan ini tak bagus untuk kesehatan kalau terlalu sering dikonsumsi. Menurut pakar kesehatan, makanan siap saji semacam mi instan menjadi alasan anak-anak di Asia Tenggara mengalami kekurangan gizi dan obesitas.

Dalam laporan terbarunya, Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) menemukan rata-rata 40 persen anak-anak berusia lima tahun ke bawah di Filipina, Indonesia dan Malaysia mengalami kekurangan gizi — jauh lebih tinggi dari rata-rata global satu dibanding tiga.

Datanya menunjukkan ada 24,4 juta anak-anak yang menderita malnutrisi di Indonesia, diikuti 11 juta di Filipina dan 2,6 juta di Malaysia.

Iklan

Meski perekonomian negara-negara ini maju, banyak orang tua sibuk yang enggak punya waktu, uang dan kesadaran untuk memberikan makanan sehat kepada anak-anaknya.

“Orang tua percaya bahwa mengenyangkan perut anak-anak mereka adalah hal yang paling penting. Mereka tidak benar-benar memikirkan asupan protein, kalsium, atau serat yang memadai,” Hasbullah Thabrany, pakar kesehatan masyarakat Indonesia, memberi tahu AFP.

Salah satu makanan tak sehat yang orang tua berikan kepada anak-anaknya yaitu mi instan. Studi menunjukkan mi instan sama sekali tak mengandung zat gizi penting seperti zat besi. Makanan ini juga tak mengandung protein, sementara kandungan lemak dan garamnya sangat tinggi.

World Instant Noodles Association menunjukkan dengan 12,5 miliar porsi pada 2018, Indonesia menjadi konsumen mi instan terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Meski Filipina dan Malaysia enggak masuk peringkat lima ke atas, kedua negara ini tetap memiliki total porsi 3,7 miliar dan 1,3 miliar.

Untuk mengatasi fenomena ini, UNICEF menganjurkan pemerintah agar menekan penjualan dan pengiklanan mi instan yang terlalu agresif.

Laporan UNICEF juga menyinggung betapa makanan kaya nutrisi seperti buah-buahan, sayur-mayur, telur, ikan dan daging semakin jarang diproduksi karena penduduk pedesaan pindah ke kota untuk mencari pekerjaan lebih layak. Biskuit, minuman dan makanan siap saji kaya gula juga berperan dalam pola makan tak sehat.

Menurut UNICEF, gizi anak-anak yang terabaikan disebabkan oleh kekurangan di masa lalu dan prediktor kemiskinan di masa depan.

Semua negara ini dianggap sebagai negara berpenghasilan menengah oleh Bank Dunia, tetapi jutaan penduduknya kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. 21,6 persen populasi di Filipina, 10,2 persen orang Indonesia, dan 0,6 persen penduduk Malaysia hidup di bawah garis kemiskinan.

“Kemiskinan merupakan masalah utama,” kata T Jayabalan, pakar kesehatan masyarakat Malaysia. “Orang tua yang keduanya bekerja terpaksa menyiapkan makanan yang mudah dimasak.”

Follow Lia di Instagram dan Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.