Covering Climate Now

Sebel Deh, Ilmuwan Bilang Anjing dan Kucing Kita Berperan Dalam Kerusakan Lingkungan

Ini kabar buruk yang pasti tidak disukai para penyayang binatang.
7.5.18
Photo: CC0 Public Doman, via

Kolom "Perusak Kebahagiaan" adalah rubrik redaksi VICE UK, mengulas berbagai hal yang kamu sukai secara menyebalkan dan provokatif. Sebab, kolom ini akan membicarakan efek hobimu, termasuk memelihara anjing, yang berdampak buruk buat Planet Bumi. Selamat membaca!


Apa yang dibahas kali ini? Hewan peliharaan.
Wah, masalahnya apaan? Hewan-hewan tersebut, kayak anjing dan kucing, tinggal di rumahmu dan hidupnya bergantung padamu. Keberadaan mereka, tanpa kalian sadari, berpengaruh pada memburuknya kualitas kehidupan di planet bumi.

Berani banget kalian memojokkan hewan peliharaan. Emang masalahnya apaan?

Santai, mayoritas manusia suka kok sama hewan peliharaan—anjing dan kucingmu yang sering dipamerkan di IG itu juga kita suka deh. Beneran. Si item, atau nama apapun yang kalian berikan kepada hewan-hewan tersebut, kami yakin adalah hewan peliharaan terbaik di seluruh bumi—minimal di mata pemiliknya. Tapi, benarkah keberadaan si item baik untuk planet ini? Membaca paragraf di atas, sebagian pemilik hewan peliharaan pasti mikir, "emang anjingku segitunya merusak lingkungan?" Sayangnya, jawabannya adalah: betul sekali.

“Keberadaan hewan peliharaan berdampak besar pada lingkungan,” kata Gregory Okin, Guru Besar Ilmu Geografi di UCLA. Dia menulis penelitian yang belum lama ini terbit mengenai dampak hewan peliharaan terhadap lingkungan. “Perlu diingat, hewan rumahan juga bisa menyebarkan penyakit, mencemari saluran air dan zona pesisir melalui limbah kotoran mereka. Hewan peliharaan juga memiliki efek buruk pada satwa liar. Hewan-hewan yang sengaja dibiakkan manusia kerap membawa toksoplasmosis, yang bisa berbahaya, terutama bagi orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh tak optimal. Makanan mereka juga memiliki dampak pada lingkungan.”

Mampus dah. Panjang bener dampak buruknya.

Iklan

Masalahnya bukan semata-mata sama kucing atau anjingmu. Makanan si item itulah yang jadi kekhawatiran utama ilmuwan terkait kerusakan lingkungan. Sebagian besar anjing dan kucing rumahan mengonsumsi potongan basah dari lemak sapi dan kepala ayam yang dilumatkan. Menurut penelitian Gregory, proses industri makanan hewan peliharaan menghasilkan setara 64 juta ton CO2 per tahun. Karbon sebesar itu memiliki dampak lingkungan sama dengan jumlah paparan asap selama setahun dari 13,6 juta mobil.

Jika statistik tersebut kita kaitkan dengan manusia, maka kucing dan anjing peliharaan bertanggung jawab atas hingga 30 persen dampak lingkungan dari konsumsi daging global. Jangan lupakan semua kotoran anjing yang harus kamu pungut. Di Amerika Serikat doang, hewan peliharaan menghasilkan sekitar 5,1 juta ton kotoran setiap tahun—jumlah yang sama dengan 90 juta jiwa penduduk Amerika—yang tentu saja menghasilkan CO2 besar saat diproses.


Tonton dokumenter VICE mengenai layanan kremasi hewan peliharaan yang mengharukan:


Jadi, apakah si item meski menggemaskan, sebetulnya salah satu ancaman terbesar yang bagi lingkungan? Enggak otomatis begitu, tapi akui saja dulu kalau banyaknya hewan peliharaan berperan dalam peningkatan karbon di atmosfer.

“Pada dasarnya, saya pikir banyak orang yang enggak ngeh sama fakta bahwa hewan peliharaan mungkin memiliki dampak terhadap produksi karbon,” kata Gregory. “Orang-orang, terutama di negara maju, sangat sadar sama pilihan etis yang berkaitan dengan mengemudi, konsumsi air, polusi pupuk, dan sebagainya. Tetapi mereka kurang sadar akan dampak pilihan mereka saat memutuskan punya hewan peliharaan—atau pilihan untuk memiliki jenis hewan peliharaan tertentu—terhadap lingkungan.”

Iklan

Kita tidak boleh membebankan semua kesalahan pada anjing dan kucing. Efek karbon ini juga perlu dilihat dari kebiasaan memelihara ikan, atau hewan eksotis seperti ular, atau hewan peliharaan lain yang membutuhkan panas, kehangatan, sampai cahaya untuk bertahan hidup. Akuarium sampai kandang binatang kesayanganmu membutuhkan listrik dalam jumlah besar lho. Makanya, kombinasi semua aktivitas tersebut dapat menghasilkan CO2 dalam skala massif. Tapi, kita juga berhak lho menyalahkan anjing dan kucing. Terutama kalau anjing dan kucingmu berukuran besar dan makannya banyak.

“Seekor anjing besar yang makanannya dipenuhi daging memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap lingkungan daripada anjing atau kucing kecil,” ujar Gregory. “Karena ukuran dan konsumsi daging mereka, anjing yang lebih besar memiliki dampak merusak yang lebih besar daripada hamster atau tikus, yang masuk kategori herbivora.”

Terus, Solusinya Apa Dong?

“Salah satu pilihan paling penting yang dapat dilakukan penyayang binatang adalah memberi makanan dengan kandungan daging tidak terlalu banyak,” ujar Gregory. “Anjing kan bukan serigala: Mereka tidak membutuhkan konsumsi daging dalam jumlah besar. Sebagian besar informasi yang didapat orang tentang kebutuhan anjing mereka berasal dari pemasaran perusahaan yang mencoba menjual produk panganan hewan lebih banyak dan lebih mahal."

“Orang-orang harus ngobrol dengan dokter hewan mereka tentang diet optimal untuk hewan mereka. Patuhi rekomendasi tersebut," kata Gregory. "Jangan sekadar mengikuti info dari perusahaan makanan hewan. Orang-orang juga harus rajin membersihkan kotoran hewan peliharaan mereka. Feses hewan peliharaan adalah cara utama mereka menyebarkan patogen.”

Follow penulis artikel ini di akun @tom_usher. Jangan musuhi Tom, karena dia sebenarnya juga penyayang binatang