31 Scoring Elektronik Film Horor Terbaik Sepanjang Masa
Ilustrasi oleh Ben Ruby
Scoring dan soundtrack

31 Scoring Elektronik Film Horor Terbaik Sepanjang Masa

Jauh sebelum 'Stranger Things' memukau kita dengan pembuka bernuansa synth 80-an, banyak film horor dan gore menggunakan teknik serupa. Berikut daftar scoring paling esensial dari genre ini.
Yudhistira Agato
Diterjemahkan oleh Yudhistira Agato

Artikel ini pertama kali tayang di THUMP

Semenjak synthesizer komersil diproduksi secara massal setengah abad yang lalu, musik elektronik memiliki hubungan yang erat dengan sejarah film horor. Ketika komposer eksperimental, pencinta psikadelik, dan pegiat musik dance sibuk mengulik instrumen elektronik, industri film melihat teknologi ini sebagai cara praktis untuk mengisi soundtrack produksi film yang lebih murah. Daripada menyewa segerombolan musisi dan komposer, penemuan ini membuat tim film sanggup menciptakan soundtrack menggunakan seorang komposer solo, atau dalam banyak kasus, diciptakan oleh sutradara film itu sendiri.

Iklan

Karena aspek praktis dan kemungkinan yang tanpa batas, komposisi synth menjadi pilihan scoring bagi banyak film di 70-an dan 80-an, menciptakan hubungan yang kuat antara musik elektronik dan berbagai genre film. Mengingat kini industri film sedang doyan-doyannya menciptakan karya yang terinspirasi oleh film masa lalu, rasanya pas untuk membahas soundtrack film horor dalam beberapa dekade terakhir—mulai dari musik funk yang murung hingga ambien mengawang-awang dan teror industrial.

Berikut daftar 31 scoring film horor terbaik yang dikomposisi menggunakan instrumen elektronik.

31. The Dentist (1996)
Soundtrack dari sebuah film tentang dokter gigi yang jahat tentunya membutuhkan lebih dari sekedar bunyi bor yang berputar dan alat pengisap air liur untuk bisa menakuti penonton. Untungnya film gila The Dentist berhasil menjawab tantangan, menampilkan adegan menyeramkan menggunakan bunyi string, perkusif yang mericau, dan drone yang mengganggu ciptaan Alan Howarth. Howarth sendiri dipuja berkat kolaborasinya dengan John Carpenter dan karyanya dalam beberapa film Star Trek. Karya scoringnya di film ini sudah lebih bersih dibanding materi-materi sebelumnya, tapi justru berhasil menciptakan scoring yang lebih menyeramkan dan menyebabkan bulu kuduk berdiri.—Colin Joyce

30. You're Next (2011)

Lagu upbeat "Looking for the Magic" karya Dwight Twilley Band tidak lagi terdengar sama setelah menonton film horor berbudget rendah ini. Namun You're Next tidak hanya berhasil membuat hit single tersebut kembali segar, tapi juga membuktikan bahwa sutradara indie Amerika muda macam Adam Wingard sanggup menyajikan sesuatu yang baru ke dalam film invasi rumah dengan elemen horor 80-an. Beberapa musisi mengerjakan scoringnya—Kyle McKinnon, Justice Lee, Mads Heldtberg, dan Wingard—dan biarpun mereka semua mengerjakan track yang berbeda-beda, kumpulan dari bunyi synthesizer yang berputar merupakan pelengkap yang sempurna bagi musik power pop Dwight Twilley. Hasilnya? Scoring yang seakan-akan diciptakan oleh segerombolan musisi yang duduk dalam kegelapan dan saling berbagi cerita seram. —Tina Hassannia

Iklan

29. A Nightmare on Elm Street (1984)
Mengancam dan dinamis, scoring A Nightmare on Elm Street (Charles Bernstein) yang keren membantu mengukuhkan banyak elemen yang kini sinonim dengan musik film slasher 80-an. Menggunakan perkusi diredam reverb, synth berduri, string menjerit, dan dentingan piano bernada minor, Berstein berhasil menciptakan tiruan bunyi instrumentasi akustik yang meyakinkan sambil membuat penonton tegang dengan bunyi-bunyi yang tidak alami—sebuah elemen yang secara tema cocok dengan film yang menceritakan kaburnya batas antara mimpi dan realita. Pencapaian tertinggi di sini adalah musik yang sanggup membawa ketegangan film naik dan turun. Sama seperti mimpi buruk yang menolak meninggalkanmu, scoring musik ini juga akan terus teringat. —Sean Egan

28. Forbidden World (1982)
Akibat limitasi teknologi di saat itu, kebanyakan scoring synth 80-an hanya menampilkan ambien yang mengerikan atau bunyi perkusi yang riang. Karya Susan Justin di film terinspirasi Alien, Forbidden World bisa dibilang spesial karena berada di tengah keduanya. Momen terbaik dari scoring film datang lewat bunyi synth yang gagah, dan naik pelan-pelan menemani momen menegangkan film. —Colin Joyce

27. Killer Klowns From Outer Space (1988)
Biarpun jelas blo'on, Killer Klowns From Outer Space berhasil semakin mengukuhkan fakta bahwa badut itu emang ngeri. Musik bikinan John Massari dengan cekatan berhasil menjembatani humor dan horor, menawarkan pelengkap yang sempurna bagi estetika norak mengerikan film ini. Massari menyajikan bunyi kromatik bernuansa karnival di keyboard, terompet yang ngeblok, bunyi gitar elektrik palsu, roll snare teatrikal, dan efek suara mainan, menghasilkan bunyi waltz nyentrik yang bisa setiap saat meledak. Lantas apa pelajaran yang bisa diambil? Masukan disonansi, melodi karnival sirkus, dan kamu akan berakhir dengan scoring yang batasnya tipis antara menghasilkan tawa dan teror.— Sean Egan

Iklan

26. The Boogeyman (1980)

Synthesizer yang bunyinya seperti gelas anggur dipukul perlahan menjadi bunyi khas genre horor di 80an, namun scoring Tim Krog untuk film slasher supernatural The Boogeyman terasa lebih dingin dibanding scoring lainnya di era tersebut. Bunyi synth yang rapuh berkilau seperti bola salju yang baru digulung; suasana mendesah menghiasi seperti napas berkabut di kaca mobil. Scoring ini mungkin akan menakutimu tanpa efek mengagetkan.—Colin Joyce

25. Runaway (1984)
Nominasi Grammy enam kali dan pemenang Academy award Jerry Goldsmith sudah kenyang menangani berbagai film selama lima dekade berada di dalam industri film, tapi dia paling dikenang untuk film-filmnya yang amat mengerikan. Lewat The Omen yang membuat bulu kuduk berdiri, dia memenangkan Oscar, dan atmosfir panik film Alien telah membuatnya dipuji komunitas musik elektronik eksperimental. Namun justru scoringnya untuk film Runaway-lah yang menjadi puncak komposisi synthnya. Kontras dengan atmosfir paranoia yang dia ciptakan dalam Alien setengah dekade sebelumnya, di sini dia justru menampilkan sound yang manis, terang, dan terasa jauh dari nuansa teror. Mungkin yang menakutkan adalah bagaimana musik mengharukan seperti ini justru muncul dari mesin.—Colin Joyce

24. The Severed Arm (1973)
Pernah dideskripsikan oleh seorang penulis resensi sebagai "fuckpocalypse synthesizer gila pelumer otak," scoring ini menawarkan penggunaan awal programming Moog sebagai alat pencipta horor di layar lebar. Pendekatan komposer Phillan Biship menggunakan instrumen Moog tergolong maksimal untuk ukuran tahun 1973, menumpuk bunyi synth asinkron dan sumbang menjadi dengung yang terdengar seperti gergaji mesin dan sarang lebah—sesuai dengan elemen kekerasan yang menggerakkan film ini.—Colin Joyce

Iklan

23. We Are Still Here (2015)
Tidak seperti banyak komposer kontemporer dalam film horor, musisi Polandia Wojciech Golczewski bukanlah seorang nostalgis. Dia menggunakan banyak synthesizer pada film rumah hantu We Are Still Here (2015), namun memiliki warna yang gelap dan opresif, bukan elemen fantasi ceria seperti banyak digunakan banyak rekan-rekannya. Scoring yang dia tampilkan mengingatkan kita akan kemarahan eksistensial yang dihasilkan komposer ambien macam Biosphere dan Lustmord, dan bukan komposer spesialis pencipta musik untuk film. —Colin Joyce

22. Starry Eyes (2014)
Ketika tidak sedang sibuk melakukan produksi untuk grup rap eksperimental Clipping, Jonathan Snipes sibuk bekerja di belakang layar, menghasilkan scoring untuk banyak film dan seri TV. Karyanya yang luar biasa untuk film mimpi buruk Starry Eyes merupakan salah satu pencapaian tertingginya. Film yang menampilkan efek negatif ketenaran ini menyelam ke banyak ranah yang tidak nyaman, dan soundtrack Snipes membantu penonton terjun ke dalam neraka paranoia, mengingatkan kita akan tema film horor 80-an sambil ditemani derauan yang mengerikan.—Ian Stanley

21. Shock Waves (1977)
Ada elemen kesemberonoan dalam film mimpi buruk Ken Wiederhorn tentang zombie Nazi yang bisa berenang, Shock Waves, tapi scoring film ini dijamin sanggup membuatmu menahan tawa. Diciptakan oleh komposer Richard Einhorn, soundtrack film ini brutal, dan kelam—macam musik industrial yang diciptakan dari dasar laut. Tidak banyak yang lebih mengerikan daripada membayangkan mati di dasar laut, dan rasa takut ini dikulik secara serius oleh Einhorn.—Colin Joyce

Iklan

20. Deathdream (1972)

Film anti-perang komik gelap Bob Clark, Deathdream merupakan contoh awal bagaimana kekuatan musik elektronik sanggup mengubah imaji mengerikan menjadi pengalaman yang sureal. Komposer Carl Zittrer memperkenalkan tekstur elektronik aneh dan lapisan synth analog untuk menemai kisah mayat hidup pembunuh dalam film, seorang veteran perang Vietnam bernama Andy, yang menyerang penduduk tidak bersalah di kota kecil Brooksville, Florida. Kemanapun Andy pergi, kejadian menegangkan selalu terjadi. Di tengah adegan pembunuhan terencana yang kejam, bunyi snyth meracap menjadi kegilaan atonal yang memekakkan telinga. Namun daripada menggunakan sound secara harfiah, Zittrer memilih meningkatkan efek horor dengan cara menaruh penonton di dalam kepala si pembunuh, dan membuat adegan yang mengganggu (seperti ketika seekor anjing dicekik) semakin sulit ditonton.—Sean Egan

19. Demons (1985)
Claudio Simonetti (biasa disebut Goblin) dikenal karena sering bekerja sama dengan sutradara maniak palet warna Dario Argento, tapi pengaruh mereka terhadap film horor terus bergaung semenjak 70an. Maka dari itu, sutradara manapun yang mencari bunyi dancey synth dan instrumentasi organik untuk film mereka selalu mencari Claudio Simonetti. Salah satu karyanya yang paling ceria dia ciptakan untuk gonzo romp Demons ciptaan Lamberto Bava, Demons, menggabungkan elemen new wave dan heavy metal sebagai pengingat bahwa film horor tidak harus selalu menakutkan untuk ditonton—tapi juga bisa menyenangkan.—Ian Stanley

Iklan

18. Xtro (1983)
Film Xtro bikinan Harry Bromley Davenport tentang alien di antara manusia mengisahkan misteri dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mainan anak-anak yang tidak berbahaya bisa kembali hidup sebagai senjata yang mematikan. Maka dari itu, tidak heran bahwa scoringnya, dibikin oleh Bromley Davenport sendiri, mengikuti tema yang serupa. Ambien yang tenang diselimuti oleh synthesizer menggeliat adalah sound utamanya, namun ketika bunyi elektronik perkusif ala Carpenter dimasukkan, sulit untuk tidak mulai memikirkan hal-hal seram yang bisa terjadi di sekitarmu.—Colin Joyce

17. Videodrome (1983)

Sama seperti filmnya, scoring komposer Howard Shore untuk kisah psikoseksual besutan David Cronenberg, Videodrome merupakan pengalaman yang membingungkan, menyingkap batas tipis antara manusia dan mesin. Bebunyian konspiratif mesin mulai dari dengungan, klik, dan kertak ditampilkan secara aritmia. Ketika melodi dimunculkan, mereka bersatu padu menjadi semacam lagu pengantar kuburan. Shore kadang menggunakan string sungguhan, tapi justru sesungguhnya synthesizer besutannya lah yang terdengar manusiawi: detukan bass menjadi detak jantung; suara mendesing sintetis menjadi bunyi nafas; arpegio sarat air meniru suasana rahim. Scoring ini adalah lanskap bunyi karnivora yang bisa mengkonsumsimu kalau kamu tidak hati-hati.—Sean Egan

16. It Follows (2014)
Sebelum musik acara populer Netflix, Stranger Things kembali membawa soundtrack berbasis synthesizer ke khalayak muda, komposer asal Staten Island, Disasterpeace menciptakan bebunyian yang serupa untuk It Follows bikinan David Robert. Otak dibalik Disasterpiece, Richard Vreeland pernah mengakui bahwa dia tidak mengikuti film horor, apalagi mendengarkan soundtrack mereka, tapi scoring It Follows yang dipenuhi oleh bebunyian synth retro langsung mengingatkan kita akan film horor masa lalu namun tetap segar—dan pastinya mengerikan.—Ian Stanley

Iklan

15. Zombie Flesh Eaters (1979)
Zombie Flesh Eaters—sama seperti banyak scoring 80an karya komposer Italia, Fabio Frizzi—sangat terdengar sintetis, tapi justru disitulah letak daya tariknya. Penuh dengan perkusi tangan polyrhyhmic—jelas untuk memperkuat suasana setting Karibia (beberapa bagian film direkam di Republik Dominika)—dan bebunyian synth yang jelas artifisial, yang sudah jelas dijauhi oleh para synth nostalgis masa kini. Inilah yang membuat scoring film ini terdengar fresh: karena tidak ada orang normal yang mau menciptakan soundtrack macam ini.—Colin Joyce

14. Razorback (1984)

Tidak banyak pilihan komposisi musik yang bisa kamu pilih untuk menemani adegan seorang lelaki yang sedang cedera, berdehidrasi, berhalusinasi di sebuah gurun setelah diserang oleh monster babi agar tidak terasa seperti lelucon, tapi inilah yang berhasil dilakukan oleh musisi Australia, Iva Davies di film 1984, Razorback. Dalam adegan di atas, Davies, menggunakan synth analog selestial yang terdengar lebih cerah dibanding banyak musik komposer film B-movie di era yang sama. Agar tidak terdengar norak, dia memilih bebunyian megah untuk mengiringi adegan konyol dan justru memberikan suasana surreal.—Colin Joyce

13. Possession (1981)
Di akhir adegan klimatik flm Possession karya Andrzej Zulawski, komposer Andrzej Korzynski menampilkan bunyi ritmik drum machine halus dan bebunyian synth elektro neon yang biasa terdengar di klub malam beberapa tahun setelah perilisan film di 1981.

Iklan

Ini merupakan salah satu momen cerah yang masuk ke dalam scoring, namun label reissue Finders Keepers menemukan bahwa Korzynski awalnya merekam jauh lebih banyak track, yang akhirnya masuk ke dalam reissue soundtrack film romp ini di 2012. Komposisi yang masuk merupakan pertama kalinya Korzynski menyelam ke ranah musik elektronik, dan ajaibnya dia seperti sudah mengantisipasi bahwa musik klub berbasis synth akan mengambil alih satu dekade berikutnya. Sulit untuk berspekulasi mengapa Zulawski tidak memasukkan banyak dari karyanya untuk film, tapi mungkin dia mikir adegan alien berhubungan seks udah cukup aneh.—Colin Joyce

12. Candyman (1992)
Komposer minimalis ternama Philip Glass pernah menyediakan soundscape hipnotik untuk film macam Koyaanisqatsi dan The Hours, tapi dia belum banyak berkarya di ranah sinema horor selain di film Candyman karya Bernard Rose. Scoring ini merupakan pengecualian di daftar artikel ini, karena sebetulnya tidak murni synthesizer, tapi bunyi pipe organ yang piano yang mengagetkan rasanya pararel dengan tradisi musik horor synth yang mendahuluinya dan berpengaruh besar terhadap komposer eksperimental paska film ini.

Di film Candyman, boogeyman muncul setiap kali seseorang menyebutkan namanya lima kali di depan kaca. Meniru premis ini, Glass menggunakan nyanyian paduan suara untuk menakuti penonton sepanjang film. Sound orkestra khas Glass memperkenalkan kita dengan dunia akademia tokoh protagonis film yang "aman dan normal" sebelum akhirnya dia terekspos dengan sisi supernatural dari kota yang dia tinggali. Efek dari scoring Glass terasa lebih intelektual dan berbeda dibanding scoring film horor biasanya, tapi yang pasti musiknya memiliki kualitas halusinasi yang membuat suara voiceover Candyman terasa semakin mengerikan. —Tina Hassannia

Iklan

11. The Legend of Hell House (1973)
Karya Delia Derbyshire paling terkenal—rendisi elektronik dari lagu tema Doctor Who yang digunakan selama 20 tahun (dan lucunya, dia tidak pernah dikredit secara formal)—merupakan permulaan dari masuknya dia ke ranah supernatural. Kolaborator Brian Hodgson lagi-lagi menutup-nutupi keterlibatan Delia di scoring The Legend of Hell House, tapi bagaimanapun pembagian tugasnya, pasangan ini berhasil mengulik potensi synthesizer untuk menghasilkan bunyi yang aneh dalam bentuk gelombang statik elektronik yang atonal dan berfrekuensi tinggi. Ini sangat sesuai dengan atmosfir paranoid yang ditampilkan film. —Colin Joyce

10. Angst (1983)

Scoring Klaus Schulze untuk film pembunuhan dari Austria, Angst merupakan kasus langka di mana daya tarik soundtracknya membuatnya lebih terkenal dibanding filmnya itu sendiri. Mungkin ini karena scoring tersebut terasa berbeda dibanding koleksi karya synth Schulze lainnya. Untuk menciptakan perasaan panik, dia membawa sound drum machine untuk menemani bebunyian synthnya yang astral. Komposisi ini menimbulkan perasaan tidak tenang, dan merupakan contoh bagaimana aksi membalas dendam bisa mengubah anda selamanya.—Colin Joyce

9. Phantasm (1979)
Ada banyak alasan mengapa Phantasm merupakan film horor akhir 70-an andalan. Tidak hanya menjadi film hit pertama sutradara berbakat Don Coscarelli, Phantasm juga melahirkan the Tall Man, pemilik perusahaan pemakaman yang jahat dan ikonik. Teman Coscarelli, Fred Myron dan Malcolm Seagrave menangani pembuatan soundtracknya, menulis komposisi yang mengingatkan kita akan sound prog rock Goblin dan motif yang diulang-ulang. Musik yang diciptakan memiliki atmosfer dunia lain, sempurna untuk menemani dunia Tall Man dan para pengikutnya.—Ian Stanley

Iklan

8. Maniac (2012)
Film Franck Khalfoun (2012) yang menceritakan ulang karya 1980 William Lustig, Maniac, merupakan contoh bagaimana untuk membuat film horor remake yang sukses: gunakan konsep orisinil, udah sedikit, dan lihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda. Ditemani musik bikinan musisi Perancis, Robin Coudert, film ini menyelidiki sudut-sudut kotor Los Angeles lewat mata seorang pembunuh berantai. Maniac adalah film yang gelap, brutal, dan tidak segan-segan menunjukkan sisi brutal terhadap penonton. Scoring buatan Rob yang mengandalkan beat berdenyut dan melodi menghantui membantu film menampilkan kekerasan secara menawan.—Ian Stanley 7. The Fog (1980)
Lewat The Fog, denyutan synthesizer perkusif yang menjadi sound khas John Carpenter tidak hanya lagi berfungsi sebagai atmosfer. Sesuai dengan bunyi detik jam di adegan awal, The Fog adalah sebuah film yang terobsesi dengan waktu, terutama seiring kabut yang mengerikan semakin mendekat, siap menelan karakter. Carpenter menggunakan ledakan-ledakan atonal dan noise sebagai indikator bahwa elemen supernatural alam sudah tiba, dan menampilkan kord-kord panjang untuk menegaskan efek menyelimuti kabut jahat—mengingatkan kita bahwa di film macam ini, setelah waktu habis, kita tidak bisa melarikan diri.—Tina Hassannia

6. Chopping Mall (1986)
Sebuah film tentang robot petugas keamanan yang mengalami malfungsi dan mengamuk di dalam sebuah mal terdengar seperti sebuah film buat seru-seruan doang, dan scoring funky dari komposer Chuck Cirino membuat Chopping Mall masuk ke ranah film absurd. Bunyi perkusi yang berdentang dan synth yang berputar menekatkan konsep tekno-distopia film, tapi sulit untuk tidak merasa deg-degan ketika bunyi synth bell dibunyikan dalam momen-momen menegangkan film. Scoring Chuck terasa sangat manis seperti sirup merah yang berfungsi sebagai darah palsu dalam film romp gory macam ini.—Colin Joyce

Iklan

5. Under The Skin (2014)

Biarpun sudah pernah merilis beberapa album pop eksperimental dengan bandnya, Micachu & The Shapes dan berkolaborasi dengan semua orang mulai dari Dean Blunt hingga Toddla T, Under The Skin menandai petualangan multi-instrumentalis asal Inggris Mica Levi masuk ke dalam scoring film. Disutradarai oleh Jonathan Glazer, film sains-fiksi ini dibintangi Scarlett Johansson yang memerankan sosok alien, memikat turis lelaki Skotlandia ke dalam lubang hitam yang primordial. Scoring Levi terasa sangat asing; dengan tempo lambat dan nada dimanipulasi, bunyi rekaman mikrofon berdentum, perkusi minimal, dan lengkingan senar biola yang memberikan latar belakang mengerikan bagi karakter Scarlett yang aneh.—Max Mertens

4. Day of the Dead (1985)

Day of the Dead didaulat sebagai mahakarya George Romero. Setelah merilis Night of the Living Dead dan Dawn of the Dead, Romero kembali bersiap menciptakan pernyataan kultural tentang sifat manusia. Berbudget rendah, dan reaksi kaku dari kritik dan penggemar membuat dampak film terasa kecil. Namun beberapa dekade setelah perilisan, Day of the Dead perlahan-lahan menemukan massanya, paling tidak berkat scoring aneh komposer John Harrison. Mengikuti jejak soundtrack campur aduk Goblin untuk Dawn of the Dead (ditampilkan secara eksklusif di versi rilisan Italia Dario Argento), scoring Harrison menonjol karena di luar konteks film yang menakutkan, komposisinya tetap enak didengar.—Ian Stanley

3. Suspiria (1977)

Scoring oleh band prog-horor Italia, Goblin untuk film Dario Argento, Suspiria sudah menyatu dengan film, sehingga terlalu menyeramkan untuk didengarkan secara terpisah. Di sini, Goblin seperti memberi penghormatan terhadap musik orkestra Bernard Herrmann di film Psycho dan efek vokal aneh dari The Exorcist, namun juga menciptakan sound supernatural dan tone penyiksaan mereka sendiri. Komposisi elektroakustik ini menandai awal kemunculan synthesizer di scoring horor, dan memperkuat perasaan teror bagi penonton: sensasi bahwa sesuatu yang jahat bisa muncul dari manapun apabila kamu bersedia mengintip ke sudut-sudut yang gelap.—Tina Hassannia

2. Nosferatu (1978)

Komposer asal Jerman, Florian Fricke meminjamkan talentanya ke berbagai film eksistensial Werner Herzog, tapi di film Nosferatu (1978), band Fricke, Popol Vuh mencoba menulis materi yang lebih rumit dibanding sebelumnya. Scoring film ini ditandai oleh motif paduan suara, dan sound sitar yang menjadi ciri khas band, tapi masih memberikan tempat bagi eksperimentasi elektronik untuk masuk. Di tengah komposisi yang megah, beberapa bagian Moog buatan Fricke terasa minim dan enak di kuping. —Colin Joyce

1. The Keep (1983)

Sifat cair komposisi synth Tangerine Dream membuat grup musik elektronik asal Jerman ini cocok mengisi banyak sekali soundtrack film. Namun scoring mereka yang paling efektif justru bisa ditemukan dalam film The Keep besutan Michael Mann. Banyak yang mengatakan ketenaran The Keep disebabkan oleh kelangkaannya—hanya 300 kopi dirilis, dan sisanya adalah bootleg. Mann sendiri sudah tidak mengakui film tersebut semenjak dirilis, dan adanya hak lisensi membuat sangat sulit untuk menemukan versi film dengan scoring orisinil. Namun musik dalam soundtrack film ini merupakan salah satu yang paling bervariasi yang pernah dirilis Tangerine Dream.

Sound khas mereka bisa ditemukan di sini: bunyi synth eksistensial yang ringan yang hingga hari ini masih diimitasi banyak komposer lain. Ada juga solo gitar berharmoni, perkusif berbau disko, dan statis atonal neraka. Sound mereka konyol namun juga galak, ceria namun juga terasa panik—bentuk musik yang hanya bisa diciptakan oleh revisionis dari genre yang sanggup memahat dan mengukir bunyi sedemikian rupa.—Colin Joyce