Can't Handle the Truth

Bukan Hantu Johannes Marliem Yang Bergentayangan di Twitter

Tewasnya saksi kunci skandal korupsi dana e-KTP itu, dan kembali aktifnya akun Twitter mendiang, memicu spekulasi paling membingungkan dalam sejarah kolom hoax mingguan VICE.
20.8.17
Ilustrasi oleh Ilham Kurniawan.

Selamat datang di Can't Handle the Truth , kolom VICE Indonesia merangkum hoax dan berita palsu paling ramai dibicarakan pengguna Internet selama sepekan.

Pekan lalu, kolom ini sempat menyinggung betapa hoax di Indonesia beberapa saat terakhir kurang bertenaga. Tak banyak berita palsu berhasil menarik minat media-media besar Tanah Air untuk mengonfirmasi kebenarannya, karena substansinya terlalu tolol.

Iklan

Sial, tampaknya produsen berita palsu rutin membaca kolom VICE ini. Seakan tertantang dengan kritikan kami, mereka menyebar salah satu hoax tersulit yang pernah kami hadapi sejak pertama kali kolom Can't Handle the Truth tayang. Topik rumor itu terkait kematian Johannes Marliem, saksi kunci skandal korupsi e-KTP yang tinggal di Los Angeles. Beredar rumor 'hantu' Marliem bergentayangan di medsos. Isu ini menjadi salah satu hoax paling menyita perhatian publik sepekan. Ulasan lengkapnya bisa kalian baca di bawah.

Hoax mengenai kabar kematian Marliem ini berhasil mengisi kekosongan berita besar. Secara umum pekan ini situasi Indonesia relatif adem ayem. Fokus banyak orang tersita pada persiapan hari kemerdekaan.

Namun, selain cerita 'hantu' Marliem di sosial media, tentu saja jagat hoax tak sesepi pemberitaan di dunia nyata. Kalian cukup bersabar mencari cerita-cerita absurd di grup Whatsapp, maka segera diperoleh bejibun bahan ecek-ecek yang bisa mengisi kolom ini seminggu penuh.

Dari kumpulan berita palsu paling tak bermutu, kami pilih dua lainnya untuk menemani cerita mengenai Marliem mengisi akhir pekan kalian.

Jangan lupa, pantau terus kolom ini agar kalian punya jawaban bila ditanya oleh kenalan, "berita ini bener enggak ya?"

MUI larang pemasangan bendera merah putih di masjid-masjid

Hanya berselang tiga hari sebelum perayaan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus, beberapa blog menyampaikan kabar fatwa dari Majelis Ulama Indonesia tentang pemasangan bendera Indonesia di masjid-masjid. Dewan ulama menyatakan haram hukumnya pengelola masjid memasang bendera Indonesia di dalam masjid.

Alasannya, bedera merah putih tak sesuai syarait Islam, sebagaimana diajarkan Al Quran dan Nabi Muhammad. Kalaupun mau dipasang, letak bendera Indonesia harus berada di luar tempat ibadah.

Iklan

Seperti biasa, suasana media sosial segera keruh akibat adanya postingan tersebut. Perbincangan publik lantas kembali mempersoalkan tudingan pendukung ideologi khilafah sedang menunggangi MUI, sampai muncul larangan memasang bendera merah putih di masjid.

Agar terlihat meyakinkan, postingan tersebut mencatut nama Ketua Komisi Fatwa MUI Ma'ruf Amin dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam. Tiga hari lalu, MUI segera merilis pernyataan tertulis berupa klarifikasi ke berbagai media.

"Berita tersebut fitnah," tulis Niam. "Melihat modusnya, sangat terencana untuk mendegradasi MUI dan merusak suasana keharmonisan di tengah peringatan HUT kemerdekaan."

Sebetulnya kebohongan hoax ini sejak awal sudah bisa diraba. Masjid mana sih yang memasang bendera Indonesia di dalam ruangan salat? Datang saja ke masjid-masjid dalam kompleks gedung pemerintahan. Masjid "plat merah" macam itu saja tidak pernah kan memasang bendera merah putih di dalam tempat ibadah.

Niam mengaku geram lembaganya dicatut oleh produsen hoax yang tidak bertanggung jawab. "Kami meminta penegak hukum mencari, menemukan, dan mengambil langkah hukum bagi penyebar berita hoax yang bisa mengancam keutuhan bangsa," ujarnya.

Pasokan langka, beredar garam dicampur serpihan kaca

Mari beralih ke berita palsu yang lebih ringan. Kelangkaan pasokan garam sejak awal bulan ini membuat banyak pihak sewot. Bagaimana bisa Indonesia, sebagai negara dengan garis pantai yang luar biasa panjang, justru kekurangan produksi garam.

Penjelasan teknisnya dari pakar dan pemerintah sudah muncul. Pasokan yang kurang adalah garam untuk industri. Semua pihak kembali tenang.

Iklan

Sayang kedamaian dunia industri garam kembali rusak, setelah muncul pesan berantai di Whatsapp yang menyudutkan merek tertentu. Kabarnya, ada enam merek garam konsumsi nekat mencampur kaca ke dalam garam mereka, demi menyiasati kelangkaan pasokan. Ciri-ciri garam bercampur kaca itu adalah teksturnya lebih keras dibanding garam biasa.

Sontak, kabar macam ini membuat banyak anak muda kelabakan, karena ibu mereka pasti akan bertanya, "bener enggak sih pesan dari WA yang aku dapat ini?"

Beruntung, Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI) segera meredam rumor tak bertanggung jawab ini. Jakfar Sodikin, selaku Ketua APGRI, menjelaskan bahwa tekstur yang keras bukan berarti garam mengandung kaca. Jika masih merasa tidak yakin, cukup taruh garam di rumah kalian ke tangan, lalu basuh dengan air. "Garam lokal ataupun impor, akan tetap lengket di tangan (setelah dibasuh)," ujarnya.

Selain itu, garam tidak akan bisa memantulkan cahaya matahari. Taruh saja garam yang kalian curigai ke tempat terbuka.

BPOM turut membantah kabar yang meresahkan banyak keluarga ini. "Kami sudah ambil enam sampel merek garam, kami uji hasilnya," kata Kepala BPOM Surabaya Hardaningsih dalam jumpa pers. "Garam itu larut sempurna dalam air. Artinya tidak ada partikel kaca."

Hantu Johannes Marliem aktif di Twitter

Tak ada berita politik yang lebih besar magnitude-nya dibanding informasi meninggalnya Johannes Marliem (32). Pengusaha Indonesia yang bermukim Amerika Serikat itu ditemukan polisi tewas di rumahnya, kawasan pinggiran Los Angeles pada 10 Agustus lalu. Berdasarkan olah TKP, Marliem kemungkinan tewas bunuh diri menggunakan senjata api.

Kematian Marliem, sosok yang yang disebut-sebut saksi kunci skandal megakorupsi e-KTP menghebohkan banyak pihak. Marliem memiliki rekaman percakapan dengan beberapa pengelola tender yang diduga merugikan negara sebesar Rp2,3 triliun tersebut. Perusahannya, PT Biomorf, merupakan pemasok sistem automated fingerprint identification system (AFIS) yang dipakai proyek Kemendagri itu.

Iklan

Baru dua kali diwawancarai penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Marliem meninggal. Sontak, spekulasi berkembang. Banyak pihak meyakini dia dihabisi.

Belum selesai kebingungan publik pada kabar kematiannya, akun Twitter Marliem tiba-tiba mengunggah postingan pada 11 Agustus. Marliem membagikan artikel dari jurnal ilmiah Nature, tentang dampak perubahan iklim terhadap posisi tumbuh pohon.

Pengguna Twitter segera mengomentari cuitan misterius tersebut. "Ini anda?" tulis akun @bang_Si0may yang segera meretweet postingan soal pohon tadi.

"Lho, kok bisa twitteran orang udah mati?" komentar salah satu akun Twitter lainnya.

Spekulasi berkembang makin liar. Ada yang menuduh Marliem masih hidup. Bahkan ada yang menyebut saksi kunci megakorupsi itu sebetulnya agen intelijen.

Tak sampai 24 jam kemudian, cuitan Marliem dihapus. Hilangnya postingan soal pohon makin menyuburkan teori konspirasi warganet.

Marliem, walaupun tak punya banyak follower di dunia maya, cukup rutin mengakses media sosial. Selain Twitter, dia memiliki akun di Google+, Tumblr, dan Instagram. Di tiga akun medsos lainnya, tak ada keganjilan.

Pimpinan KPK, Saut Situmorang, membantah bila Marliem masih hidup. Berdasarkan laporan resmi yang diberikan Kepolisian Los Angeles, jenazah Marliem sudah diotopsi. "Dia dipastikan bunuh diri," kata Saut dalam jumpa pers 17 Agustus lalu.

Dihubungi terpisah oleh surat kabar Kontan, CEO PT Biomorf Lone Indonesia, Kevin Johnson, juga memastikan koleganya meninggal. "Saya tidak bisa mengonfirmasi secara rinci (apakah dia bunuh diri), tapi ya Johannes sudah meninggal," ujarnya.

Iklan

Oke, Marliem dipastikan tewas. Lalu bagaimana bisa akun Twitternya aktif lagi? Siapapun pasti merasa terusik melihat jejak digital itu.

Sebagian netizen berusaha rasional saat menganalisis postingan Marliem yang muncul setelah kematiannya. Banyak pihak menduganya sebagai ulah bot. Hal ini didasarkan pada analisis bahasa postingan yang sangat mekanis dan terstruktur untuk diunggah pada jam-jam tertentu.

Pakar IT Abimanyu Wahjoehidajat punya penjelasan berbeda. Soal postingan yang muncul setelah kematian Marliem, kemungkinan memang bot. Namun yang menghapusnya belakangan adalah manusia. "Kemungkinan paling dekat adalah hijacking, karena saya lihat di twit terakhir itu masih ada unsur manusianya," kata Abimanyu saat dihubungi VICE.

Belum ada penjelasan resmi dari KPK maupun Kementerian Luar Negeri, mengingat penyelidikan atas kematian Marliem masih terus dikoordinasikan dengan Kepolisian Los Angeles. Tapi yang bisa kita pastikan, tak ada hantu di balik aktifnya akun Twitter mendiang.

"Bisa saja satu akun di-manage oleh beberapa individu yang mengetahui password almarhum," kata Abimanyu.

Inilah, kawan-kawan, rumor yang benar-benar menantang untuk dibuktikan lebih lanjut kebenarannya.