Sudah lewat sebulan lebih sejak Hari Perempuan Internasional dirayakan 8 Maret lalu. Di hari tersebut, para perempuan di berbagai kota turun ke jalan dalam aksi bertajuk Women’s March untuk menggemakan beragam tuntutan dan ekspresi (kekesalan) akan maraknya kasus pelanggaran hak dan pelecehan seksual yang acap dialami perempuan. Namun alih-alih tersadar, banyak kelompok yang malah balik menyerang gerakan dan tak segan menyebutnya sesat.
Jari saya pun berjingkat menelusuri unggahan-unggahan Women’s March di jagat maya. Tagar #womensmarch ramai di Instagram. Foto-foto dan poster aksi tersebar di linimasa. Hingga akhirnya mata dan seluruh perhatian saya tersedot pada sebuah unggahan di akun dakwah Instagram. Isinya sungguh ‘menakjubkan’. Dilengkapi tagar #feminismabok, #sayaantifeminisme, hingga #stopfeminism, foto para peserta aksi Women’s March diunggah dengan judul foto berisi makian dan sumpah serapah. Komentarnya tak kalah ‘mencengangkan’. Ada saja yang berpendapat kalau feminisme pantas diberangus karena merupakan upaya westernisasi dan para feminis cuma hobi buka aurat. Bahkan, ada yang seenaknya menyebutkan, “pantas saja perempuan lebih banyak di neraka”. Wow.
Berbagai argumen tentang buruknya feminisme makin gencar mencuat. Mulai dari feminisme gerakan barat, tak sesuai dengan Islam, feminisme melawan hukum Tuhan, pelecehan seksual terjadi karena perempuan berpakaian seronok, hingga pandangan seorang Muslim tak akan sahih menjadi Muslim jika ia mendukung feminisme. Suara-suara seperti ini terus dikoarkan melalui corong media sosial dan diviralkan.
Seluruh argumentasi ini jelas melihat gerakan feminisme dan Islam tak akan pernah sejalan. Feminisme dipandang merusak spirit ke-Islam-an, karenanya gerakan ini tidaklah halal. Yha baiklah. Ingin rasanya marah-marah.
Namun, daripada marah-marah sendiri tanpa jelas mengetahui seluk beluk dan kebenarannya, saya mencoba menghubungi seorang feminis sekaligus pakar kajian Islam dan Gender dari UI, Iklilah Muzayyanah. Dari dia, saya jadi paham kalau sesungguhnya ada spirit ke-Islam-an yang selaras dengan gerakan feminisme, yakni upaya menuntaskan masalah ketidakadilan. Tak hanya itu, baik Islam maupun feminisme juga sejalan dalam menyuarakan otoritas tubuh perempuan.
Berikut adalah rangkuman percakapan VICE dengan Iklilah yang percaya betul bahwa nilai-nilai feminisme itu selaras dengan nilai-nilai Islam:
Banyak yang bilang kalau feminisme itu dari Barat, bentuk westernisasi dan enggak sesuai dengan budaya ‘ketimuran’ dan Islam itu sendiri. Benar enggak sih, Mbak?
Gini, ketika paham feminisme dihubungkan dengan Islam harus diakui konsep tentang feminisme itu dari barat. Istilahnya aja pakai Bahasa inggris, feminisme. Tapi sesungguhnya nilai yang diperjuangkan dalam feminisme adalah nilai Islam. Jadi orientasi perjuangan feminisme kan membongkar ketidakadilan. Semangat ini sejatinya nilai spirit dalam Islam.
Sama dengan perjuangan Rasulullah ketika Ia berdakwah, orientasi yang ia perjuangkan adalah membela kelompok yang lemah. jadi, tidak hanya perempuan yang dibela oleh Rasul, tapi juga kelompok minoritas.
Jadi kalau kembali pada pertanyaan apakah feminisme itu barat, kalau dari segi term-nya iya. Namun, dari segi prinsipnya sesungguhnya sejalan dengan nilai perjuangan Islam.
Bagaimana tentang ide otoritas tubuh? Ada ‘keributan’ yang menyebutkan konsep otoritas tubuh menghancurkan kemuslimahan. Pendapat Anda?
Kalau saya bilang justru sebaliknya. Ketika berbicara tentang otoritas tubuh, itu sejatinya adalah bagian dari nilai ajaran Islam. Dan itu bisa dibuktikan. misalnya, dalam ketentuan seseorang mau menikah dengan siapa. Di dalam Islam, perempuan diberi hak untuk memutuskan. Dalam perkawinan, perempuan boleh menentukan pasangannya sendiri, juga soal relasi seksual suami-istri. Di dalam relasi seksual suami-istri itu banyak sekali hadits yang menjelaskan bahwa suami harus memperhatikan hak kenikmatan istri. Hak istri menikmati hubungan seksual. Itu banyak hadits yang jelaskan soal itu. sehingga, saya melihat tubuh perempuan itu memang menjadi hak otoritas dirinya.
Nah hal lain yang memahami bagaimana otoritas tubuh diatur betul dalam Islam adalah bicara soal khitan perempuan. Itu di dalam Islam juga menjadi bahasan yang cukup mendasar, bagaimana dalam satu konteks Rasul tiba-tiba ingatkan soal khitan kepada pengkhitan perempuan di zaman itu mengingatkan khitan itu jangan dilakukan secara berlebihan, karena sesuatu yang kamu potong itu, kata hadits itu, sesungguhnya yang membuat perempuan merasa bahagia dan cerah mukanya, dan suaminya merasa bahagia.
Sehingga kalau misalnya ditarik dalam konteks feminis bagaimana mereka perjuangkan hak atas tubuh perempuan saya kira itu sejalan dengan nilai-nilai Islam. Otoritas tubuh itu dalam Islam dilindungi, dijamin, tetapi dalam kerangka kemaslahatan. Itu yang terpenting.
Ramai sekali perdebatan tentang pelecehan seksual akibat aurat terbuka. Korban disalahkan karena pakaian yang dikenakan dianggap ‘memancing’ tindak pelecehan seksual.
Pandangan bahwa pelecehan seksual bahkan perkosaan karena alasan pakaian yang terbuka menurut saya itu pandangan yang salah. Karena ketika kita bicara soal pelecehan seksual itu bicara soal relasi kekuasaan. Jadi pelaku pelecehan seksual sejatinya menunjukkan bahwa ia memiliki relasi yang lebih tinggi dibandingkan korbannya, entah ia kenal maupun tidak kenal. Bicara soal pelecehan seksual itu bukan bicara tentang pakaian. Bukan bicara soal cara berpakaian. Tidak juga bicara soal aurat. Tapi ia bicara soal relasi kuasa antara pelaku dengan korban.
Jadi di satu sisi ada soal relasi kuasa, dan sisi lain sejatinya karena otaknya laki-laki masih menempatkan sebagai tubuh perempuan objek seksual. Itu problem mendasar. Karena buktinya pelecehan seksual itu tidak hanya dialami oleh perempuan berpakaian minim. Pada perempuan yang pakaiannya tertutup pun, jilbab, bahkan bercadar pun mereka punya potensi, rentan untuk menjadi korban pelecehan seksual. Karena ini masalahnya soal isi otak laki-laki tentang tubuh perempuan. Begitu.
Menurut saya salah ketika orang menempatkan korban pelecehan seksual karena pakaiannya. Itu salah melihat.
Berkaitan dengan relasi gender. Feminis banyak dirisak karena mendukung transgender. Kalau dari Islam sendiri memandangnya seperti apa tentang gender?
Kalau saya ditanya posisi saya, saya masih melihat bahwa Islam itu mengatur hubungan seksual yang mengarah pada heteroseksual. Karena itu menjadi bagian dari keberlangsungan kehidupan kemanusiaan. Keturunan itu kan tidak bisa dilakukan dengan cara homoseksual. Sehingga orientasinya ke sana. Namun, kalau saya sendiri ditanya tentang memposisikan LGBT dalam kehidupan sosial, saya bilang pilihan orientasi sebagai hak individu setiap manusia. Nah, saya sebagai seorang yang masih mengimani hukum di dalam Islam, itu memposisikan mereka sebagai bagian dari komunitas kita. Di satu sisi kita harus hormati pilihan dia sebagai haknya, soal bahwa ia berdosa atau tidak kita tidak bisa menghakimi itu. Karena itu adalah hubungan dia dengan Tuhan.
Kita sebagai Muslim tidak berhak untuk menghakimi, “wah kamu pasti berdosa, kamu pasti masuk neraka,” karena kita tidak pernah tahu, orang yang salat paling rajin itu pasti meninggalnya khusnul khotimah. Kita tidak pernah tahu. Sebagai muslim, kita tidak boleh tinggi hati karena merasa sudah banyak berbuat baik. Karena kita masuk surga atau neraka itu tidak dilihat dari hitungan matematis jumlah kebaikan kita sebanyak apa. Tidak. Melainkan sebanyak apa rahmat Tuhan diberikan pada kita, kemaafan Tuhan diberikan pada kita di akhir hayat kita. Begitu. Sehingga, ketika berbicara tentang kelompok LGBT, saya selalu menekankan bahwa itu adalah hak individu dia soal pilihan dia adalah tanggung jawab dia di hadapan Tuhan. Tetapi kita sebagai orang yang tinggal bersama mereka harus menghormati pilihan itu dan tidak menjadikannya alasan untuk berbuat kekerasan pada mereka.
Ada yang berpendapat kalau menjadi seorang feminis itu tidak bisa menjadi Islam sepenuhnya, dan juga sebaliknya. Pendapat Anda?
Kalau dari basis pengalaman saya, justru saya belajar feminisme, konsep keadilan gender, konsep tentang feminis justru membuat saya lebih bisa memahami Islam secara lebih baik. Jadi misalnya dulu banyak pertanyaan yang timbul di dalam benak saya, soal bagaimana praktik masyarakat Muslim yang buat saya aneh gitu. Misalnya poligami. Loh kok Islam gitu amat ya? Ada banyak pertanyaan yang membuat saya, ah masa sih Islam seperti ini? Masa sih Allah seperti itu? Mana keadilan Allah kalau ternyata poligami dapat dilakukan tanpa seizin istri? Tetapi setelah saya belajar feminisme dan gender, justru saya bisa memahami ajaran Islam secara lebih baik. Karena saya belajar tentang nilai spiritualitas yang dibangun dalam setiap kebijakan atau aturan dalam Islam. Justru aku menjadi lebih yakin kalau Islam adalah agama yang paling benar buatku justru ketika aku paham bagaimana aliran feminis itu berkembang, apa yang diperjuangkan, yang kemudian saya tarik dalam konteks Islam.
Buat saya, justru dengan kita belajar teori tentang feminis, kita bisa memahami Islam secara lebih baik. Jadi tidak buta dan asal ikut pendapat orang secara buta, tetapi menerima satu konsep, satu tafsir, ajaran secara kritis. Saya mendapatkan nilai spiritualnya.
Bagaimana dengan perdebatan tentang poligami?
Bicara poligami sangat kontekstual. Kalau bicara tentang sejarahnya, di mana ayat tentang poligami itu turun dalam ajaran Islam kan sejatinya bukan bicara soal poligaminya. Tetapi bicara soal perlindungan hak anak yatimnya. Di ayat itu poligami hanya sebagai negosiasi--dalam bahasa sederhananya.
Tapi kan model negosiasi ini bukan bermakna artinya kamu boleh poligami dalam situasi tanpa konteks. Kan tidak juga. Begitu. Jadi, kalau saya memahami tentang tafsir poligami, ayat tentang poligami di Al-Quran, sejatinya Islam itu monogami. Poligami adalah negosiasi yang terakhir dalam konteks yang sangat susah. Tidak semudah praktik yang terjadi di Indonesia. Jadi spiritnya ayat tentang poligami itu tentang perlindungan hak anak yatim yang sering kali terlewat dalam wacana poligami di masyarakat Muslim. Jadi penegasannya tentang kebolehan poligaminya, tetapi konteksnya itu lewat dan hilang. Jadi nilai spirit dari ayat itu jadi hilang.
Juga, di dalam ayat yang lain, disebutkan bahwa poligami mewajibkan sikap yang adil. Nah, di ayat lain lagi, orang yang melakukan poligami tidak akan pernah mampu berbuat adil. Di situ Tuhan sudah menyatakan kalau yakin betul bahwa manusia mau sekuat tenaga berbuat adil pun pada istrinya itu tidak akan mampu. Jadi kalau tidak mampu berbuat adil ya jangan poligami. Karena syarat dan prasyarat untuk melakukan poligami itu berbuat adil.
Berbuatlah adil untuk mendekatkan kamu pada ketakwaan. Nah, di ayat yang lain disebutkan kamu tidak akan mungkin bisa berbuat adil kepada para istri meski kamu sudah berusaha keras. Jadi maksudnya apa? Maksudnya ya jangan poligami, karena kamu tidak akan pernah bisa memenuhi syarat itu.
Posisi feminisme dalam Islam dan bagaimana Islam memandang feminisme?
Kalau saya sebagai seorang muslim memandang feminisme sebagai satu gerakan yang berorientasi pada keadilan yang sejalan dengan perjuangan yang diperjuangkan oleh Islam. Nah, dari sisi feminis sendiri, sesungguhnya saya sebagai muslim yang feminis melihat feminisme membantu kita untuk melihat realitas kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan jadi lebih tahu cara advokasi dan memperjuangkannya. Karena feminisme kan lebih pada upaya gerakannya untuk mewujudkan keadilan.
Jadi, nilai spirit yang dibangun dalam Islam dicoba diimplementasikan dengan cara advokasi yang salah satunya dikembangkan oleh gerakan feminisme. Meskipun di Islam sendiri ada ajaran-ajaran terkait upaya advokasi, bagaimana langkah advokasi. Tetapi dengan adanya teori dan gerakan feminisme itu memperkuat upaya advokasi yang dilakukan dalam kerangka keadilan yang diperjuangkan Islam. Saya kira begitu, keduanya saling menguatkan.
