Gerakan #MeToo

Manajer Grup J-Pop Populer Dipecat Usai Paksa Bintangnya Minta Maaf Karena Laporkan Pelecehan

Selamat tinggal manusia brengsek.
17.1.19
Maho Yamaguchi
Foto Maho Yamahuchi's Instagram

Setelah salah satu anggota grup idola populer Jepang NGT48 – grup lepasan dari AKB48 yang luar biasa populernya – berbicara secara terbuka tentang pengalamannya dengan pelecehan seksual, dia dipaksa meminta maaf oleh manajemennya karena “bikin masalah”. Untungnya kita bisa kembali menaruh kepercayaan ke rasa kemanusiaan dan dunia hiburan karena manajemen grup tersebut, AKS, kini dikritik akibat upayanya menutupi kasus Maho Yamaguchi yang berumur 23 tahun.

Iklan

Kejadian ini dimulai ketika Yamaguchi bercerita di Twitter tentang pelecehan seksual yang dialaminya Desember lalu. Dalam rangkaian tweet yang kini sudah dihapus, Yamaguchi mengklaim dia diserang yang dijatuhkan ke lantai oleh dua laki-laki di pintu masuk rumahnya. Kedua pelaku tersebut ditahan oleh polisi setempat, lalu dibebaskan tanpa tuduhan.

Di Twitter dan dalam sebuah livestream yang diakhiri secara mendadak, Yamaguchi berkata dia telah melaporkan kejadian tersebut kepada manajemennya, dan setuju untuk tidak membicarakan soal itu selama masih ditangani manajemennya. Setelah sebulan tanpa ada tindakan dari manajemen NGT48, Yamaguchi memutuskan untuk menangani isu tersebut sendiri. Sayangnya, keputusan itu pun merugikannya. Di sebuah konser NGT48 minggu lalu, Yamaguchi meminta maaf kepada penggemarnya untuk menyuarakan ceritanya.

Untungnya, penggemar Yamaguchi setia mendukungnya. Mereka membuat petisi yang menuntut manajemennya untuk meminta maaf kepada Yamaguchi, dan meminta agar manajer NGT48 mengundurkan diri akibat penanganan situasi yang buruk. Kini petisi tersebut telah berhasil mengumpulkan 25.000 nama. Hasilnya, manajer laki-laki NGT48 diganti seorang perempuan, dan AKS mengeluarkan pernyataan: “Maho Yamaguchi menangani situasi ini sendiri dan menceritakan apa yang terjadi kepadanya akibat respons kami yang buruk terhadap dia dan penggemarnya… kami ingin mulai membangun kembali kepercayaan dengan anggota NGT48 dengan menyediakan konseling, terutama bagi Yamaguchi.”

Iklan

Meskipun kisah Yamaguchi berakhir dengan kabar baik, peristiwa ini juga membuktikan bahwa masalah-masalah yang berakar dalam industri idola pop senilai jutaan dolar belum tertangani. Pada zaman #MeToo, kita melihat semakin banyak perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual kini bersuara melawan industri K-Pop yang didominasi laki-laki.

Seperti yang dikatakan pengkritik musik Jeff Benjamin dalam sebuah wawancara dengan CBC News, perempuan-perempuan muda berperang melawan “tanggal kadaluarsa” lima sampai tujuh tahun yang tak terhindarkan dalam industri hiburan kejam. Para “idola,” sebuah istilah yang menjadi julukan bintang Korea dan Jepang, diwajibkan menandatangani kontrak ketat dengan manajemen mereka untuk mempertahankan imej yang diharapkan dari mereka. Bagi Yamaguchi dan anggota MGT48 lainnya, artinya mereka harus mempertahankan imej siswi tak berdosa. Dalam industri ini, para idola (yang sebagian besarnya perempuan) sering terjebak dalam situasi dimana mereka rentan terhadap eksploitasi.

Akibat kasus Yamaguchi, para penggemar menyuarakan keprihatinan dan tuntutan mereka di Twitter untuk kondisi kerja lebih baik bagi idola mereka. Satu penggemar mengacu pada sebuah kejadian ketika anggota AKB48 Minami Minegishi dipaksa minta maaf dan mencukur kepalanya dalam sebuah video setelah ketahuan menginap bersama pacarnya.

“Industri Idola Jepang sejak dulu perlu diperiksa ulang,” ucap tweet seorang penggemar. “Sudah jelas setelah anggota AKB48 itu dipermalukan, dicukur kepalanya/meminta maaf karena punya pacar, bahwa industri ini seksis dan tidak ingin melindungi perempuan-perempuan ini.”

Kebudayaan memaksa perempuan-perempuan muda mempertahankan imej sempurna dan suci dengan cara apapun dalam industri hiburan Jepang rupanya akan tetap bertahan. Tapi perempuan berani seperti Yamaguchi menjadi pelopor menuju masa depan yang lebih baik bagi perempuan di industri hiburan.