Kolase foto oleh Lisa Kantrowitz.
Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.Musim gugur 1997 merupakan salah satu momen rilis film-film yang kini harus diakui bermutu luar biasa sepanjang sejarah: Boogie Nights, Jackie Brown, The Sweet Hereafter, Wag The Dog, Eve's Bayou, Good Will Hunting, The Ice Storm, Amistad, As Good As It Gets, Gattaca, dan tentunya Titanic, film raksasa yang sempat mencatatkan pemasukan tertinggi sepanjang masa.
Setiap minggu, sejak musim panas sampai musim gugur dua puluh tahun lalu, film-film luar biasa dirilis ke bioskop—kadang sehari rilis dua film keren atau lebih sekaligus. Karya sinema yang kami sebut di atas berani mengambil risiko, punya skenario kuat, memperkenalkan aktor-aktor berbakat baru, dan menegaskan kemampuan para sutradara masa itu menciptakan karya yang menyentuh. Dalam artikel ini, kami berusaha menilik kembali film-film yang rilis berbarengan sepanjang 2017, meneliti kenapa bisa banyak film bagus muncul berbarengan. Kami mencoba memahami elemen positif masa itu, pelajaran yang bisa kita pahami dari industri musik 20 tahun lalu, dan ke arah mana industri musik akan bergerak sejak itu.Ketika membicarakan nostalgia film keren pada masanya, perlu diingat kalau film-film kayak gini justru kerap dilewatkan banyak orang. LA Confidential, misalnya, sempat mendapatkan 9 nominasi Oscar, tapi hanya sanggup meraup pemasukan tertinggi di posisi empat pada minggu pertama peredarannya. Film itu kalah dari cerita bapuk macam Wishmaster, The Game, dan In & Out (gila ya, penonton zaman itu masih lebih seneng nonton film jelek asal dibintangi Kevin Kline). Spot tertinggi di box office 1997 tersebut dikangkangi film-film popcorn klise macam Peacemaker, The Jackal, Kiss the Girls, dan I Know What You Did Last Summer.Intinya, kebanyakan orang kala itu tidak pergi menonton film bagus—misalnya The Edge, karya Lee Tamahori, dirilis 26 September. Di box office, film hebat kayak gini cuma mendarat di posisi keempat, sama seperti LA Confidential. Dalam film tersebut, Charles Morse (diperankan Anthony Hopkins) adalah seorang biliuner sedang menemani istrinya yang bekerja sebagai supermodel (diperankan Elle Macpherson) melakukan sesi foto di alam terbuka Alaska. Namun perlahan-lahan dia mulai mencurigai sang istri berselingkuh dengan fotografernya yang bernama Bob (diperankan Alec Baldwin).Malam ketika mereka tiba, Bob mengatakan Charles adalah "seorang kompanyon dan teman yang baik"—wacana yang benar-benar diuji ketika Charles, Bob, dan asistennya Stephen (diperankan Harold Perrineau) terjebak di dalam hutan liar paska kecelakaan pesawat.Dalam film The Edge, para karakter protagonis harus sanggup bertahan hidup menggunakan kemampuan sendiri, menciptakan api unggun, membuat kompas sementara, dan membunuh beruang kodiak besar. Salah satu kelebihan film ini adalah penggunaan binatang nyata (Bart si beruang, yang juga muncul di film The Bear besutan Jean-Jacques Annaud). Andai saja film ini dibuat beberapa tahun setelahnya, pasti beruangnya dibuat menggunakan teknologi CGI.Sosok mengerikan si beruang benar-benar berdampak ke para aktor, terlihat dari cara mereka bertingkah laku di sekitar makhluk tersebut. Selain sosok beruang yang mengerikan, penggunaan musik seram pilihan Tamahori (score dikerjakan oleh Jerry Goldsmith yang juga terlibat dalam LA Confidential), editan yang mengagetkan, dan suasana tegang yang berhasil diciptakan membuat adegan serangan beruang masuk ke teritori film horor. Akting Hopkins juga terbilang ciamik. Sebagai Charles, dia terlihat kikuk dalam situasi sosial, tapi begitu nyawanya terancam, dia tidak lagi kikuk dan menunjukkan keberanian, "Today, I'm gonna kill the motherfucker."Penggunaan kata umpatan (motherfucker) tidak mengherankan, mengingat naskah film ditulis oleh David Mamet, pemenang Pulitzer Prize bareng penulis Glengarry Glen Ross. Setelah berkolaborasi dalam film The Untouchables, produser Art Linson menantang Mamet untuk menulis naskah sebuah film laga. Sentuhan tangan Mamet terlihat jelas dalam film: dialog panjang yang jenaka dan repetisi rima yang ternyata bercampur padu dengan elemen laga film ini.Dalam retrospeksi, The Edge seolah berfungsi sebagai engsel dalam karir Mamet. Di tahun berikutnya, dia menulis naskah film Ronin. Setelah itu, dia menulis dan menyutradari Heist, Spartan dan Redbelt. Tidak sulit untuk menemukan kesamaan antara perjalanan kisah Charles di The Edge dengan karir Mamet sendiri: seorang intelek kutu buku yang menggunakan otaknya untuk berjuang di kondisi yang keras. Namun lebih dari itu, The Edge juga merefleksikan ide tentang maskulinitas dan heroisme sinematik yang terus berubah-ubah. Charles tidak termotivasi oleh amarah atau keinginan untuk balas dendam, tapi keinginan "untuk melakukan sesuatu…secara tegas."Dibuat berdasarkan novel karya Rick Moody, The Ice Storm mengambil latar belakang suburban Connecticut di masa liburan Thanksgiving di 1973—ditunjukkan oleh gaya busana para karakter dan Richard Nixon yang sedang panik di TV. Karakter Wendy Hood yang berumur 14 tahun (diperankan oleh Christina Ricci) mengatakan "dia mestinya ditembak aja" layaknya seorang aktivis buruh di era modern.Adegan kunci dalam The Ice Storm muncul lumayan awal: di sebuah pesta makan malam komplek perumahan, anak-anak remaja dari keluarga tuan rumah menghabiskan alkohol orang tua mereka di dapur dan mengintip orang tua mereka yang sedang asik ngebaks. Semua orang di film tidak berlaku sesuai umur mereka: para orang tua bersusah payah tidak kehilangan semangat anak muda, sementara anak-anak muda baru pubertas justru sudah sibuk mulai beraktivitas seksual. Ketika Wendy mengatakan ke bocah lelaki tetangganya, Sandy (diperankan Adam Hann-Byrd), "Kalo kamu nunjukkin punyamu, nanti aku tunjukin punyaku", tangan Sandy gemetaran sampe gak bisa buka kancing celana—kemudian dia malah berteriak ke Wendy, "WHAT DO YOU WANT?"The Ice Storm berhasil menangkap masa pubertas yang penuh dengan rasa kikuk dan canggung—berusaha melawan "dorongan-dorongan" ini. (Sandy nantinya lebih nyaman nongkrong bareng Wendy ketika mereka sedang bermain bareng dan berpegangan tangan—ya selayaknya anak kecil pada umumnya.) Tentunya karakter-karakter orang dewasa sudah tidak gemetaran lagi, tapi kehidupan seks mereka justru terasa menyedihkan dan 'wajib'. Di sebuah adegan, Jim (diperankan Jamey Sheridan) mengeluh, "Kenapa ya seks selalu lebih asik dalam pikiranku."Dalam sebuah film yang penuh dengan akting berkaliber tinggi, Joan Allen menonjol sebagai Elena Hood, Ibu dari Wendy dan Paul. Elena Hood menunjukkan imej bahagia biarpun sesungguhnya ada kemarahan yang dia pendam. Kevin Kline memainkan sang suami, Ben, yang berselingkuh dengan tetangga, Janey (diperankan Sigourney Weaver). Elena sadar bahwa suaminya berselingkuh dari awal film ketika dia bertanya ke Ben "Itu produk aftershave baru ya?" Kamera menyorot wajah Elena selagi suami memberikan jawaban seadanya yang tidak memuaskan. Tidak lama kemudian, sang istri tertangkap ngutil dari sebuah apotek—sebagai bentuk rasa frustrasi dan usaha untuk mengendalikan situasi sementara.Janey berusaha melawan ketidakpuasannya dalam hidup dengan cara mengendalikan seksualitasnya—dan dia sudah semakin tidak puas dengan hubungan selingkuhnya dengan Ben. "Kamu membosankan," katanya ke dia. "Saya sudah punya suami. Saya gak butuh suami kedua." Di sebuah adegan ketika Ben menunggu Janey di ranjang, Janey justru diam-diam keluar rumah dan meninggalkannya. Nantinya Janey hanya menjelaskan dengan dingin, "ada acara yang lebih penting."Sutradara Ang Lee dan penulis naskah James Schamus menyelami topik kebosanan kehidupan suburban negara Barat yang nantinya juga dieksplor oleh American Beauty dua tahun kemudian—bagaimana semuanya terlihat sama dan seragam. Salah satu adegan terbaik Lee di film ini adalah ketika Ben sedang berada di stasiun kereta di tengah lautan pengusaha yang berpakaian identikal.Cerita semacam ini selalu melibatkan semacam tragedi, dan kita menghabiskan sebagian besar waktu menonton The Ice Storm menunggu tragedi terjadi. Ketika ini akhirnya terjadi, beban emosionalnya harus ditanggung Kline. Di adegan penutup film yang luar biasa, dia melihat istrinya, kemudian anak-anaknya, dan langsung jatuh menangis. Rasanya sangat membebaskan bagi sang karakter dan penonton, setelah sekian lama, dia akhirnya membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang sejati.Kadang ketika kita sedang membicarakan gairah hidup, kita sengaja melewatkan informasi-informasi detil dan berbicara secara umum agar tidak mengalienasi orang lain. Namun Errol Morris tidak tertarik dengan pendekatan seperti ini. Di dokumenter buatannya Fast, Cheap, & Out of Control, empat subyek wawancara berbicara ngalor ngidul tentang karir mereka yang tidak biasa dengan penuh detil.Morris, yang sebelumnya pernah menyutradarai Gates of Heaven dan The Thin Blue Line, berfokus di empat lelaki: pelatih binatang Dave Hoover, tukang kebun pembentuk tanaman George Mendonca, spesialis curut Ray Mendez, dan ilmuwan robot Rodney Brooks. Pekerjaan mereka yang sangat spesifik menarik perhatian Morris. Lantas kenapa juga empat orang ini ditaruh dalam satu film yang sama? Morris menyukai penjajaran, dan sepanjang film, dia menggunakan imej dari satu cerita untuk menemani teori cerita lainnya dengan penuh akurasi (film ini difoto dengan penuh gaya oleh Robert Richardson, sinematografer reguler Oliver Stone).Film ini bukan biografi dari orang-orang tersebut, atau bahkan eksplorasi dari tema-tema yang disebutkan secara eksplisit. Intinya adalah obsesi manusia—tidak peduli betapa aneh—dan Morris berhasil menangkap orang-orang ini tidak hanya menceritakan kisah mereka, tapi berbagi teori-teori yang mereka kulik sendiri selama bertahun-tahun.
Menggunakan empat orang ini, Morris menanyakan pertanyaan penting: Sebetulnya kesadaran itu apa sih? Fast, Cheap merupakan semacam eksperimen manusia—usaha kita untuk tidak hanya menjadi manusia, tapi menciptakan semacam kepastian dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian.
Topik-topik kayak gitu tergolong berat buat penonton mainstream. Jadi tidak heran 20 tahun yang lalu, penonton memilih ke bioskop menonton Morgan Freeman dan Ashley Judd mengejar seorang pembunuh serial daripada menonton dokumenter nyentrik ini.
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan