Suara Marginal

Qahera, Karakter Superhero Berhijab asal Mesir Membasmi Pemikiran Misoginis

Ilustrator Deena Mohamed, pencipta tokoh Qahera, berupaya agar karyanya dapat meruntuhkan stereotipe terhadap perempuan muslim.
31.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Impact, situs VICE yang fokus mengangkat isu pemberdayaan dan keadilan sosial.

"Jika kamu harus memilih permen yang masih terbungkus atau yang sudah kebuka, kamu pasti milih yang masih kebungkus kan?! Begitulah. Menutup aurat itu seperti cara kita memilih permen. Tujuannya benar-benar demi menjaga harkat wanita."

Bagi Qahera—pahlawan super berhijab yang sekilas mirip ninja—pernyataan di atas terdengar "tai kucing misoginis." Qahera diciptakan dengan kemampuan yang sangat spesifik: kupingnya sangat sensitif menangkap ujaran-ujaran misoginis sampah. Begitu ujaran penuh kebencian pada wanita itu sampai ke kuping Qahera, dia bakal langsung datang, meladeni siapapun yang mengeluarkan ujaran yang merendahkan perempuan.

Iklan

"Qahera', bentuk feminin dari kata "qaher", artinya menang atau penakluk. Nama Qahera sendiri adalah sebutan dalam bahasa Arab untuk Kairo. Kini, Qahera adalah nama tokoh komik superhero perempuan dari Mesir.

Pencipta tokoh Qahera adalah Deena Mohamed, mahasiswa merangkap ilustrator berbasis di Ibu Kota Kairo, Mesir. VICE berkesempatan menemui Deena. Kami ngobrol tentang kesetaraan gender, agenda mengobrak-abrik status quo, serta di mana peranan superhero dalam agenda perubahan sosial Mesir.

VICE Impact: Kamu pertama kali mengunggah komik Qahera di Facebook. Boleh tahu bagaimana kamu mendapatkan ide karakter superhero berhijab?
Deena Mohamed: Aku masih ingat banget, waktu itu aku baru saja membaca
Artikel misoginis tentang perempuan di sebuah situs yang misoginis. Kontennya menyeramkan kalau kamu menelan mentah-mentah begitu saja. Tokoh ini lahir kurang lebih dari insting saya untuk mengolok-olok artikel tersebut.

Setelah mendapat respon positif, aku kemudian membuat beberapa komik lagi. Baru setelah komikku menyentuh masalah pelecehan seksual, isinya berubah total. Awalnya cuma komik strip penuh guyonan, menjadi komik berisi analisis situasi terkini Mesir, serta dipenuhi muatan kritik sosial terhadap apa yang terjadi di negaraku, terutama ketika aku mulai menulis komik Qahera dalam bahasa Arab.

Foto via Qaherathesuperhero.com

Qahera mengenakan hijab. Bagaimana kamu mengembangkan gaya dan penampilannya?
Ide penempilan Qahera datang dari niatan untuk membuat karakter ini sangat muslim dan menyasar isu yang dialami oleh perempuan muslim. Menurutku, perempuan muslim adalah anggota paling rentan dan paling tidak terwakili dalam komunitas muslim. Karena, saya ingin menampilkan Qahera sebagai perempuan yang memakai berhijab dan abaya, yang terhitung dandanan tradisional Mesir. Qahera juga melambangkan perempuan relijius sekaligus seorang feminis yang gigih memperjuangkan hak mereka. Qahera mendobrak stereotipe perempuan feminis muslim.

Qahera menjadi inspirasi bagi di penduduk Mesir dan perempuan muslim (serta perempuan di seluruh dunia). Tapi, kenapa kamu bilang kalau Qahera bukan diciptakan sebagai seorang panutan?
Aku merasa orang terlalu memuji komik Qahera karena mereka tak sadar bahwa sosok Qahera adalah kebanyakan perempuan di Mesir. Komik dua dimensi ini mendapatkan banyak perhatian dari dunia internasional, sementara di saat yang sama perempuan Mesir mengalami kekerasan seksual dan menggalang tindakan untuk melawannya.

Foto via Qaherathesuperhero.com

Aku merasa Qahera menjadi sosok yang inspiratif karena pembaca melihat gambaran dirinya sendiri dalam tokoh ini. Tapi, jika Qahera dianggap sebagai role model, aku takut melebih-lebih kapasitas sebuah komik strip satir dan malah menyepelekan kemampuan sebenarnya perempuan Mesir yang seperti Qahera, atau malah jauh lebih hebat darinya.

Bisa jelaskan sebenarnya apa misi yang diemban Qahera?
Superhero adalah produk budaya dari Amerika Serikat. Dalam sejarahya, superhero punya tugas untuk melindungi pandangan hidup tertentu dari tangan jahat penjahat super, atau berusaha bisa berterima di Mayarakat. Di Mesir, kamu tak punya ilusi tentang kehidupan seperti itu, terutama dalam generasi pascarevolusi 2011. Tujuan kami selama ini adalah melakukan perubahan. Jadi, sebuah komik strip yang menyasar permasalahan sosial juga memiliki misi yang sama toh?

Iklan

Menurutku, kamu juga pasti sudah melihat ada perubahan dalam kancah komik Amerika. Para pembuatnya mulai awas akan permasalahan sosial dan menyisipkan tokoh dari komunitas yang terpinggirkan. Dengan begini, komik Amerika mulai menunjukan gairah untuk menggagas perubahan, alih-alih menjaga status quo.

Apakah pengalaman pribadi masuk dalam karyamu?
Seperti karya seni lainnya, aku menggambar komik Qahera berdasarkan pengalaman pribadi, pengalaman orang lain dan situasi di sekitarku. Kalau saya hanya membahas masalah yang aku alami, Qahera bakal jadi komik yang kurang efektif. Empati dan solidaritas mutlak diperlukan.

Menurutmu, mungkinkah seni bisa meruntuhkan beragam sterotipe di masyarakat?
Sekarang sih, aku sering berpikir apakah seni benar-benar berhasil meruntuhkan stereotip yang berkembang di masyarakat. Aku was-was kalau kita keasikan mendobrak batas dalam seni dan lupa melakukan hal serupa dalam kehidupan nyata. Media visual sangat efektif untuk menyebarkan pesan. Apalagi sekarang semua orang punya kesempatan yang sama untuk muncul dan dikenal banyak orang orang. Pasti bakal ada dampaknya.

Adakah perubahan perlakuan bagi perempuan muslim di Mesir sejak kamu pertama kali mempublikasikan Qahera 2013 lalu?
Aku bisa bilang ada kemajan dalam perjuangan membela hak perempuan, dan aku pikir kekerasan seksual kian lazim ditemukan dan jadi buah bibir publik. Namun, hak perempuan adalah hak asasi manusia, begitu juga sebaliknya. Dan keberaadaannya kini di Mesir masih dipertanyakan karena hak-hak itu tak bisa dipisahkan dari kondisi ekonomi dan politik.

Sketsa Qahera (foto via Qaherathesuperhero.com)

Apa yang bisa kamu tafsirkan dari sambutan meriah yang diterima Qahera?
Menurutku, ini menunjukan adanya kesenjangan representasi isu-isu misoginis dan Islamofobia dalam seni dan komik, baik di dalam Mesir atau di dunia internasional. Di saat yang sama, sambutan ini menunjukkan kesiapan untuk mengakui dan mengatasi berbagai masalah dalam segala bentuknya. Menyaksikan respon meriah yang didapat Qahera membuat merasa senang, rendah sekaligus penuh pengharapan.

Deena kini tengah menggarap sebuah novel grafis. Pantau terus karya-karya terbaru Deena lewat laman Facebook atau Twitter-nya. Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dan enak dibaca.