Wawancara

Cholil Mahmud ERK: 'Kemarahan Menggerakkan Gue Menulis Lirik'

VICE Indonesia ngobrol bersama vokalis salah satu band terkuat di kancah musik independen Indonesia. Kami menyinggung kisruh keberangkatan ke SXSW, ambisinya sebagai musisi, hingga kemarahannya pada situasi Indonesia yang tercermin lewat lirik.
10 Maret 2018, 9:08am
Cholil Mahmud ERK: 'Kemarahan Menggerakkan Gue Menulis Lirik'
Foto Cholil Mahmud oleh Muhammad Asranur.

Cholil Mahmud bukan penulis atau aktivis. Lebih dari sekali ia mengutarakan keberatannya itu saat saya wawancarai. Namun tidak bisa dipungkiri lewat bandnya, Efek Rumah Kaca, Cholil rutin menulis lirik tentang kisah-kisah manusia di Indonesia—para pegila belanja, tragedi pembunuhan aktivis HAM Munir, kritik pada anggota legislatif, hingga korban-korban penculikan—dengan kejelian dan sensitivitas lebih dibanding musisi lain.

Karenanya Cholil dkk ikut memperingati kamisan, berkolaborasi dengan Indonesia Corruption Watch, atau tampil di berbagai panggung berbalut aktivisme. Musik Efek Rumah Kaca berpengaruh besar kepada kancah musik dalam negeri, karena muatan lirik politisnya walau materi mereka penuh nuansa pop.

Sejak album pertamanya, Efek Rumah Kaca, dirilis pada 2007 sampai album ketiganya, _Sinestesia—_yang dirilis pada 2015 setelah ERK nyaris sewindu absen dari kancah musik Indonesia—semuanya memiliki sensibilitas politik masing-masing. Bersama rekan satu bandnya Adrian Yunan Faisal, lirik-lirik ERK yang kondang itu dia tulis.

Tapi, sekali lagi, Cholil tidak merasa dirinya penulis atau aktivis. Lelaki 41 tahun ini lebih nyaman disebut musisi, dengan salah satu lirik paling kuat dibanding rekan-rekan musisi seangkatannya.

Atas capaian selama berkarir lebih dari satu dekade di kancah musik independen itulah, Cholil dkk akhirnya diundang ke rangkaian acara South by Southwest yang diadakan di Texas, Amerika Serikat pada 16 Maret 2018 mendatang. Perjalanan menuju ke Texas ternyata kurang mulus. Efek Rumah Kaca mundur sebagai delegasi Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Dana lima tiket dan 10 hari menetap di Texas yang dijanjikan oleh Bekraf ternyata tidak fleksibel, menurut laporan Tirto. Pasalnya, rencana ERK melanjutkan perjalanan, termasuk tampil di kota-kota lain, tidak dapat ditanggung oleh Bekraf. Selain itu, perbedaan harga tiket pesawat yang menjadi dialokasikan Bekraf lebih mahal daripada bila band secara independen mencari dana sendiri. Setelah cerita ini ramai di media massa, pihak Bekraf merilis kronologi masalah tiket ERK versi mereka.

Kurang satu seminggu sebelum SXSW ramai dibahas media, Cholil bersedia saya wawancarai. Efek Rumah Kaca baru menyelesaikan rekaman episode Mata Najwa, dimana Efek Rumah Kaca diundang sebagai penampil. Di episode tersebut, Cholil, Irma (latar suara) Poppie Airil (bas), Akbar Bagus (drum), Nastasha Abigail (vokal latar), Cempaka Surakusumah (vokal latar), Dito Buditrianto (gitar), Agustinus Panji (trompet) dan Muhammad Asranur (keyboard) memainkan lagu yang liriknya ditulis oleh Najwa Shihab sendiri, “Seperti Rahim Ibu.”

Kolaborasi ERK dan Mata Najwa, salah satu acara televisi terpopuler di Tanah Air, menunjukkan kemampuan mereka terus mengejutkan orang. Di saat banyak musisi lain setelah bertambah umur cenderung mandeg, ERK senantiasa menemukan jalannya sendiri agar terus relevan bagi pendengar musik Indonesia.

Salah satu hal yang membuat Efek Rumah Kaca senantiasa melakukan terobosan baru, setidaknya menurut Cholil, adalah kemarahan. Ungkapan kemarahan Cholil itu menurutnya untuk merespons situasi republik yang dia cintai ini. Mewakili VICE Indonesia, saya menemui Cholil. Kami membicarakan kisruh persiapan berangkat ke konser South by Southwest (SXSW), masih pentingkah lirik dalam musik Indonesia, kemarahannya sebagai seniman terhadap negara ini, dan banyak lagi lainnya.

VICE: Halo Cholil. Beratkah keputusan mundur dari program sponsor pemerintah untuk berangkat ke South by Southwest (SXSW)?
Cholil Mahmud: Berat. Tapi yah, lebih berat lagi kalo situasi seperti itu dibiarin, hati jadi enggak tenang. Buktinya anak-anak sekarang lebih tenang, tapi pusing nyari duit.

Dengan upaya mandiri dana sudah terkumpul berapa?
Belum terhitung, yang kita manggung itu jadinya, mungkin kita dapat Rp100-150 juta. Tapi paling [dapat] Rp100 sampai Rp120 juta.

Bila semisalnya ERK ditawari Bekraf kembali mewakili Indonesia di acara seperti SXSW, Anda mau?
Yang buat kita mundur itu, cara pengelolaan dana dari komite Bekraf yang janggal, harga tiket mahal, dan kami pikir kurang memenuhi prinsip Good Governance yang efektif dan efisien. Setelah kami beritahukan ke komite atau Bekraf, mereka tidak merespons soal perbedaan harganya, namun mempersilakan Efek Rumah Kaca membeli tiket sendiri (yang murah) dan nanti akan di-reimburse oleh mereka. Apabila diajak dengan mekanisme keuangan yang lebih transparan dan akuntabel, kami sama sekali tak akan menolak.

Memangnya masih penting exposure acara seperti SXSW untuk musisi sepertimu?
Penting buat belajar kayaknya. Sotoy aja gua karena belum pernah ke sana, cuma dengar-dengar aja, karena banyak tokoh penting lain industri musik dan digital yang akan presentasi dan banyak band-band lain yang membuka peluang band Indonesia untuk berjejaring. Atau mungkin juga jika SXSW dipandang oleh festival lain sebagai festival yang bagus, maka band-band yang pernah tampil di sana bisa terangkat CV-nya.

Bicara soal CV, ERK sebetulnya sudah berhasil membangun reputasi di kancah musik lokal. Tapi belakangan saya memperhatikan ketika Efek Rumah Kaca vakum sekian lama, kemudian mengumumkan konser lagi, kalian masih saja disambut meriah oleh publik. Menurutmu kenapa?
Gue enggak tau sih. Gue cuma merasa, ada yang aneh dalam perkembangan musik independen ataupun musik Indonesia. Misalnya gini. Kalau band udah vakum, sedangkan yang lain tuh kan cepat ya; kalau elo enggak berusaha untuk bikin karya akan tergilas gitu. Tapi ini kan enggak. Kan ini kayak ada yang aneh—karakter industrinya kok kayak gini ya.

Bukan [Efek Rumah Kaca] yang pertama. Gue ngerasa Sore [juga begitu-red_]. Sore vakum, giliran dua-tiga tahun enggak main, pas balik lagi dia tetap _ngerajain pensi-pensi, manggungnya banyak banget. Kayak seolah-olah scene itu stuck enggak ada apa-apa. Maksudnya musiknya bagus. Ketika dia keluar, dia belom ketinggalan zaman. Ini artinya zaman ikut berhenti atau emang gak ada talent sekuat mereka?

Tebakanmu, apa alasannya?
Gue merasa permasalahannya adalah kematangan musisi-musisi itu instan. Artinya mereka butuh produser kalau mereka enggak mau instan. Mereka butuh produser untuk bisa shaping musiknya. Enggak harus distrategikan, tapi sebenernya alamiah aja. Secara enggak langsung di dalam diri kita, kita pengen bikin sesuatu yang kita sendiri masih [merasa] excited: Artinya, kita belum pernah mendengarkan itu. Misalnya, 70 persen dari apa yang kita buat tuh belum pernah terdengar. Sehingga, itu akan memancing kita untuk membuat musik kan. Ketika kita punya peer atau temen yang musiknya sama, pasti kita akan mencoba menjauh untuk membuat karakter sendiri. Tapi kita juga butuh mereka untuk saling menyemangati dengan sirik-sirikan tapi itu lebih iklim pertemanan yang konstruktif lah, yang sehat.

Jadi masalah utama kancah musik Indonesia sekarang adalah kurang kompetitif?
Ya...Tapi, gue enggak tau apakah orang tuh bisa bisa menghilangkan hasrat kompetisinya. Enggak usah dipungkiri, kita punya hasrat kompetisi, jadi enggak usah bilang bahwa, gue enggak [mikirin] kompetisi. Bahwa elo meredam itu, iya, gue pengen alami aja; gue gak pengen memusuhi siapapun. Tapi gue pengen juga keren. Kita punya musik keren kan sebenernya driven by keinginan untuk bisa tampil berbeda kan sebenarnya...mungkin salah juga sih, gue gak pengen dikomparasikan dengan siapapun. Gue genuine.

Kamu merasa pengin kompetitif sama siapa?
Dalam artian yang positif, gue misalnya ketemu sama Mondo [Gascaro] bikin musik bagus tuh, gue [merasa], 'hebat ya, masih bisa gitu.' Yang gue suka-suka aja, kayak Danilla. Wah gila pasti ada sesuatu yang berbeda dari dia, karena tiba-tiba dia nongol dan jadi gitu. Gue gak yakin dia gak kerja keras. Gue yakin dia kerja keras. Terus misalnya Haikal [Azizi], Bin Idris-nya "jadi"; Sigmun juga gue suka banget. Cara penulisan lagunya hebat lah dia. Secara gak sadar, gue terpacu untuk mencuri-curi ilmu atau gue berusaha untuk mengembangkan juga hal-hal yang belum ada dari situ untuk mencari itu. Dan hal lain yang dirancang adalah, bagaimana gue merespon, kalau dalam konteks Efek Rumah Kaca, kehadiran Poppie [Airil, basis]. Dulu kan belum pernah proses kreatif Efek Rumah Kaca dengan Poppie, sekarang ada dia. Kayaknya yang memungkinkan bikin kayak gini.

Kamu musisi yang jadi menonjol karena lirik. Menurutmu apakah di Indonesia persoalan lirik ini dianggap penting?
Orang bahkan kadang-kadang mungkin enggak peduli [lirik]. Misalnya, pada masa-masa gue mulai menulis lirik [ERK], ada orang merasa bahwa, aduh gue enggak suka liriknya tapi lagunya gue suka. Tapi tetep elo dinyanyiin. Artinya, demi nada, dia mengesampingkan substansi lirik. Artinya lirik enggak penting, yang penting nadanya kan suka. Buat gue, karena terlalu catchy lagu itu sehingga terekam di kepala elo gak keluar-keluar terus lo nyanyiin atau memang liriknya sendiri memang gak pentng, sehingga ketika nadanya elo udah suka, elo tetep nyanyiin. Artinya, lirik diganti apa aja, gue tetep nyanyiin.

Kalau ditanya, apa sih yang membuat musik Efek Rumah Kaca berkesan buat orang? Paling utama konteks. Konteks musik Efek Rumah Kaca dengan bahasa Indonesianya tuh, ada konteksnya. Situasi yang terjadi, yang gue rasain atau yang dirasain sama personel di kurun waktu tertentu di negara tertentu. [Kalau tidak ada] konteks, separuh dari kekuatan liriknya, hilang juga. Kalau begitu aja, banyak lah, lirik-lirik begitu yang misalnya orang gak ngerti, kayak lirik-lirik puisi gelap atau puisi tingkat tinggi. Kadang-kadang kita suka sama paduan katanya doang, tanpa kita tahu maksud di dalamnya, kita kehilangan konteksnya tapi kita tetap suka lagu itu. Karena kita suka paduan katanya dan kita suka nadanya.

Apa atau siapa yang mempengaruhi gaya penulisan lirikmu?
Karakter nulis gue tuh lebih ke kebiasaan gue baca koran dan baca majalah sejak kecil. Gue bisa baca sejak kecil terus di rumah gue, bapak gue langganan majalah dan koran. Terus kadang-kadang bawa koran dari kantor, udah sore, yang udah gak dibaca besok di kantor dibawa ke rumah. Dan itu membekas di gue dan akhirnya, membentuk gue seperti itu.

Jadi kamu memulai kerja seperti sastrawan dulu, musik dipikir belakangan, atau sebaliknya?
Gue bukan sastrawan, gila lo! Bukan sama sekali.

Berarti menurutmu lirik lagu bukan karya sastra?
Gue enggak merasa gue pada tingkatan itu. Gue merasa terbebani ketika gue klaim diri gue sastrawan. Tapi gue merasa lirik adalah karya sastra, tapi gue gak merasa diri gue di tempat itu. Gue merasa gue musisi. Gue merasa di musik, lirik itu gak berdiri sendiri, tapi yang bisa mengombinasikan lirik dan musik mungkin enggak banyak dengan komposisi seperti ERK jadi gue menonjol gitu ya. Kalau mungkin dianggap begitu. Sebenarnya kalau di dunia sastra, mungkin tingkat penulisan gue, jauh dibanding banyak sastrawan yang bagus, bahkan yang muda-muda. Gue cukup suka baca, misalnya, Dea Anugrah. Kalau yang udah lumayan senior tapi sebenarnya belakangan ini populer kayak Yusi [Avianto Pareanom].

Benang merah liriknya Efek Rumah Kaca akhirnya apa?
Kemarahan sih. Kemarahan atas situasi tertentu, yang lebih banyak yang menggerakan. Sejujurnya gue masih mencoba, apakah dengan ketiadaan kemarahan, gue bisa bikin lagu yang ada apinya atau nggak. Itu jadi pertanyaan buat gue juga. Sebenernya apa yang bikin kita semangat ngeband atau nyanyiin lagu-lagu ini puluhan kali, ratusan kali, masih tetep kita mau nyanyiin kalau bukan karena api, pasti udah bosen. Anak-anak selalu berusaha untuk [memantik] apinya di lagu itu, supaya itu salah satunya, dalam kondisi apapun, kita mau nyanyiin ini. Paling enggak memperlambat kebosanan itu.

Karena proses yang rumit itu akhirnya album terakhir kalian tertunda bertahun-tahun?
Sinestesia bertahun-tahun gak jadi-jadi karena lirik. Musiknya udah jadi 2012. Sebagian besar liriknya selesai, walaupun nanti setelah lirik jadi, wah gak pas, akhirnya nambah lagi bagian musik itu bisa juga. Tapi Sinestesia [ditunda rilis] itu berkat itu: 2012, lirik mentok, musik agak mentok dikit, tapi lebih banyak lirik, akhirnya bikin Pandai Besi [ side project_]. Sebenernya Pandai Besi pun terinspirasi dari _Sinestesia, tapi Pandai Besi keluar duluan aja, seolah-olah [kebalikannya].

Beberapa topik yang kamu singgung, misalnya pelanggaran HAM, tak juga berujung pada keadilan. Kamu merasa capek tidak sih sebagai musisi yang punya citra sadar politik terhadap kondisi negara ini?
Pertempuran gue terus menerus bukan capeknya. Kalau capek bukan artian, 'aduh gue mau ngomongin apa ya.' Lebih ke, 'gue pengen ngomongin apa lagi ya.' Enggak ada bunyinya. Enggak ada suatu gagasan yang gue pengen omongin. Tapi kadang-kadang stuck mau ngomongin apa lagi itu karena keterbatasan kemampuan aja. Orang bilang, banyak banget yang bisa diomongin. Kalo kehabisan ide, berarti emang elo-nya enggak bagus. Ya mungkin emang guenya enggak bagus. Gue enggak seproduktif itu juga kalau dalam hal lirik gitu ya, dan menular ke dalam hal musik.

Tapi pertempuran mau ngomongin-apa-lagi itu pertama. Yang kedua, ini panggilan apa sih yang membuat gue pengen menulis ini, apakah karena keinginan gue kah? Atau orang udah berharap gue menulis lagu politik, apakah karena usulan orang lain? Kemarahan-kemarahan apa sih yang membuat gue menulis lagu itu? Sekarang gue bertanya-tanya terus: Ini hadir dari mulut gue, atau gue terinfluens ekspektasi orang. Itu gue bertempur soal itu sih. Gue berusaha menulis itu berdasarkan keinginan gue. Tapi apakah bisa? Apakah elo bisa bebas dari konstruksi sosial yang membentuk fame? Itu kan halus menyelinap: Keinginan-keinginan menjadi populer, keinginan-keinginan keren. Itu enggak bisa terlepas dari konstruksi sosial, apa itu makna keren buat orang banyak. Di sisi lain, gue pengen idealis, menyuarakan ini dari hati gue.

*Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas