Internet

Penelitian: Generasi Baby Boomer Alias Ortumu yang Paling Rajin Bagikan Hoax di Facebook

Kayaknya kesimpulan yang sama bakal muncul ketika penelitiannya digelar di Indonesia. Apalagi kalau yang diteliti grup WhatsApp.
11.1.19
Orang Tua dari Generasi Baby Boomers Paling Banyak Sebar Hoax di Facebook
Foto ilustrasi oleh Pxhere

Sebuah penelitian fokus menelaah karakter pengguna Facebook di Amerika Serikat. Kesimpulannya generasi tua cenderung gampang membagi “berita hoaks” saat berlangsungnya pilpres AS 2016 lalu.

Lebih dari 90 persen pengguna Facebook yang diteliti tidak pernah membagikan disinformasi di halaman teman-teman mereka, menurut penelitian tersebut. Dari pengguna yang membagikan berita palsu, umur si pengguna menjadi faktor signifikan.

Penelitian tersebut menemukan bahwa “orang Amerika paling tua, terutama mereka di atas umur 65, lebih cenderung membagi berita palsu kepada teman-teman Facebook mereka.” Hal ini masih terbukti bahkan saat menganggap faktor-faktor lain seperti ideologi dan partai pilihan sebagai faktor konstan.

Para peneliti juga menemukan bahwa orang dengan pandangan politik konservatif lebih cenderung membagi berita palsu ketimbang yang liberal. Tapi harus diingat bahwa ini mungkin disebabkan kecenderungan berita palsu berbau pro-Trump, dan bukan ciri-ciri inheren seorang dengan ideologi konservatif.

Iklan

Analisis tersebut adalah hasil kerja peneliti politik gabungan Universitas Princeton dan Universitas New York. Hasilnya diterbitkan pekan ini di Jurnal Science Advances. Kesimpulan mereka menegaskan manfaat dari meneliti kebiasaan generasi boomer dan lansia di Facebook dan media sosial lainnya—apalagi jika kita mengingat betapa besar pengaruh medsos di seluruh dunia.

"Kami tertarik dengan pertanyaan yang terkait dengan pembelajaran kampanye politik melalui medsos, tapi itu bukan tujuan kami ketika baru memulai penelitian ini," kata Andrew Guess, penulis utama penelitian ini sekaligus asisten profesor di Universitas Princeton, saat dihubungi Motherboard. "Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk sadar akan apa yang telah kami temukan."

Tim tersebut mendefinisikan berita palsu dari sebuah daftar situs web yang disusun editor media BuzzFeed, Craig Silverman, dalam seri laporan investigatif yang mengenai domain yang sering dibagi di medsos selama masa pilpres AS. Daftar tersebut lalu difilter lebih lanjut, menghapus situs-situs yang dengan mudah dianggap sebagai partisan, “layaknya Breitbart." Para peneliti membedakan kesetiaan pada partai dengan berita palsu secara subjektif, dan akhirnya menggunakan sebuah daftar yang menyertai 21 situs web, termasuk True Pundit dan Denver Guardian.

Menurut penelitian ini, setiap kelompok usia tertentu membagi lebih banyak disinformasi daripada kelompok usia berikutnya, yang artinya orang muda membagi berita palsu paling sedikit. Orang yang berusia 65 ke atas membagi tujuh kali lebih banyak berita palsu dibandingkan pengguna Facebook berusia 18 sampai 29, yang dapat mengindikasi beberapa hal.


Tonton dokumenter panjang VICE mengenai kronologi terbelahnya masyarakat Jakarta akibat isu SARA dalam Pilkada 2017:


Ada kemungkinan lain, bahwa banyak orang di Amerika Serikat kurang mampu menentukan apakah suatu berita masuk kategori palsu atau tidak. Literasi media digital kini bertumbuh sebagai bidang pengajaran bagi orang tua baik muda, dan menjadi semakin penting dengan generasi tua yang semakin aktif di medsos.

Setidaknya penelitian ini merujuk kajian psikologi kognitif dan sosial, betapa efek-efek penuaan yang melemahkan “perlawanan terhadap ‘ilusi kebenaran' turut bertanggung jawab dalam maraknya fenomena persebaran hoax. Kemungkinan tersebut menegaskan tanggung jawab Facebook agar serius memoderasi berita palsu sebelum sempat tersebar di feed.

Iklan

Survei tersebut mengamati aktivitas akun Facebook 8.763 orang Amerika selama satu bulan (hanya sebagian dari mereka memposting di Facebook secara teratur.) Tim peneliti meminta izin kepada responden survei—yang menjawab pertanyaan melalui firma survei YouGov—untuk diberi akses pada data seperti pendapat terkait agama dan politik, postingan di timeline, dan postingan yang di- like. (Setengah dari mereka menolak untuk membagi data profil mereka.)

Sebagian besar peserta mengidentifikasikan diri sebagai orang kulit putih, lalu kulit hitam, Hispanik, dan "lainnya."

Penelitian ini juga menemukan kalau pendukung Partai Republik lebih sering membagi berita palsu ketimbang suporter Demokrat, tapi ada kemungkinan ini disebabkan faktor-faktor yang menampilkan lebih banyak disinformasi kepada pengguna Facebook konservatif, yang tidak dipertimbangkan penelitian ini.

Guess mengatakan pembagian berita hoaks cukup jarang, hingga menyusahkan pembuatan kesimpulan tentang topik-topik apa saja menarik paling banyak pengguna Facebook—apakah topiknya Rusia atau perubahan iklim. “Untuk alasan ini saya tidak menganjurkan pengaitan hal ini dalam laporan tentang sasaran iklan terhadap kelompok-kelompok tertentu, dan sebagainya.” katanya.

Tapi masih ada harapan. Penelitian ini menegaskan betapa jarangnya pembagian berita palsu di Facebook saat pilpres 2016 berlangsung, meskipun ia mengidentifikasi kelompok demografi mana yang paling sering melakukannya.

Tim peneliti mengusulkan bahwa jika literasi media digital memang patut disalahkan, “intervensi sederhana, mungkin yang dipadukan ke dalam lingkungan sosial,” berpotensi mencegah penyebaran disinformasi di internet, apapun usia penggunanya.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard