Kebakaran Hutan

Kebakaran Hutan Renggut Nyawa Bayi sampai Satwa, Barulah Pemerintah Pusat Serius Bergerak

Polusi udara di Kalimantan dan Sumatra sudah tembus 400, jauh di atas Jakarta yang "cuma" 200. Pemerintah tak bisa lagi berapologi dan membantah terjadi ekspor asap, Jokowi pun terbang ke Riau.
16.9.19
Kebakaran Hutan Indonesia 2019 Renggut Nyawa Bayi sampai Satwa, Barulah Pemerintah Pusat Serius Bergerak
PERSONEL TNI BERUSAHA MEMADAMKAN API DI LAHAN GAMBUT ACEH BARAT. FOTO OLEH SYIFA YULINNAS VIA REUTERS.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang musim kemarau 2019 sudah mencapai skala luar biasa. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebutnya sebagai bencana ekologis, sedangkan Greenpeace meminta pemerintah menetapkannya sebagai bencana nasional. Tapi, jika semua kabar itu belum cukup, ingat-ingat nama ini: Elsa Pitaloka. Dia meregang nyawa akibat paparan asap kebakaran hutan.

Iklan

Kabar meninggalnya bayi berusia empat bulan di Sumatra Selatan akibat kabut asap seharusnya membuat bangsa ini tergerak. Elsa menderita infeksi saluran pernapasan akut sejak desanya di Talang Buluh terkepung asap akibat kebakaran hutan yang menghebat selama kemarau tahun ini.

Keluarga sudah berusaha melarikan Elsa ke RS di Kota Palembang dari rumahnya di Kabupaten Banyuasin akhir pekan lalu. Tapi belum lama dirawat oleh tenaga medis Rumah Sakit Ar Rasyid Palembang, bayi malang itu mengembuskan napas terakhir. "Memang benar ada pasien bayi umur empat bulan alamat Talang Buluh Banyuasin berobat ke UGD dengan diagnosa Pneumonia dan meninggal," kata M Hakim, selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin saat dikonfirmasi media.

Per 14 September, tercatat ada 5.071 titik api di Kalimantan dan Sumatra, dengan level kebakaran paling dahsyat tersebar di enam provinsi: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Tapi jangan terpacak pada enam provinsi itu saja, sebab sejatinya selama 2019 karhutla telah melanda 28 provinsi.

Baru setelah eskalasi kasus separah ini, pemerintah pusat merespons serius bencana yang sudah berulang kali terjadi itu. Presiden Joko Widodo hari ini, Senin (16/9) terbang ke Riau didampingi jajaran kementerian terkait meninjau serta membahas penanganan kebakaran hutan.

Menteri-menteri Jokowi beberapa pekan sebelumnya sibuk menyepelekan kasus kebakaran hutan. Mulai dari membantah ada ekspor asap ke Malaysia, sampai menuduh pembakar lahan itu didorong motif politik akibat pilkada. Separah apa kerusakan yang dihasilkan kabut asap hasil karhutla? Berikut beberapa video unggahan penduduk terdampak di Banjarbaru, Kalsel.

Iklan

Dari media sosial, terekam juga situasi kondisi di Pekanbaru, Riau.

Sementara video lain yang viral di medsos menggambarkan sosok pengendara motor perempuan langsung lemas gara-gara mengendarai motor di tengah kabut asap yang melanda Riau.

Yang lebih menyeramkan lagi, jurnalis A. Tanoto mengunggah foto kebakaran hutan di Pangkalan Bun, Kalteng, melalui akun Instagram pribadinya. Foto karhutla ini mirip kisi-kisi pemandangan neraka.

Sementara pengguna Internet bernama Mawaddah mengunggah hasil pengukuran kualitas udara lewat aplikasi AirVisual di Palangkaraya, Kalteng yang menunjukkan angka AQI 400 alias sangat beracun.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, sampai tanggal 13 September luas area yang terbakar di Riau mencapai 502,755 hektare, Sumsel 7,79 hektare, Jambi 23,54 hektare, Kalteng 338,96 hektare, dan Kalbar 1.058,55 hektare. Melihat kabut asap yang masih berbahaya, Kepala Dinas Pendidikan Pekanbaru Jamal Maladi memutuskan untuk meliburkan sekolah karena udara tak sehat bagi anak-anak.

"Kemarin sore kita rapat darurat asap penanggulangan dampak kabut asap. Kita menetapkan perpanjangan libur sekolah hari ini, Senin (16/9) hingga Selasa (17/9)," ujar Jamal kepada Detik. Pemerintah Kota Pontianak mengamil keputusan serupa. Seluruh siswa tingkat PAUD hingga SMP akan memulai kembali proses belajar mengajar pada Rabu, 18 September. Tapi, kebijakan ini hanya berlaku buat siswa saja.

Iklan

Industri penerbangan turut terganggu akibat karhutla. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengimbau masyarakat yang akan menggunakan jasa maskapai penerbangan dari dan ke Riau untuk memilih waktu di atas jam 9 pagi. "Penerbangan pagi belum bisa, penerbangan itu baru efektif setelah jam 9. Oleh karenanya para penumpang harus me-manage dirinya kalau pergi dan datang dari sana itu sebaiknya memang di atas jam 8/jam 9 WIB,” ucap Budi, dilansir Kompas. Pada Minggu (15/9), 81 penerbangan Lion Air menuju dan dari daerah terdampak terpaksa dibatalkan dan 64 lainnya mengalami keterlambatan karena jarak pandang pendek tidak memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan untuk proses lepas landas dan mendarat.

Tidak hanya berimbas kepada manusia, karhutla juga berdampak buruk kepada satwa liar yang menempatinya. Di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) mendapati tupai dan ular piton terbakar hidup-hidup dalam upayanya memadamkan kebakaran.

"Banyak bangkai hewan yang ditemukan petugas saat memadamkan kebakaran lahan, di antaranya ular, tupai, dan lainnya. Yang banyak itu bangkai ular berbagai jenis," ujar Kepala DPKP Kotawaringin Timur Rihel.

Ngomong-ngomong soal ular sebagai korban karhutla, seorang netizen bernama Johan Pasha viral akibat unggahan foto ular piton raksasa (ia menyebutnya anakonda Indonesia) di Facebook-nya yang diduga hangus terbakar karena bencana ini.

Selain ular, habitat orang utan juga terganggu. Pada Minggu (1/9) dan Senin (2/9) lalu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melakukan penyelamatan tiga orang utan di Desa Bagendang Hilir, Kalteng. Satwa liar tersebut melarikan diri dari habitatnya yang terbakar demi bertahan hidup.

Diduga para orang utan lantas menuju kebun sawit milik warga bernama Tri. Tidak lama setelah ditemukannya tiga ekor orang utan, seekor induk bersama bayi orang utan kembali terlihat masuk ke kebun Tri. Beruntung, pada akhirnya semua orang utan berhasil diamankan BKSDA.