Tragedi Bom Nuklir

Penyintas Bom Nuklir Hiroshima Mengenang Pagi Ketika Kota Mereka Lenyap

Tragedi 72 tahun lalu itu terus membekas, ketika untuk pertama kalinya sebuah kota hancur lebur akibat bom nuklir.
Kazuhiko Futagawa menampilkan foto keluarganya yang selamat maupun tidak pada saat bom nuklir jatuh di Hiroshima. Semua foto oleh penulis.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia

Ketika matahari belum beranjak jauh dari ufuk pada 6 Agustus 1945, sebuah pesawat pengebom Boeing B-29 yang dinamai Enola Gay meninggalkan Pulau Tinian menuju Hiroshima. Setelah menerima instruksi, pesawat tersebut menjatuhkan sebuah bom yang mengandung 64 kilogram uranium-235, disebut “Little Boy.” Pukul 08:15, sekitar 600 meter di atas pusat kota Hiroshima, Little Boy meledak dengan kekuatan setara 16 kiloton TNT dan menghancurkan semua obyek dalam radius dua kilometer. Paling tidak 70.000 penduduk kota Jepang tersebut langsung terbunuh. Pada akhir Desember 1945, sekitar 140.000 orang mengalami paparan radiasi dan luka-luka.

Iklan

Kini, para penyintas ledakan tersebut disebut sebagai hibakusha di Jepang. Setiap tahun, pada tanggal 6 Agustus, sebuah upacara memorial diadakan di Taman Perdamaian Hiroshima. Mengheningkan cipta dilakukan pada pukul 8:15, untuk mengenang para korban, dan menghormati para penyintas. Pada perayaan 2017 lalu, walikota Hiroshima menekankan pentingnya menjaga memori para hibakusha, yang rata-rata umurnya sudah di atas 81 tahun.

Saya menyambangi upacara tersebut dan berbincang-bincang dengan tiga penyintas setelahnya. Berikut ingatan mereka tentang 6 Agustus 1945, sesuai dengan bantuan pihak penerjemah.

Hiroko Watanabe (83 Tahun)

Hiroko berumur 13 tahun ketika bom atom meledak di Hiroshima. Saat itu, dia merupakan salah satu murid sekolah yang dikerahkan untuk membantu menghancurkan gedung yang terkena bom di Tsurumi-cho, 1.5 kilometer dari pusat ledakan. Dia tersipu ketika saya memfoto dirinya, dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang. Sang penerjemah tertawa dan mengatakan “Dia bilang wajahnya cantik, tapi tidak dalam foto, dia lebih cantik ketika menggunakan kimono.”

Pada pagi 6 Agustus, saya meninggalkan rumah saya pukul 7.30 untuk menghadiri aksi penghancuran gedung. Satu saat, saya menoleh ke langit dan melihat sebuah pesawat yang sedang terbang. Saya menyadari pesawat tersebut tidak memiliki bendera negara kami. Kemudian saya melihat sesuatu jatuh dari pesawat. Kemudian tiba-tiba ada sinar dan saya jatuh pingsan. Saya tidak tahu berapa lama saya tidak sadar. Ketika mata saya terbuka, semuanya gelap total, dan banyak orang berlarian di sekitar saya. Saya masih berada di tanah dan menyadari saya berada di atas mayat orang lain. Saya tidak tahu apakah itu lelaki atau perempuan. Yang pasti, sudah tidak bernyawa.

Iklan

Saya mulai berlari. Saya hampir telanjang, pakaian dan tubuh saya hampir gosong semua dan sisanya sudah sobek-sobek. Bahkan celana dalam saya sudah robek-robek, tapi saya terus berlari ke arah rumah saya. Akhirnya saya tiba di jembatan Tsurumi. Banyak orang berada di dekat sungai. Saya menyaksikan satu demi satu orang yang cedera masuk ke dalam sungai. Saya berteriak “Kembali! Kembali! Kamu akan tenggelam! Sekarang lagi pasang airnya!” Saya terus berteriak tapi mereka tidak mendengarkan. Satu demi satu, mereka masuk ke air dan tidak pernah keluar lagi.

Saya terus berjalan melewati sungai dan melihat teman sekelas saya. Dia menangis mencari ibunya dan tidak bisa bergerak sama sekali. Di jalan pulang, banyak orang memanggil nama saya. “Hiroko! Hiroko!” jadi saya pikir wajah saya masih jelas, tapi saya tidak mengenali mereka karena rambutnya sudah hangus terbakar dan wajah mereka bengkak akibat ledakan. Kenapa wajah saya tidak rusak? Mungkin karena saya menutup wajah dengan tangan kiri ketika sedang menoleh ke langit ketika bom meledak. Tidak heran tangan kiri saya terbakar hangus!

Ketika tiba di rumah, rumah saya sudah ambruk. “Ibu! Ayah!” saya berteriak keras-keras. Ayah saya muncul dari belakang puing-puing rumah. Kemudian saya melihat ibu saya dengan potongan gelas dan piring menusuk tangan kanannya. Dia juga memiliki lubang kecil di dadanya yang terus mengeluarkan darah. Ayah saya juga berlubang punggungnya, tapi dia merawat ibu saya dulu.

Iklan

Nantinya, para petugas mulai mengirimkan bantuan dan orang tua saya memohon mereka untuk memberikan obat untuk anak perempuannya. Mereka menjawab bahwa mereka hanya diperbolehkan memberikan obat untuk pasien yang menjanjikan, alias yang masih akan hidup. Astaga, pikirku, aku akan mati sebentar lagi. Seseorang bertanya ke ayah apabila saya seorang laki-laki, dan di titik itu, saya menyadari bahwa rambut saya sudah habis semua. Ayah membungkus kepala saya dengan handuk dan menaruh saya di ranjang. Saya tidak bisa bergerak sama sekali. Sekarang saya masih hidup dan sehat dan bersyukur bahwa ayah saya merawat saya dengan baik. Saya tidak akan hidup tanpa dukungannya.

Kazuhiko Futagawa (71 Tahun)

Kazuhiko dilahirkan delapan bulan setelah bom Hiroshima meledak. Ibunya yang hamil mencari suami dan anak perempuannya yang hilang di pusat penampungan saat itu. Kemungkinan besar sang suami telah terpapar radiasi tingkat tinggi. Kini Kazuhiko adalah anggota dari Hibakusha In-Utero Network. Kazuhiko berdiri ramah ketika dia menyetujui wawancara ini. Dia menyalami tangan saya ketika kami hendak duduk.

Saya lahir pada 1 April 1946. Delapan bulan setelah bom A, jadi saya adalah hikabusha yang termuda. Ayah dan kakak perempuan saya meninggal, tapi ibu saya tidak pernah bercerita tentang bom tersebut, jadi cerita saya merupakan kumpulan dari kisah-kisah tante, sepupu dan relatif lainnya. Rumah keluarga saya berada 8.8 kilometer dari pusat ledakan saat itu, tapi tetap saja, ledakannya menghempaskan pintu rumah dan menghancurkan semua kaca.

Iklan

Kenangan terakhir dari sang kakak yang masih dimiliki Kazuhiko. Kenangan itu berupa seragam sekolah yang tidak dikenakan mendiang saat bom nuklir jatuh di Hiroshima.

Sebelum pemboman terjadi, ayah saya bekerja di kantor pos yang berada 300 meter dari pusat ledakan. Dia kemungkinan baru mulai bekerja ketika bom meledak. Dia pasti akan langsung terbunuh oleh ledakan dan hawa panasnya. Dia berumur 47 tahun saat itu. Kakak perempuan saya juga meninggal, dan dia baru berumur 13 tahun. Di masa akhir perang, banyak kota-kota di Jepang menjadi target bom api, jadi di Hiroshima, banyak anak sekolah yang agak besar diperkerjakan untuk menghancurkan gedung—ini yang dilakukan kakak saya ketika dia meninggal. Dia bekerja sekitar 600 meter dari pusat ledakan. Sekitar 8.400 murid sedang melakukan penghancuran gedung di seluruh penjuru kota, dan hampir 6.300 dari mereka terbunuh. Kakak saya adalah salah satunya.

Pusat kota hancur lebur karena bom-A, seisi kota terbakar, jadi tidak ada orang luar yang bisa masuk. Barulah keesokan harinya, ibu saya menuju pusat ledakan tempat kantor pos ayah dan kakak saya berada. Dia menelusuri pinggir sungai dan kota setiap hari, mencari mereka. Tapi mereka tidak pernah ditemukan. Dia berumur 32 tahun dan hamil saya dua bulan saat itu.

Keiko Ogura (80 Tahun)

Foto Keiko dari arsip HIP

Keiko adalah murid SD berumur delapan tahun saat itu, sedang berada di jalan dekat rumahnya di Ushita, 2.4 kilometer dari pusat ledakan. Dia kini menjabat sebagai Direktur dari Hiroshima Interpreters for Peace. Ramah dan pandai berbicara, Keiko tidak menggunakan penerjemah untuk wawancara ini.

Iklan

Di hari pengeboman, ayah saya berkata “Keiko, hari ini kamu gak usah ke sekolah, sesuatu mungkin akan terjadi.” Dia memiliki firasat itu. Ketika bom meledak, saya berada di jalan dekat rumah dan tiba-tiba ada sinar terang dan semua berubah menjadi putih, seakan mata saya ditutup dengan kain putih, dan saya jatuh pingsan. Ketika mata terbuka, saya pikir sudah malam karena semuanya sangat gelap, tapi sebetulnya langit hanya penuh dengan jelaga dan puing lainnya. Dekat rumah saya ada api, dan saya sangat ketakutan. Suara pertama yang terdengar adalah tangisan adik lelaki saya. Saya mencarinya dan melihat pintu kaca rumah sudah hancur, dan ribuan potongan kaca pintu menempel di tembok dan atap. Saya keluar dari rumah dan merasakan ada yang jatuh. Saya menoleh ke atas dan melihat hujan berwarna hitam.

Di depan stasiun Hiroshima ada sebuah bukit, dan saya tinggal di belakang bukit ini. Banyak orang menderita tapi saya selamat karena tidak pergi ke sekolah. Orang-orang yang datang untuk membantu tidak tahu bahwa masuk ke dalam kota sangatlah berbahaya. Banyak yang masuk ke kota nantinya sakit dan meninggal. Semakin muda mereka, semakin mereka rentan terpapar radiasi. Kami tidak tahu kenapa orang-orang yang datang menjadi sakit. Kami menderita selama bertahun-tahun—orang-orang tanpa bekas luka meninggal begitu saja.

Rumah suami kakak saya dulu terletak di lokasi taman perdamaian sekarang. Dia berusaha sangat keras mencari informasi tentang apa yang menimpa keluarganya. Para penyintas berusaha mencari tahu apabila anggota keluarga mereka masih hidup. Apabila telah meninggal, mereka tetap ingin menemukan mayatnya. Saya sudah bertemu banyak sekali penyintas yang melihat mayat keluarganya sebelum dikremasi dan berteriak “Stop! Itu anak perempuan saya!” Orang-orang kemudian akan berkata “Kamu beruntung bisa menemukan anakmu.” Sulit untuk menemukan informasi apapun. Orang-orang berusaha keras untuk mencari siapapun yang menyaksikan kematian anggota keluarganya. Saudara ipar saya terus melakukan ini selama 60 tahun sebelum akhirnya menyerah.

Follow David di Instagram

Ucapan terima kasih dihaturkan redaksi VICE untuk Hiroshima Interpreters for Peace (HIP) dan Juru Bicara Hiroshima Peace Memorial Museum.