Mungkinkah Aku Bakal Kena Kanker Karena Sering Pakai Microwave?

Belum tentu. Asal jangan lupa aja plastiknya dicopot dulu dari makanan pas mau dimasak.
12.11.17
Foto ilustrasi oleh Tim Flach / Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Bertanya Buat Teman adalah rubrik khusus menjawab semua pertanyaan kalian seputar kesehatan, yang paling tolol sekalipun. Jadi, kalau ada teman yang punya masalah tapi enggak berani tanya ke dokter, bisa kalian wakili lewat rubrik ini.

Begini Skenarionya:
Kamu punya temen perempuan yang hobi banget pake microwave. Apapun makanannya, kapanpun itu, dia pasti masukin semua bahan makanan ke microwave setelah satu atau dua hari masuk freezer. Waktu sarapan, makan siang, atau makan malem, barang yang bakal dia sorongkan ke perut dihangatkan pakai alat berdaya 700 watt kesayangannya itu. Begitu pula kalau ada sisa makanan, yang nantinya akan berputar lagi dalam Tupperwarenya. Tinggal tunggu waktu sampai masuk Microwave.

Temenmu kelihatannya sama sekali ga bermasalah sama kebiasaan manasin makanan pakai microwave. Diam-diam kamu yang sebenarnya khawatir dia bakal perlahan menuju liang kubur karena enggak bisa hidup tanpa microwave. Kamu pernah baca di mana gitu, kalau microwave bisa menyebabkan kanker. Sebenernya aman gak sih menyiapkan makanan pakai microwave—bahkan kalau bahan masakannya berbungkus kemasan yang ada tulisannya “microwave-safe”?

Faktanya:
Kecintaan temanmu sama microwave enggak berbahaya. Sering menggunakan microwave untuk memanaskan makanan tidak otomatis meningkatkan risiko seseorang kena kanker. Patut diingat, microwave menggunakan gelombang elektromagnetik untuk memanaskan makanan, yang tidak ada hubungannya dengan kanker atau reaksi nuklir.

Ternyata jadi masalah adalah plastik pembungkus makanan, bukan radiasinya dari microwave. Menurut Hans Ringertz, professor radiologi di Stanford University, radiasi microwave sebenarnya “tidak memiliki dampak apa-apa” terhadap kesehatanmu. “Bahan-bahan yang ada disekitar makananmulah yang kemungkinan memproduksi zat-zat berbahaya saat dipanaskan. Zat-zat itu terbentuk akibat dari pemanasan elektromagnetik…[efek itu juga akan terjadi] jika kamu memanaskan makananmu masih berbungkus plastik dalam oven biasa,” ucap Ringertz. “Mau dipanaskan dengan microwace atau dengan cara lain yang biasanya digunakan untuk menyiapkan makanan, akan sama saja jika kemasannya mengandung zat kimia yang beracun.”

Ada tudingan mengatakan bahwa microwave menghasilkan zat pemicu kanker, yang disebut dioxin. Tuduhan itu sudah lama dibantah. Sebetulnya plastik yang membungkus makanan olahan zaman sekarang yang mengandung zat-zat BPA. Semacam zat kimia industrial yang sudah digunakan sejak 1960'an. Zat tersebut bersama dengan phthalates, (zat-zat yang membuat plastik fleksibel namun tetap tangguh) bisa luluh ke makanan. Dalam kadar yang rendah BPA masih aman. Namun zat ini dapat berdampak terhadap kesehatan pada otak, perilaku, dan bahkan terhadap kelenjar prostat bayi, fetus, dan anak-anak. Bahkan, produk-produk plastik bebas BPA masih saja dapat menyebabkan masalah kesehatan, termasuk peningkatan level estrogen. Jadi, walaupun kamu sempat menemukan salmon dan brokoli beberapa kali dalam plastik makanannya, teman kamu ini sebenarnya bener-bener ga sadar akan kebahayaan kesehatannya.

Risiko Terburuk:
Kemasan yang membungkus makanannya, bukan proses microwavenya, bisa menyebabkan masalah dan gejala ganggungan kesehatan serius. Apalagi kalau plastik sampai luluh ke makanan, baik yang dipanaskan dan yang tidak. Kejadian gitu dapat menyebabkan peningkatan tingkat estrogen serta masalah akibat gangguan endokrin. Teman kamu mungkin akan mengalami gejala seperti naiknya berat badan, kerontokan, keletihan, kesulitan tidur dan bahkan meningkatnya gejala-gejala dari PMS. Tingginya kadar estrogen paling parahnya dapat meningkatkan resiko teman kamu terkena kanker payudara.

Ringertz pun membandingkan bahayanya efek kimia dari microwave dan plastik dengan perpaduan tembakau dengan kertas yang membungkusnya. “Rokok menyebabkan resiko jangka panjang dari kanker paru-paru karena kamu menghirupnya,” katanya. “Denga cara yang sama, zat-zat dari bungkusan makanan mu [yang kamu letakan dalam microwave] memiliki potensi resiko dan efek jangka panjang dalam tubuh.”

Dampak Riil Sekarang:
Walaupun dia mungkin tidak akan terkena kanker payudara, lelehan plastik di makanannya dapat berujung ke beberapa gejala dari peningkatan level estrogen yang walaupun ringan tapi masih tidak menyenangkan. Ini mungkin akan berdampak terhadap energy atau konsentrasinya di tempat kerja atau kehidupan pribadi. Oh iya, dan jangan terkecoh oleh semua omongan estrogen diatas ya-BPA juga ditunjukan dapat berpengaruh secara negatif terhadap laki-laki loh.

Untuk asupan gizi sendiri, temenmu sebenarnya masih mendapatkan nutrisinya dari makanan seperti sayuran yang dia rebus kilat dengan sepercik air, dan pastinya bukan dari stik Salisbury dengan macaroni keju bekunya untuk makan malam (yang mungkin dibungkus dengan kotak plastik, yang dapat menjurus ke masalah yang sebelumnya disebutkan)

Apa yang Sebaiknya Kamu Bilang Ke Temanmu:
Dia boleh saja rutin menggunakan microwave, tapi sebaiknya mulai cari aman. Caranya ya kurangi penggunaan plastik atau bahan-bahan yang berpotensi membahayakan lainnya saat memanaskan makanan. Dia sebaiknya mulai mempertimbangkan piring keramik yang aman untuk digunakan dalam microwave atau wadah non-plastik lainnya (tapi jangan alamunium foil ya, kecuali dia mau latihan jadi pemadam kebakaran di dapur).