Cerita Hantu VICE

Pocong Adalah Ikon Bisnis Laundry Kiloan Terbaik di Indonesia

Pocong kan bangkit dari kubur, tapi kenapa kainnya selalu putih? Apa mungkin iya dia sempat balik ke rumah, cuci baju, baru gentayangan?
Pocong yang kainnya begitu putih
Ilustrasi oleh Farraz Tanjoeng

Kami percaya cerita-cerita hantu yang khas Indonesia tidak begitu saja muncul dari ruang hampa. Sebagai folklore, cerita-cerita itu adalah ekspresi kultural suatu masyarakat tertentu, yang diteruskan dari mulut ke mulut, dari generasi satu ke generasi berikutnya. Dalam banyak kasus, cerita hantu bahkan punya peran sosiologis, peran yang jauh lebih besar daripada menakut-nakuti bocah semata. Analisis, cerita, dan telaah kami mengenai hantu-hantu Indonesia itu kami rangkum dalam seri Cerita Hantu VICE yang dirilis untuk meramaikan Halloween 2018. Selamat membaca!

Iklan

Sebagai seorang muslim yang tak taat-taat amat, saya punya hubungan yang problematis dengan pocong.

Di satu sisi, saya jelas bangga akan pocong. Hantu satu ini adalah sumbangan besar kultur muslim terhadap khasanah—atau skena—perhantuan di Indonesia. Sejatinya, jika mau dipadankan, pocong itu ya enggak lebih dari undead alias mayat hidup. Bedanya dia pakai kain kafan. Dan setahu saya, sampai saat ini, ritual penguburan yang melibatkan kain kafan hanya dilakukan oleh kaum muslim. Pun, layaknya undead yang mengilhami puluhan film horor, di Indonesia, pocong mungkin salah satu hantu lokal yang laris difilmkan. Buktinya, dengan hanya memasukkan kata “pocong” di mesin pencari website filmindonesia.org, saya mendapatkan 43 entry—30 di antaranya ialah judul film yang mengandung kata pocong. Artinya, kebiasaan kami mengafani jenazah punya andil dalam perkembangan sejarah film horor di Indonesia.

Di sisi lain, sebagai muslim, saya kurang sreg dihubung-hubungkan dengan pocong, apalagi di saat politik identitas sedang meruak jelang Pilpres tahun depan. Soalnya begini: pocong itu kan hantu yang kental nuansa islamnya banget. Tapi, dari laporan yang saya terima (baca: cerita-cerita hantu yang pernah sampai ke gendang telinga saya), pocong tak tebang pilih korbannya. Mereka nongol dengan kain putihnya yang ikonik di depan siapapun—tak peduli ras, agama atau pilihan capresnya. Saya juga enggak yakin 1.082.081 orang yang nonton Tali Pocong Perawan—salah satu film horor paling laku dalam satu dekade terakhir di bioskop memeluk Islam semua. Pendeknya, pocong itu hantu dengan yang lahir dari kultur Islam tapi wabah ketakutan yang disebabkannya bersifat lintas agama.

Iklan

Sebagian dari kami—umat muslim maksudnya, besar dengan membawa satu kepercayaan: ayat kursi, ayat ke-255 dari surat kedua dalam Al Qur’an, Al Baqarah—bisa dibaca untuk mengusir segala bentuk setan—pocong tak terkecuali. Sayang, opsi satu ini enggak bisa saya ajukan sebagai solusi global mengatasi ketakutan semua orang akan pocong. Pasalnya, konon ayat itu akan manjur jika pembacanya menyakini kebenaran ajaran Islam.

Artinya, jika saya menganjurkan teman saya yang memeluk ajaran agama selain Islam untuk membaca ayat ini jika berpapasan dengan setan, itu sama saja memaksa dia menerima kebenaran Islam (masuk Islam). Saya jelas enggak mau ini terjadi. Bukan begitu caranya berdakwah (azek)! Memangnya saya ini anggota ISIS yang suka menyebarkan intepretasi mereka atas ajaran Islam dengan menebarkan ketakutan?

Beruntung setelah kenyang menonton klip-klip pocong di YouTube dan menonton sederet film bertema pocong seminggu terakhir ini, saya menemukan cara yang lebih efektif dan lebih ramah akan perbedaan. Alih-alih ditakuti, pocong sebaiknya diakbrabi karena lewat proses inilah kita bisa mendemistifikasi—atau memanusiawikan—pocong. Nah, ternyata setelah didemistifikasi, pocong enggak nyeremin banget kok karena mereka itu cuma ikon/pekerja binatu atawa laundry yang baik.

Bingung? Santai Bos. Ini saya beri tiga alasan kenapa saya sampai ke kesimpulan se-mencengangkan itu:

Pocong Bakal Memastikan Pakaianmu Dicuci dan Disetrika Dengan Beres
Pernah kehilangan kaus kesayangan di Laundry? Atau pernah mendapati laundryan kamu luntur karena dicuci tanpa dipisah berdasarkan warna baju kalian?

Iklan

Saya pernah. Dua tahun lalu, saya mencuci kaus-kaus band kesayangan saya. Dua di antaranya adalah kaus Kylesa dan Homicide—kalian tentu mafhum betapa susahnya mendapatkan kaus yang disebut terakhir. Tempat binatu yang percaya untuk mencuci dua kaus ini sebenarnya langganan saya. Namun, saya sedang apes waktu itu. Dua hari setelah diinapkan, dua kaus itu bersih—saking bersihnya, saya tak menemukan jejaknya di bungkusan baju bersih yang saya ambil. Sebel? Pasti. Marah? Iya, meski cuma sampai kerongkongan.

Apakah saya masih marah sampai sekarang? Masih dong. Yang hilang kaus Homicide gitu—harta bagi hipster kere macam saya. Tapi, setelah mengakrabi segala tetek bengek tentang pocong, saya lebih bisa berempati pada karyawan binatu langganan saya dulu. Saya tahu mereka bisa seteledor itu karena mereka manusia, bukan pocong.

Dibanding hantu sejawatnya, pocong adalah hantu yang lain daripada yang lain. Jika rekannya seperti Kuntilanak dan Mister Gepeng jadi hantu lantaran tertimpa kemalangan, pocong keluar dari liang lahat karena alasan yang lebih sepele—seseorang lupa melepas tali pengikat kain kafannya (dalam Islam, setelah diturunkan ke liang lahat tali pengikat kafan jenazah harus dilepas sebelum makam ditutup tanah). Dengan demikian, raison d’etre pocong bukan keinginan untuk balas dendam, tapi kekesalan akan kelalaian orang mengikuti ritual penguburan. Alhasil, barangkali pocong kembali ke dunia manusia cuma untuk ngomong ke manusia “Bro, you have one job only dan elo gagal!” gitu doang—tentunya sambil iseng menakuti manusia.

Iklan

Atau dengan kata lain, pocong itu punya kecenderungan OCD. Makanya, saya yakin banget kalau laundry langganan saya mempekerjaan pocong—bukan manusia—mereka enggak akan dapat banyak omelan tentang baju luntur, kurang bersih atau tertukar. Soalnya, Pocong akan mengingat semua pesan pelanggannya, mengikuti tata laksana pencucian baju dengan ketat sebab mereka tahu betapa mengesalkannya orang yang enggak becus kerja.

Bila ini benar-benar terjadi, kaus Homicide saya enggak akan hilang!

Pocong adalah Kurir Binatu Teladan
Sampai tulisan ini dimuat, belum ada konsensus tentang bagaimana sebenarnya pocong bergerak. Umumnya sih, orang percaya jika pocong berpindah tempat dengan meloncat-meloncat, sebelas duabelas dengan cara vampir Cina mengejar korbannya.

Cuma begini, cara bergerak seperti sudah ketinggalan zaman bin kurang efisien. Orang sudah mulai mengunci rumahnya dengan pintu digital yang hanya bisa dibuka dengan kombinasi angka atau malah sidik jari. Pocong bisa apa untuk menjebol pintu macam ini? Wong tangan mereka saja masih terikat. Jadi, kalau pocong masih kerap digambarkan sebagai setan yang nongol sekonyong-konyong di tempat tak terduga, mungkin kita harus yakin akan satu hal: pocong bisa teleportasi kayak bapaknya Naruto.


Tonton dokumenter VICE soal popularitas film horor di Indonesia pada dekade 80'an:


Eh tapi perkembangan terakhir memperlihatkan jika pocong juga bisa terbang. Sayang, belum ada berita atau desas-desus tentang pocong renang. Coba kalau ada, Pocong bisa punya korps sehebat TNI karena bisa berjaya di laut, di darat dan di udara.

Iklan

Ada masalah dengan keragaman cara pocong bergerak ini? Enggak dong. Yang ada malah untung. Sebab ini akan mengesahkan imej mereka sebagai ikon binatu modern. Di zaman ketika semua orang ingin segalanya diantar ke rumah, mobilitas pocong ini jelas sebuah nilai tambah. Plus, dengan keragaman cara bergerak seperti ini, laundry bisa menawarkan tiga jasa pengantaran: 1) yang paling murah: diantar lewat jalan darat alias pocong loncat 2) layanan kilat AKA diantar pocong yang bisa teleportasi dan 3) diantar pocong terbang.

Oh ya satu lagi, please jangan sampai Jeff Bezos tahu kalau pocong bisa terbang. Bisa-bisa nanti doi mengurungkan pengembangan program pengantaran barang Prime Air Amazon dan merekrut pocong sebagai tenaga pengantaran Amazon dengan gaji rendah. Kasian pocongnya bray.

Tak Ada yang Langgeng Selain Warna Putihnya Kain Kafan Pocong
Sepatuh apapun pekerjanya, sekeren apapun jasa pengantarannya, kalau hasil cuciannya kurang bersih, bisnis binatu manapun tak akan moncer. Lha wong itu core business-nya. Terus, benchmark untuk mengukur kebersihan hasil cucian binatu adalah kain/kaus warna putih. Kalau kausmu jadi condong ke warna kelabu atau malah kelunturan, saya sih menyarankan untuk segera pindah layanan binatu.

Terkait perkara kebersihan ini, tak ada hantu yang bisa dijadikan teladan selain Pocong. Kapanpun muncul, hantu yang satu ini muncul (baca: digambarkan) dengan kain putih bersih (ada sih yang digambarkan agak kucel, tapi presentasi kecil kok). Padahal, itu jelas enggak mungkin. Bayangkan, mayat tiga hari saja sudah mulai mengeluarkan cairan tubuh yang enggak bisa dibilang bersih dan untuk bisa bergentayangan, pocong harus lebih dulu menerobos timbunan tanah kuburan, Logikanya, kain kafan pocong semestinya agak kotor atau setidaknya berbercak lah. Fakta ajaib ini cuma bisa dijelaskan bila a) tubuh pocong mengeluarkan deterjen super yang bikin kain kafan tetap putih atau b) kainnya emang sakti dari sono.

Mana yang benar? ya tanya Pocong dong. Atau, sekalian jika kalian berminat mencoba peruntungan di kancah bisnis binatu, cobalah mempertimbangkan menyewa pocong sebagai konsultan.

Jiper? Yaelah ngapain. Ingat, pocong itu cuma undead jinak dibungkus kain kafan!