Berkat '16 Baris,' Joe Flizzow dari Too Phat Hidupkan Lagi Gairah Kancah Hip-Hop Malaysia

VICE ngobrol bersama Joe Flizzow, rapper legendaris Malaysia yang jadi sosok di balik seri acara Youtube populer 16 Baris.
26.4.18
Photo via Instagram

Kemacetan mengular hingga ratusan meter dari Publika, sebuah pusat perbelanjaan terkenal di Kuala Lumpur. Mobil-mobil berbaris, perlahan mangantre kawasan mall sementara sekumpulan anak muda Malaysia—sebagian menaiki sepeda motor sementara sisinya memilih berjalan kaki—harus rela menyingkir demi memberi jalan pada mobil-mobil yang berjuang masuk ke kawasan.

Ini sejatinya bukan pemandangan yang lazim. Publika memang salah satu tempat nongkrong anak muda yang populer. Hanya saja, saat itu Publika lebih sesak dari biasanya, padahal belum hari Sabtu.

Magnet yang menarik semua orang ini berada tepat di The Bee, venue pertunjukan musik yang ada di dalam Publika. Di bagian luar mall itu, ratusan anak muda—berusia belasan hingga dua puluhan tahun—menunggu dengan penuh semangat meski sejatinya kapasitas venue sudah mencapai kapasitas maksimalnya, 500 pengunjung. Kendati demikian, kerumuman penonton ini tak sedikit pun kelihatan putus. “Buka, Buka,” teriak mereka sambil mengacung kepalan tangan dan ponsel pintar mereka. “Fuck Polis.”

“Panitia tidak menyangkan penonton akan membludak seperti ini,” kata Joe Flizzow, di hari pertunjukan live 16 Baris yang digelar beberapa pekan lalu. “Akhirnya, kami harus meminta petugas kemanan menjaga pintu supaya tidak jebol, kami bahkan sampai harus meminta bantuan Polisi. Kamu harus menutup gerbangnya lebih awal. Saya minta maaf sedalam-dalamnya buat semua penggemar yang tak bisa masuk dan menonton acaranya.”

Ratusan pecinta hip-hop Malaysia rela mengantre berjam-jam sebelum konser Joe Flizzow dimulai. Foto oleh penulis.

16 Baris adalah cypher show, kombinasi battle dan penampilan berbagai MC, dipandu Joe dan tayang sepenuhnya di YouTube. Konten tersebut mulai mengudara sejak Desember 2017, sebagai hasil kolaborasi antara Rocketfuel Entertainment dan Kartel Records. Selama lebih dari 15 minggu, 16 Baris berhasil mendatangkan 45 rapper atau grup hip-hop dari Malaysia, Singapura, serta Indonesia untuk freestyle di dalam salon Joe’s Barbershop. Semua artis yang pernah tampil dalam 16 Baris sejatinya adalah perwujudan selera musik Joe.

Joe’s Barbershop terletak di Subang Jaya, sebuah distrik Negara Bagian Selangor, tempat Joe tumbuh besar. 16 Baris pernah kedatangan MC veteran Malaysia seperti Altimet, Alif, dan Sonaone. Di kesempatan lain, acara yang diampu Joe itu jadi panggung bagi benih-benih baru kancah hip-hop Malaysia macam Fariz Jabba dan Yung Raja. Dua rapper ini secara pribadi dipilih oleh Joe dan satu panel juri dari ratusan MC yang telah mememarkan kemampuan mereka di media sosial via hashtag #16Baris.

“Kalau sekarang sih, kamu tinggal angkat ponsel dan langsung ngerap,” kata Joe saat akhirnya senggang dan bisa saya temui. “Kamu bahkan enggak perlu musik. Tinggal ngerap secara acappella saja, seperti Lil J dari Subang Jaya. Dia ngerap di dalam mobil dan direkam oleh temannya. Nah, kawannya inilah yang mengirim videonya. Bayangkan saja, ketika saya ngirim DM Lil J, dia kaget bukan kepalang.”

Joe menegaskan popularitas 16 Baris awalnya biasa saja. Perlahan acara yang dia asuh terus berkembang lantaran omongan dari mulut ke mulut, dan keramaian beralih ke dunia maya.

“Kami tak pernah membayangkan 16 Baris ditayangkan di TV, karena saya enggak mau membatasi apa yang bisa dikatakan siapapun yang tampil,” katanya. “Di YouTube, kami beranjak dari 0 sampai 400.000 dalam 15 minggu, tanpa sponsor maupun iklan. 16 Baris tak pernah di-boast di media sosial juga. Penonton datang karena membaca komen di setiap episode. Jadi semuanya bisa dibilang sangat organik. Rapper yang tampil tak dibayar karena saya ingin mereka menginginkan tampil di acara ini. Kamu pasti ngerti lah, yang kami sediakan ini platform. Kamu enggak cari uang dari sini.”

16 Baris adalah evolusi karir mengagumkan seorang Joe yang membentang dua dekade terakhir. Joe mengawali karirnya di kancah hip-hop Malaysia pada 1998, sebagian personel duo spektakuler Too Phat. Grup ini sukses menelurkan lima album dan membuka jalan bagi kolektif hip-hop di Malaysia lainnya untuk dikenal publik.

Tepat 10 tahun lalu, Joe mencoba peruntungan bersolo karir, melahirkan dua album President (2008) dan Havoc (2013). Keputusannya tak meleset. Dia sukses menggondol banyak perhargaan dan didampuk sebagai sosok Presiden Hip-Hop di Malaysia.

Joe pun dikenal selalu bangga dengan aksi panggungnya yang berani. Suatu kali, Joe pernah naik panggung sambil mengendarai Maserati.

Selain “santun saat memegang mikrofon,” seperti yang dikatakan sendiri oleh Joe, MC berumur 38 tahun itu berusaha memandang setiap topik dalam konteks yang lebih besar.

Pada 2005, Joe mendirikan Kartel Records, label musik yang sudah menggurita menjadi imperium bisnis besar yang memayungi perusahaan talent management, brand produk gaya hidup, Joe’s Barbershop yang kini sudah membuka 11 cabang di seantero Malaysia (ditambah satu di Singapura), serta line produk perawatan pria. “Hip-hop itu tentang segala hal: musik, fesyen, seni dan budaya. Hip-hop adalah perangkat ekspresi diri,” tegasnya. “Hip-hop adalah segala yang dibutuhkan anak muda.”

Dalam waktu dekat, Joe akan menambahkan clothing line bernama Baek ke kerajaan bisnisnya. barangkali inovasi bisnis Joe adalah perwujudan sempurna dari apa yang dikatakan Joe dalam single tarbarunya “Sampai Jadi,” yang berkisah tentang perjuangan tanpa henti mencapai kesuksesan.

Joe Flizzow saat beraksi di salah satu episode 16 Baris yang tayang 14 April lalu. Foto oleh penulis.

Sebagai seorang MC, Joe sadar betul bahwa braggadocio alias pamer adalah bagian yang terpisahkan dari kultur hip-hop. Meski begitu, Joe kerap sekali menekan pentingnya menjadi rapper yang santun. “Dalam lirik ‘Sampai Jadi’ saya bilang 'jumpa orang lama lutut bengkok badan bongkok.' ini adab orang Asia banget kan?”

Bagaimanapun, Joe sadar posisinya yang penting di kancah hip-hop Malaysia. “Pada akhirnya, setiap kali orang ngomongin Joe Flizzow, mereka bakal mikir, ‘Ah dia mah ada di tingkatan paling atas di skena hip-hop Malaysia’,” kata Joe. “Begitulah aku sering diperkenalkan. Makanya, saya enggak boleh meleng biar enggak tersingkir. Di saat yang sama, kami ingin membangunan koneksi di tingkat regional dan internasional.”

Itulah yang dia lakukan dengan 16 Baris. Di mata Joe, cypher show-nya itu pada dasarnya adalah sebuah upaya mempersatukan kancah hip-hop malaysia dan skena-skena hip-hop di sekitarnya.

“Yang kami lakukan bukan sebuah kompetisi,” tukas Joe. “Kami membuat semua yang tampil kelihatan keren. Bagi saya, adalah sebuah anugrah kami bisa merangkul rapper-rapper ini.”

berbeda dengan season pertama, untuk season kedua 16 Baris, Joe membuka peluang masuknya iklan. Dia pun menaruh harapan dirinya mampu mengggaet MC besar dari luas kawasan Asia. “Lupe Fiasco baru saja mengumumkan jadwal tur dunianya. Dia bakal tampail dalam salah satu episode season kedua 16 Baris," kata Joe. "Ini baru gila."

Rapper-rapper muda dari Singapura Fariz Jabba dan Yung Raja—nama asli mereka berturut-turut Fariz Rashid dan Rajid Ahamed—adalah bukti bahwa 16 Baris bisa menemukan dan mengorbitkan telanta regional baru yang fasih ngerap dalam bahasa Inggris serta bahasa ibu mereka, jelas Joe.

“Jumlah orang yang mengenal karya saya dan Fariz benar-benar meroket pasca kami tampil di 16 Baris," ujar Rajid. "Lewat acaranya, Joe Flizzow sudah resmi mencap kami sebagai rapper betulan, tak cuma rapper amatir di Twitter.”

Fariz dan Rajid secara mengejutkan dapat sambutan hangat di The Bee. ini luar biasa mengingat mereka baru ngerap barang beberapa bulan dan belum sekalipun melemparkan single. Usia Fariz dan Rajid baru dua puluhan.

Kedua sohib kental ini pertama kali di sebuah set film saat mereka ikut audisi untuk melakoni peran kecil etnis Melayu dan India dalam sebah film. Mereka kemudian sadar sama-sama memiliki kecintaan mendalam pada hip-hop. Fariz dan Rajid memang tak manggung sebagai sebuah duo, tapi keduanya menikmati persahabatan di antara mereka di media sosial—salah satu faktor berperan penting dalam melesatnya populartitas mereka berdua.

16 Baris benar-benar mengubah jalan hidup saya,” ujar Fariz. “Saya besar mendengarkan Too Phat dan benar-benar menjadikan Joe sebagai panutan. Reaksi dari penonton yang kami dapatkan kemarin itu gila sih. Saya sangat bersyukur saya masih menjejakkan kaki saya di lantai panggung sebab saya merasa melayang tinggi di udara dan saya enggak mau tersesat.”

Ratusan penonton yang datang dan memadati arena pertunjukan Publika—plus mereka yang tertahan di di luar—untuk menonton pertunjukan live pertama 16 Baris adalah bukti kuat bahwa tayangan ini berterima di generasi muda Malaysia.

“Dengan 16 Baris, kami berhasil membangkitkan raksasa yang tertidur,” kata Joe. “Maksud saya, hip-hop memang enggak kemana-mana. Popularitas genre ini cuma melandai saja di kancah musik Malaysia karena tak ada hal baru yang menarik. Beruntung, kini ada 16 Baris.”