Kerusuhan Meletus Setelah Israel Menutup Akses Menuju Masjid Al Aqsa
Konflik Palestina-Israel

Kerusuhan Meletus Setelah Israel Menutup Akses Menuju Masjid Al Aqsa

Korban tewas berjatuhan, tiga warga Palestina dan dua asal Israel. Kerusuhan dikhawatirkan menyebar ke wilayah selain Yerusalem, akibat insiden di tempat suci ketiga bagi umat muslim itu.
24.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Ketegangan di lokasi paling suci Yerusalem berubah menjadi kericuhan besar Jumat pekan lalu. Sekurang-kurangnya lima orang tewas dalam kerusuhan tersebut dan satu orang korban lainnya dalam kondisi kritis. Di saat yang sama, muncul kekhawatiran merebaknya kerusuhan yang lebih besar di seluruh wilayah Palestina. Insiden Jumat lalu terjadi ketika pengunjuk rasa berkumpul sesudah seorang penduduk Israel membunuh pengunjuk rasa berusia 18 tahun asal Palestina di kawasan Ras al-Amud, Yerusalem Timur. Dalam insiden terpisah, polisi Israel menembak mati dua orang pengunjuk rasa Palestina yang kebetulan berada di jalan saat terjadi bentrokan dengan pasukan keamanan Israel. Selain kedua korban tersebut, dua orang penduduk Israel tewas karena ditusuk, sementara satu orang lainnya dalam kondisi kritis, seperti yang dilansir oleh petugas kesehatan Palestina. Kerusuhan pekan lalu adalah episode kesekian dari konflik tak berujung antara Israel dan Palestina, menyangkut perebutan akses menuju Masjid Al Aqsa. Umat Yahudi menganggap lokasi di bawah masjid tempat suci bagi umat muslim itu adalah Kuil Gunung, lokasi ibadah yang tak kalah sucinya bagi mereka. Ketegangan meningkat setelah Israel menutup akses umat muslim menyelanggarakan solat Jumat minggu lalu dan memasang detektor logam di sekitar masjid yang sangat suci bagi umat Islam. Keputusan ini diambil setelah tiga orang anggota milisi asal Palestina, menurut juru bicara Kepolisian Israal Micky Rosenfeld, dituduh sebagai teroris. Tiga orang itu menyerang sekelompok anggota polisi Israel yang ditugaskan menjaga kompleks Masjid Al Aqsa. Dua polisi Israel tewas, sementara ketiga penyerang ikut tewas dalam kejadian tersebut. Israel berkukuh bahwa detektor logam harus dipasang untuk mencegah serangan lainnya terhadap pasukan keamanan Israel. "Saya berasumsi bahwa seiring berjalannya waktu, mereka akan memahami bahwa ide ini tak jelek-jelek amat," kata Yoram Halevy selaku kepala kepolisian Israel, saat diwawancarai Radio Tentara Israel. Pemasangan detektor logam di sekitar Masjid Al Aqsa membuat berang penduduk Palestina yang menafsirkan kebijakan tersebut sebagai upaya Israel mengklaim kepemilikan atas situs tersuci ketiga umat Islam, yang oleh PBB dianggap zona internasional. "Pembatasan ini tak memiliki imbas berarti bagi keamanan penduduk Palestina atau polisi Israel. Pemblokiran akses masuk hanyalah kebijakan sinis Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk meluaskan kedaulatan ke tempat ibadah yang…dikuasai umat Islam selama berabad-abad lamanya," kata Zaha Hassan, pengacara hak asasi manusia dan dosen tamu kajian Timur Tengah di New America, melalui penyataan tertulis yang dikirim ke awak media. Konflik ini makin panas setelah muncul gerakan sayap kanan di Israel yang memiliki agenda membuka tempat peribadatan Yahudi dekat Masjid Al Aqsa. Tindakan semacam itu sebenarnya dilarang oleh Undang-Undang Israel. Selain itu, kebijakan Netanyahu mendukung pembangunan kuil Yahudi di Yerusalem telah menerbitkan kekhwatiran penduduk Palestina yang menganggap Masjid Al Aqsa sebagai lambang negara sekaligus ibu kota mereka. Perubahan aturan keamanan di sekitar Masjid Al Aqsa oleh aparat Israel akhirnya menyulut munculnya beragam unjuk rasa di wilayah yang diduduki Palestina. Di Yerusalem, penduduk Palestina merespons kebijakan baru Israel dengan boikot. The Waqf, otoritas Islam dari Yordania yang mengelola Masjid Al Aqsa, menyerukan pada seluruh umat Islam di Palestina agar "menolak" keputusan Israel memblokade akses masuk dengan menggelar salat berjemahaan di jalanan Kota Tua Yerusalem. Demonstrasi damai dalam bentuk ritual salat berjemaah dalam waktu singkat berubah menjadi bentrokan melawan anggota polisi Israel. Pihak berwenang Palestina dan para pengunjuk rasa tetap dalam kondisi siaga selama satu pekan lalu, menyerukan pelaksanaan solat berjamaah dan unjuk rasa pada hari Jumat. Ribuan penduduk Palestina turun ke jalan Kota Tua Yerusalem. Unjuk rasa besar ini ditimpali oleh pasukan keamanan Israel yang menembakkan gas air mata dan peluru karet, mengakibatkan 450 penduduk Palestina luka-luka, menurut keterangan yang dikeluarkan Bulan Sabit Merah Palestina. Unjuk rasa kini telah menyebar dari Yerusalem ke kota lain di Tepi Barat yang dikuasai Palestina. Hamas, partai penguasa Jalur Gaza sekaligus organisasi yang memiliki elemen paramiliter telah memperingatkan Israel bahwa "Masjid Al Aqsa dan Yerusalem adalah garis merah" yang tak boleh diotak-atik. Netanyahu sejauh ini bersikeras dengan keputusannya mendukung tindakan aparat memblokade akses masuk masjid. Dia menyatakan detektor metal bakal tetap berada di tempatnya semula meski ada permintaan dari perwira militer agar blokade dihentikan sementara, demi mencegah potensi kerusuhan yang lebih besar. Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, di saat yang sama mengumumkan pemutusan semua jenis hubungan diplomatik dengan Israel terkait permasalahan penempatan detektor logam di Al Aqsa. Maraknya aksi kekerasan ini telah menyulut kekhawatirkan risiko kerusuhan menyebar hingga ke kawasan Jalur Gaza yang diduduki Hamas. Di Gaza, tanpa adanya insiden Al Aqsa ini, tensi ketegangan sudah tinggi antara warga Arab dan tetangga Yahudi di balik tembok. Bulan lalu, Israel menghentikan pasokan listrik di Gaza, mengakibatkan mati lampu selama 20 jam tiap hari, melumpuhkan layanan rumah sakit, hingga pencemaraan cadangan air bersih. Kelompok demokratis di Israel telah memperingatkan pemerintahnya, bahwa kebijakan macam itu hanya akan mengundang kekerasan balasan dari kelompok militan Palestina. Setiap insiden di Yerusalem seringkali meningkatkan eskalasi ketegangan di Israel dan wilayah yang Palestina yang mereka jajah. Tiga tahun lalu, adanya kerusuhan di Yerusalem mendorong penembakan roket dari Gaza ke kota-kota di perbatasan Israel. Insiden itu berujung pada perang selama 51 hari yang menewaskan 2.100 penduduk Palestina dan 73 penduduk Israel.

Alex Kane adalah jurnalis yang kerap meliput konflik Israel/Palestina dan kebebasan sipil.