Ezra Miller datang ke premier film 'Fantastic Beasts: The Crimes Of Grindelwald' pakai jaket puffer aneh
Ezra Miller datang ke premier film 'Fantastic Beasts: The Crimes Of Grindelwald' pakai jaket puffer aneh. Foto oleh Pascal Le Segretain/Getty Images

FYI.

This story is over 5 years old.

Fashion

Dunia Fashion Emang Gokil, Jaket Bikin Pemakainya Kayak Lambang Michelin Ludes Terjual

Bentuknya enggak nahan, harganya pun sampai Rp60 jutaan, tapi emang bikin siapapun penasaran pengin pakai sih.

Coba bayangin sebentuk awam deh.

Sudah? Baik, sekarang bayangin awan itu dirancang oleh direktur kreatif rumah mode Valentino.

Terakhir, bayangin awan itu antiair.

Nah, begitulah kira-kira jaket puffer space-age hasil kolaborasi Pierpaolo Piccioli x Moncler. Oh iya, ini jaket puffer yang sama yang dipakai Ezra Miller ke premier film Fantastic Beast: The Crimes of Grindelwald di Paris awal November kemarin. Gilanya, sebulan kemudian, busana puffer yang panjangnya bisa sampai buat nyapu halaman rumah ini ludes di toko online Moncler.

Iklan
1544636932172-Screen-Shot-2018-12-12-at-124830-PM

Foto dari arsip toko online Moncler.

Kalian mungkin geregetan bin bingung mendengar jaket konyol seharga lebih dari Rp60 juta itu laku kayak kacang goreng. Padahal, kalau dipikir-pikir, jaket ini bikin pemakainya seperti cosplayer yang pengin niru lambang Michelin. Tapi barangkali begitu deh adatnya di dunia fesyen. Selalu ada saja orang yang kelebihan duit yang membeli benda-benda fesyen yang bikin jidat berkerut, seperti jaket puffer ini atau oplosan backpack payungnya Louis Vuitton dan tongkat fesyennya Blake Lively. Jujur saja nih, barang-barang ini jelas minim faedahnya.

Cuma nih, jika berkaca pada sejarah fesyen global, jaket puffer sebadan ini enggak abnormal-abnormal amat kok. Ingat jubah cum sleeping bag yang diciptakan Norma Kamali setelah kedinginan saat kemping dengan pacar barunya pasca bercerai? Barang seaneh ini laku-laku saja kok selama beberapa dekade. Lagian di industri yang memuncul produk macam spike heel atau string bikini (yang enggak begitu enak dipakai), sah-sah saja kok memasarkan produk yang menjamin kenyamanan sepenuhnya dengan harga ribuan dollar. (oh ya, lihat juga Balenciaga platform crocs. Abis lihat, kamu bakal ngerti apa yang saya maksud barusan)

Jo Livingstone dari The New Republic’ mengkritik apa yang disebutnya sebagai “jaket ulat bulu” dalam artikelnya yang terbit Selasa kemarin (12/11). Dia mengajukan sebuah pertanyaan “Kenapa banyak sekali perempuan yang mau menganakan busana yang mirip banget sleeping bag yang dijahit?” Jawasan saya untuk pertanyaan ini mudah sekali kok: karena jaket puffer ini bikin hangat tubuh penggunanya. Jaket ini udah kayak lapisan kulit kedua kita yang dipakai kalau cuacanya sedang jelek-jeleknya.

Siapa bilang jaket macam ini cuma pantas dipakai di luar negeri sana. Sekarang kan musim hujan. Plus, Januari nanti hujan biasanya sedang deras-derasnya. Jadi, kenapa enggak sekalian pakai jaket puffer yang necis dan tahan air—meski ujung-ujungnya kita jadi lambang Michelin berjalan.

Oh ya, asal kalian tahu, versi dress dari jaket puffer Moncler x Pierpaolo Piccioli masih tersedia di toko-toko online loh. Beli deh, siapa tahun kamu mau kelihatan ngeh banget fesyen sambil ujan-ujanan dibonceng ojol langgananmu?

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE