Kehidupan Anak Muda

'Ekonomi Pengalaman' Berpotensi Berangus Skena Anak Muda

Skena mu yang kamu kira mulai mapan kini tak lagi aman. Ada pemain baru yang senantiasa mengintai dan mengancam, namanya: Ekonomi Pengalaman.
5.10.17

Saya tahu apa yang akan kalian lakukan beberapa weekend ke depan: belajar bikin sushi bersama teman-teman, ikut winetasting atau belajar membatik. Kamu mungkin mikir, dengan melakukan semua lokakarya dadakan ini, kamu bakal merasa benar-benar hidup. Akhir pekan diisi kegiatan menambah ilmu dan menegaskan betapa kerennya dirimu. Malah, minggu depan jangan-jangan kamu sudah punya rencana lainnya: mencoba berkuda dan latihan memanah.

Iklan

Penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir mengungkap pergeseran pilihan generasi muda dalam menghabiskan uang mereka. Jika dulu mereka lebih doyan mengkonversi uangnya jadi barang yang bisa mereka miliki, sekarang, mereka mengincar kegiatan dan lokakarya seperti yang disebut di atas. Riset yang digagas oleh Harris Grup menunjukkan lebih dari tiga perempat (78 persen) generasi milenial lebih senang membelanjakan uang mereka untuk jadi peserta lokakarya daripada memborong barang fisik. Ini yang kemudian disebut sebagai "ekonomi pengalaman." Kita semua punya kontribusi terhadap berkembangnya experience economy saban kali pergi ke pub dan nonton konser ketimbang beli buku atau baju. Belakangan, dampak experience economy kian terasa. Penguasa ritell mengalami penurunan keuntungan dari tahun ke tahun. Musababnya? Kids zaman now lebih suka berfoya-foya dengan makan dan liburan. Banyak orang memuja ekonomi pengalaman sebagai penolakan kepemilikan materi. Seiring makin banyaknya generasi milenial yang emoh membeli properti, konsep kepemilikan barang sendiri kurang berarti. Di dunia di mana plesiran lebih dihargai ketimbang menimbun tabungan, "hidup untuk saat ini" jadi ideologi bagi generasi yang memang sejatinya susah beli barang-barang fisik. Konsep ekonomi pengalaman di permukaan terdengar keren atau setidaknya romantik (anak-anak milenial yang konon gajinya paling kecil sepanjang sejarah manusia menampik rayuan materialisme). Masalahnya, apa begitu kenyataannya? Sepertinya sih tidak. Kendati ekonomi pengalaman mati-matian memuja pameo carpe diem, realitanya tak seindah itu. Lokakarya bikin sampul buku kulit, kursus singkat membuat t-shirt tye-dye, colour run, escape room games, simulator golf, fly-boarding dan kelas public speaking di akhir pekan adalah jenis kegiatan sosial baru yang mengubah lokasi dan tujuan menghabiskan akhir pekan. Singkatnya, ekonomi pengalaman melahirkan kultur anak muda yang baru: sebuah gaya hidup baru yang dibangun di atas gimmick dan fantasi.

Einalem, Flickr

Saya pertama kali mengecap ekonomi pengalaman lewat orang tua saya. Sekira lima tahun lalu, setelah bertahun-tahun gagal mengingat varian parfum Estee Lauder mana yang disukai Ibu, ayah punya ide cemerlang untuk menghadiahi ibu voucher ngeteh sore-sore di hotel-hotel mahal. Saban pagi Natal, ayah akan menyodorkan voucher lengkap dengan print-an email yang menjanjikan kesempatan merasakan kemewahan baru. Jelas sekali, waktu itu, jenis sogokan ayah ini memanfaatkan hasrat mendalam ibu untuk mencicipi sesuatu yang "lebih baik" dari apa yang kami biasa rasakan sebagai keluarga kelas menengah. Keluarga kelas menengah seperti kami cuma bisa ngekhayal menginap semalam di hote sekelas Ritz. Namun, dengan voucher itu, yang dijual dengan harga terjangkau, kami bisa berpura-pura bak keluarga gedongan yang menginap di hotel mahal, walau cuma beberapa jam saja. Sejak saat itu, ibu dan ayah tak pernah bisa lepas jeratan ekonomi pengalaman. Di akhir pekan, kegiatan orang tua saya berganti-ganti dari spa, acara mencicipi keju atau paket makan malam hingga nonton konser di London. Belakangan, rayuan ekonomi pengalaman hadir dalam bentuk demam Groupon, sebuah website serba-serbi diskon, sudah menjangkiti generasi kami. Groupon menawarkan kesempatan mengecap hidup ala borjuis dengan harga yang rawan di kantong. Kalian, misalnya, bisa menghabiskan satu sore mencicipi wine dengan uang muka cuma £20 (setara Rp354 ribu). Atau, kalau kamu bukan penyuka wine, kamu bisa ikut kursus bikin dim sum dan daat dua gelas prosecco hanya dengan membayar £36 (setara Rp638 ribu). Dengan uang segitu kamu bisa beli jeans baru dan nongkrong di bar-bar murah Jakarta semalaman. Hebatnya lagi, berkat media sosial, aktivitas sejenak-menjadi-kelas borjuis ini bisa dipamerkan di Instagram sehingga temanmu bisa bilang "wanjir si anu, berbudaya banget." Sekali lagi, Istilah "ekonomi pengalaman" sebenarnya mengacu pada pergeseran cara mengkonsumsi, dari membeli untuk memiliki barang menjadi membayar untuk melakoni sesuatu. Tapi, penggunaan voucher dan diskon-diskon macam ini, menurut saya, adalah pengejewantahan hakiki dari konsep itu. Dalam wujud paling gamblangnya, ekonomi pengalaman adalah sekumpulan cara menghabiskan weekend dengan cara-cara yang pretensius. Jangan salah sangka dulu. Saya tak sedang menyinyiri orang-orang yang hendak mencoba-coba hal baru. Kalaupun ada orang yang berpikir ikutan yoga atau color run bikin kamu jadi manusia yang menyebalkan, barangkali pelakunya adalah seorang yang kelewat sinis yang mengurung diri di sebuah kamar. Saya sendiri juga tak lepas dari ekonomi pengalaman. Saya ikut kursus bikin kue dan saya akui saya lebih memilih menghabiskan uang beli tiket liburan murah daripada, misalnya, beli mobil. Yang bikin saya keki adalah implikasi buruk dari gaya kehidupan sosial yang bertumpu pada pemeo "cobalah segalanya barang sekali sebelum kamu mati." Sudah pasti, para pelaku ekonomi pengalaman gatal menggorok leher saya karena kalimat terakhir itu. Orang-orang ini kan cuma ingin bersenang-senang. Toh kegiatannya positif-positif saja. Salahnya di mana coba? Begitu pikir mereka. Iya sih, walaupun event-event dalam ranah ekonomi pengalaman kadang katrok, setidaknnya tujuanya masih positif. Misalnya, tak pernah ada presedennya kalau kegiatan color run membahayakan keutuhan sebuah negara. Bukan di situ masalahnya. Ini semua baru jadi perkara saat kegiatan-kegiatan ekonomi pengalaman jadi bagain sentral dari kebudayaan kita. Pada saat inilah, semua jadi muram. Saat kita sibuk mencicipi segala yang baru, perlahan kita mengesampingkan pentingnya investasi demi konsistensi tumbuh kembang budaya. Subkultur, skena, identitas, dan komunitas tak muncul dalam waktu satu minggu. Kalau yang kita kejar hanyalah hal-hal yang baru, lantas bagaimana sebuah skena, misalnya, bisa bertahan dan berkembang? Makin populernya ekonomi pengalaman mengindikasikan masa depan di mana ritual dan ruang (atau tongkrongan) budaya ada di posisi kedua setelah gimmick-gimmick yang tak penting-penting amat. Di saat itu, seniman tak lagi membangun studio dan melakukan kerja-kerja kesenimanannya. Di masa itu, seniman lebih senang bikin kursus kriya kilat dengan embel-embel dapat dua gelas bubbly gratis. Saya paham tak semua orang mau jadi seniman. Sayangnya, nasib yang sama akan menimpa pub-pub dan klab malam lokal. Ekonomi pengalaman memacu kita untuk berhenti melakoni satu tren dan segera mencoba yang baru setelah kita agak jenuh. Dalam prakteknya, kita bakal pindah dari satu klab malam ke klab malam lainnya semata-mata untuk mengejar klab yang dapat review bagus. Jika tujuannya hanya "mengalami," tanpa niatan menyelami lebih dalam, kita terancam bakal jadi turis seumur hidup. Jangan-jangan nanti saat ditanya apa hobi kita, kita bakal menjawab "Oh ya segala yang baru. Saya mengalami suatu yang baru tiap akhir pekan!" Luar biasa! Ada kepura-puraan dan ketidaknyamanan dalam ekonomi pengalaman. Generasi milenial adalah generasi yang terombang-ombang dalam berbagai hal. Saking tak punya kemampuan untuk memiliki tempat tinggal, hidup kita dihabiskan untuk pindah dari satu kontrakan murah ke kontrakan murah lainnya. Kita juga tak punya identitas budaya yang ajeg. Kita cenderung memilih dan bergonta-ganti pakaian serta mengkonsumsi seni dari apa yang disodorkan pada kita. Ekonomi pengalaman adalah perpanjangan tangan dari kenyataan macam ini. Kenapa harus punya ketertarikan, kenapa harus punya ritual budaya kalau kita punya pilihan mencoba satu hal baru saban akhir pekan? Mungkin, pada akhirnya, ekonomi pengalaman cuma baik bagi pelakunya namun buruk bagi perkembangan budaya. Dari sudut pandang ini, ekonomi pengalaman adalah bubble yang dalam waktu dekat akan meletus. Lagipula, apa yang lebih pas sebagai perwujudan "kapitalisme tingkat lanjut" selain ikut kursus bikin tembikar selama tiga jam di hotel-hotel mahal? Sampai di sini, kita semestinya was-was akan obsesi kita terhadap falsafah macam "rayakan hari ini" atau "alami terus hal-hal baru setiap hari." Sekali lagi tak ada salahnya untuk terus mencoba hal-hal yang baru, seperti juga tak ada salahnya mengkritik obsesi akan itu. Sebab sekeren-kerennya ikut lokakarya ngehip tiap akhir pekan, nongkrong di tempat yang sama dan ngobrol dengan orang yang sama secara konsisten adalah satu-satunya cara membangun skena, subkultur atau apapun itu untuk bertahan lebih lama. Colek @a_n_g_u_s di twitter untuk ngobrol langsung dengan dia