Acara televisi

Belajar Seni Menata Rumah dan Ilmu Ikhlas Ala Marie Kondo Bikin Siapapun Kecanduan

Saya baru sadar beres-beres rumah itu ada ilmunya dan kalau dilakukan dengan tepat bisa menghibur banget.
Marie Kondo memberi tips menata barang
Foto oleh Denise Crew, dari arsip Netflix.  

Nama Marie Kondo mulai dikenal luas berkat KonMari, metode beres-beres rumah yang dia ciptakan. Dia juga menerbitkan buku seputar kiat bersih-bersih rumah bertajuk The Life-Changing Magic of Tidying Up.

Salah satu kiat paling penting dari buku itu adalah kira-kira seperti ini: cermati semua barang milik kalian. Pikirkan mana saja barang yang bisa "memendarkan kebahagiaan."

Misalkan, kalian punya koleksi kaos/sneaker/cardigan/buku/suvenir/piringan hitam yang berlimpah. Nah, mengacu pada wejangan Marie, jumlahnya suka tidak suka harus disusutkan. Enggak semua barang yang kalian punya otomatis bisa bikin bahagia.

Iklan

Pendeknya, buang semua barang yang bikin hati dan rumah kita sumpek. Sisanya, taruh/tata/lipat dan simpan dengan rapi di lemari atau tempatnya yang semestinya. Atau jika cukup ikhlas, sisihkan barang-barang tersebut (termasuk yang harganya mahal) untuk mereka yang membutuhkan.

Asas ini berlaku untuk segala macam benda lho ya: perkakas dapur, sisir, sikat kamar mandi, celana dalam, action figure, atau apapun yang berpeluang bikin rumahmu sumpek jika terus-terusan disimpan. Sekali lagi, ingat, kalau memang tak bikin bahagia segera buang barang itu sambil tak lupa mengucapkan terima kasih atas "jasa-jasanya" terhadap hidup kita.

Ajaran Marie ini mencerminkan ide pascakonsumerisme. Di zaman sekarang, manusia terdorong memiliki banyak barang. Bukannya bikin senang, semua benda ini justru memancing kegusaran dalam diri. Contoh: punya sneaker Air Max atau Yeezy mahal pasti nyenengin. Tapi, apa jadinya jika sneaker lama kalian menggunung di sudut rumah, bergeletakan tanpa aturan, gara-gara kalian kepincut beli sepatu terus tiap ada reseller IG ngabarin ada koleksi baru?

Kalau udah begini apakah punya sneaker banyak masih nyenengin? Jelas enggak lah.

Untungnya, bagi orang-orang yang gemar menimbun barang—baik yang berfaedah ataupun tidak—Netflix menayangkan Tidying Up With Marie Kondo, acara tentang beres-beres rumah yang diampu langsung sama Marie.

Sedikit bocoran: bila kalian pikir Tidying Up With Marie Kondo adalah serial reality show TV serba dramatis tentang penimbun-penimbun yang susah berpisah dengan koleksinya, lalu dapat tips ajaib Marie, jangan nonton. Percuma, ini bukan serial kayak Dog's Whisperer. Marie tak banyak melakukan aktivitas malah. Makanya, penonton enggak disuguhkan trik-trik ajaib beberes rumah ala Marie Kondo.

Iklan

Sebaliknya, Marie mendatangi sebuah rumah, mendoakan sebuah rumah hingga bikin pemiliknya—kebanyakan warga Amerika Serikat—senang bukan kepalang. Setelah itu, Marie minta mereka menumpuk semua benda yang mereka punya di rumah. Sebelum meninggalkan mereka, Marie hanya akan berpesan dan memberi sedikit contoh cara mengenyahkan barang-barang yang "tak memancarkan kebahagiaan."

Pada akhirnya, para pemilik rumah di serial ini menyingkirkan satu persatu barangnya tanpa tergesa-tergesa. Dalam prosesnya, pemilik rumah sedikit demi sedikit menata masalah emosional yang muncul akibat mereka kesusahan punya waktu buat orang lain. Kadang gara-gara mereka suntuk duluan melihat rumah jadi kacau diacak-acak anak, atau lantaran susah move on (contoh: ada satu episode membahas rumah yang berantakan karena isinya penuh kartu baseball lawas si suami).

Marie dan penerjemahnya Marie Iida kerap kali memberi selamat pada pemilik rumah setelah terbukti ikhlas berpisah dengan barang-barang mereka. Di titik lain, Marie terkesan sangat keras, seperti saat dia minta pemilik rumah berterimakasih pada sebuah barang sebelum dibuang—sebab jika tidak, jiwa barang itu akan balik menghantui rumahnya.

Sebagian dari kalian pasti berasumsi serial ini menjemukan? Memang begitu kok. Tidying Up With Marie Kondo bikin bosen mereka yang doyan drama. Kurang adegan marah-marah, banjir air mata atau sejenisnya membuat serial reality show kayak gini terasa ganjil. Kalau ada yang ekspektasinya tak terpenuhi, itu lantaran banyak penonton TV masa kini dibesarkan serial makeover rumah yang umumnya (kelewat) dramatis. Lagipula, lewat serial ini Maria ingin berbagi filosofi ajarannya yang paling mendasar: bebersih rumah sangat bermanfaat bagi kesehatan jiwa raga dan tiap manusia punya caranya sendiri untuk menata barang yang bisa ditiru orang lain.

Menurut saya, yang bikin serial ini begitu keren dan mengesankan dipicu teknik beberes rumah ala Marie Kondo. Semua tips darinya sangat mungkin dikerjakan, baik sendirian ataupun bersama pasangan. Dalam beberapa minggu saja, rumah kalian akan rapi, lengang, dan lebih nyaman ditinggali.

Plus satu lagi, Tidying Up With Marie Kondo membuktikan betapa tiap-tiap manusia punya barang yang harus dibuang. Mulai dari kalung lucu, gaun imut, vinyl yang artisnya sudah tak relevan, sneaker salah ukuran, hingga semua pernak-pernik kenangan dari mantan. Ketika semua barang tadi memicu masalah, Marie Kondo akan mengingatkanmu: kunci pertama agar sukses menata rumah adalah belajar ilmu ikhlas.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D