Basket

Mengapa Golden State Warriors Adalah Dinasti Terakhir NBA

Warriors telah menyedot harapan menang tim NBA lainnya. Tapi mereka tidak akan seperti ini selamanya. Mari kita simak apa yang mungkin terjadi setelah tim Warriors ini bubar.
3.8.18
Foto oleh David Maxwell/EPA-EFE

Tidak peduli apapun yang dikatakan Joe Lacob, pemilik Golden State Warriors, tim beliau tidak akan mendominasi NBA selamanya. Mereka akan terjebak perangkap yang dibentuk Collective Bargaining Agreement, sama seperti tim lainnya: kontrak jangka-pendek, cap gaji yang meningkat, pasar pemain yang buruk, dan sistem yang membuat pemain bisa mendapat gaji semakin besar seiring dia menua (dengan tawaran supermax yang bisa membuat sebuah tim ngos-ngosan kehabisan duit), belum lagi pajak kemewahan (luxury tax) yang bisa membuat sebuah tim kehilangan pemain-pemain kunci, dan memang didesain agar sebuah dinasti macam GSW sekarang tidak bisa terbentuk lagi.

Semua batasan ini akan mempengaruhi setiap tim yang ingin bersaing untuk menjadi juara ke depannya, dan setelah era Golden State berakhir nanti, vakum yang ditinggalkan akan terlalu besar dan mahal untuk bisa diisi oleh satu tim lainnya. Bukan berarti NBA lantas akan ‘setara’ juga, tapi era kompetisi ala aristokrasi nampaknya akan dimulai. Akan selalu ada tim super tentu saja—dan tim-tim tankers (sengaja kalah), dan tim level menengah yang hobinya tereliminasi di babak pertama playoffs—tapi nampaknya persaingan akan lebih kompetitif antara mereka semua dan tidak didominasi satu tim saja.

Sejauh ini, Warriors berhasil melewati semua tantangan sistem dan masih unggul dibanding tim lain. Mereka cerdas, menyadari kata “stagnan” berarti “koma” dalam dunia NBA, dan memiliki momentum dari pembangunan stadion baru untuk mendorong mereka keluar dari “rasa puas” yang sering menghantui. Tapi mereka akan menurun di satu titik. Namun untuk sekarang, Warriors bisa menjadi Warriors karena banyak alasan, namun dua hal ini menjelaskan status mereka: 1) Semua orang ingin menjadi seperti mereka, 2) Mustahil untuk bisa menjadi seperti mereka.

Iklan

Banyak sekali kejadian luar biasa, beberapa bersifat kebetulan, yang terjadi hingga Golden State bisa berevolusi menjadi tim seperti sekarang dalam iklim finansial yang berat. Mulai dari Steph Curry, Klay Thompson, dan Draymond Green yang diperoleh lewat draft pada 2009, 2011, dan 2012, hingga manajemen GSW tidak menukar trio bintang mereka ini saat ada kesempatan untuk melakukan itu, hingga Andre Iguodala menyetujui ide Steve Kerr yang memintanya mulai dari bangku cadangan, hingga peraturan lonjakan cap gaji yang berbarengan dengan timing pemain terbaik kedua dunia memasuki free agency, hingga DeMarcus Cousins bersedia dibayar mid-level exception, jalur mereka memenangkan tiga trofi dalam empat tahun sangatlah rumit, penuh hoki, dan tidak mungkin bisa diulang lagi.

Musim panas Houston yang keras menggambarkan betapa beratnya posisi tim yang berada di echelon puncak NBA, dan akan berlaku bagi siapapun yang menuju ke posisi atas setelah kejayaan Warriors nanti berlalu. Rockets mengajarkan kita bahkan/terutama tim-tim terbaik harus siap menjadi tidak nyaman, bahwa tidak ada yang lebih relevan di NBA hari ini selain musim panas yang ramai, yang sering berfungsi sebagai tombol reset.

John G. Mablango/EPA-EFE

Untuk mendapatkan bukti terbaru dari teori ini, lihat saja Boston Celtics. Diberkati dengan pemilik tim yang sadar, kaya, dan tertutup; manajemen berpengalaman yang ahli dan visioner; sejarah tim yang kaya; pelatih yang mampu; dan banyak sekali first-round picks, Celtics memiliki setiap bahan yang dibutuhkan untuk menjadi juara selama beberapa tahun dan menggantikan Golden State.

Lebih dari satu All-Stars yang saling melengkapi permainan masing-masing, pemain muda berbakat yang dengan mudah menyesuaikan diri dengan game modern, dan memiliki lebih banyak/baik aset yang bisa ditukar dibanding tim lain di liga membuat Celtics favorit untuk mengisi kekosongan dan bertahan dalam waktu yang lama. Tapi bahkan dengan cap gaji yang naik, meniru model Golden State mustahil dibawah CBA yang menginginkan adanya perubahan. Celtics tidak memiliki pilihan tersebut, dan karenanya, akan menghadapi beberapa masalah.

Iklan

Setiap musim panas terasa seperti permainan judi. Bulan Juli tahun depan, Kyrie Irving dan Al Horford dan Terry Rozier akan masuk ke restricted free agency. Setahun setelahnya, Gordon Hayward akan masuk tahun terakhir kontraknya sementara Jaylen Brown akan menuntut perpanjangan kontrak. Bahkan di dunia di mana jutaan dolar bisa didapat lewat berbagai cara, jangan harap para pemain muda ini akan rela gajinya didiskon. Dan selain masalah uang, para pemain juga akan bersaing demi sentuhan bola, menit di lapangan, dan jumlah tembakan. Ada (setidaknya) tujuh pemain starter di tim tahun depan, siapa yang kira-kira akan slek dengan Brad Steven duluan?

Tidak ada waktu untuk bernafas. Satu salah langkah bisa menghancurkan rencana beberapa tahun.

Warriors sedang menikmati salah satu periode tersukses sepanjang sejarah liga, tapi bentuk dominasi seperti ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, kita menyaksikan Heat-nya LeBron, Lakers-nya Kobe, Spurs-nya Duncan, Lakers-nya Shaq, Bulls-nya Jordan, Pistons-nya Isiah, Celtics-nya Bird, dan Lakers-nya Magic. Keseragaman visi adalah elemen kunci dari semua perjalanan tersebut. Warriors-nya Curry adalah evolusi terbaru dari garis keturunan tersebut.

Namun begitu era mereka berakhir, liga yang penuh dengan talenta ini—di bawah CBA yang didesain untuk mencegah klon Warriors kembali terbentuk dan bertugas menghancurkan dinasti seperti serangga—akan terlihat seperti battle royal ala Game of Thrones. Entah kita mendapat era super tim baru atau pemain superstar akan tersebar di beberapa tim karena struktur finansial mendorong pemain untuk bertahan di tim yang nge-draft mereka, siapapun yang menjadi unggulan tidak akan bisa bertahan cukup lama untuk menancapkan bendera.

Dinasti memang selalu rentan, tapi NBA pasca-Warriors akan memastikan tren ini akan punah.