Pengobatan Alternatif

Belakangan Sedang Tren Orang Mengoleskan Racun Katak ke Kulit Demi Detoksifikasi

Adakah alasan ilmiah yang bisa membenarkan ritual pembersihan tubuh dan pikiran menggunakan racun katak? Kami berusaha mencari jawabannya buat kalian.
Foto ilustrasi katak beracun via Farinosa / Getty Images

Kambo adalah obat herbal asal Amazon yang terbuat dari sekresi racun kulit katak phyllomedusa bicolor. Pertama kali Tricia Eastman, pendiri Psychedelic Journeys (komunitas yang hobi menggelar upacara psikedelik), mencoba racun katak, dia bergurau kalau yang sedang ia jalan ibaratnya vaksinasi campak saja. Dengar-dengar, kambo bisa memperkuat sistem kekebalan tubuh. Dia pun tertarik mencobanya. Siapa tahu staminanya bisa tetap terjaga pada musim-musim mendatang.

Iklan

Selama upacara kambo, dukun dan praktisi terlatih lainnya membakar sedikit kulit pasien untuk memasukkan racun katak ke dalam tubuh mereka. Setelah itu, mereka biasanya akan muntah-muntah atau diare. Hal ini dianggap wajar karena bisa menguras 'racun' dari tubuh pasien. "Saya sedang berulang tahun waktu itu. Saya ingin menjadi pribadi yang baru dan lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya," kata Eastman kepadaku.

Setelah racun masuk ke dalam tubuhnya, Eastman merasa detak jantung dan tekanan darahnya naik. Sehabis itu dia mual dan muntah-muntah. Kepalanya terasa penat dan dia muntah lagi. Tak lama kemudian, praktisi kembali melaksanakan tugasnya. Kali ini di bagian kaki. Eastman langsung lari ke kamar mandi karena diare. Dia yakin kalau semua racun dan kotoran sudah keluar dari dalam tubuhnya. "Pikiran saya langsung jernih dan saya merasa lebih bersyukur," tuturnya. "Dalam 20 menit, saya merasa jauh lebih baik."

Benny Hoffius, tukang kebun di Belgia, pertama kali mencoba kambo ketika acara retret sebagai persiapan untuk upacara ayahuasca. Saat melakukan ritual ini, bibirnya bengkak dan dia muntah-muntah. Benar saja, dia merasa dirinya bersih dari kotoran dan racun setelah itu. Selanjutnya, dia bertekad menjalani pola hidup sehat. "Rasanya seperti manusia baru," katanya. "Setelah racun keluar dari tubuhmu, kamu akan lebih menyadari apa yang kamu makan. Pikiran juga menjadi lebih tajam. Saya akan melakukannya lagi agar tubuh dan jiwa tetap bersih."

Iklan

Ritual yang dijalankan oleh dukun dan praktisi terlatih ini diizinkan di AS dan beberapa negara lain. Kambo semakin digemari oleh orang-orang yang ingin "menguras racun dari dalam tubuhnya" atau sembuh dari penyakitnya.

"Saya kenal banyak orang yang sakit parah seperti penyakit Lyme yang mengatakan kalau mereka berhasil menyembuhkan gejala penyakitnya [dengan Kambo]," ungkap Eastman. Federico Zamberlan, peneliti yang mendalami etnobotani-farmakologi di University of Buenos Aires, juga pernah bertemu penderita penyakit autoimun yang hilang gejalanya setelah mencoba kambo.

James Giordano, dosen neurologi dan biokimia di Georgetown University Medical Center, menjelaskan bahwa kambo meresap melalui sistem limfatik yang memungkinkan penyebaran cepat ke sistem tubuh lainnya. Sekresi kulit katak phyllomedusa bicolor mengandung rantai asam amino yang disebut peptida, termasuk exorphin, yang mirip seperti endorphin tapi diproduksi oleh hewan amfibi dan tidak ada di dalam tubuh manusia.

Efek kambo adalah reaksi exorphin tertentu terhadap reseptor mu-opioid, yang bisa menghasilkan pereda nyeri dan perasaan lebih baik. Giordano menerangkan bahwa sebagian menyebabkan pelepasan neurotransmitter serotonin dan dopamine. Zamberlan juga menjelaskan bahwa efek Kambo pada sistem opioid mirip dengan morfin. Peptida lain yang disebut tryptophyllin merangsang sistem serotonergik yang bisa meningkatkan suasana hati dan dopamine, kata Giordano. Efeknya bisa berlangsung lama setelah kamu melakukan kambo, karena ini mengatur ulang sistem opioid dan serotonergik otakmu.

Iklan

Exorphin dan deltorphin lainnya berikatan dengan reseptor opioid delta yang bisa meredakan nyeri. Menurut Giordano, adanya dua enzim itulah yang membuat reseptor otak kita menjadi lebih sensitif, sehingga bisa meningkatkan respons penenang syaraf alami tubuh dan memperbaiki kondisi nyeri kronis tertentu.



Menurut Zamberlan, kuatnya efek kambo pada otak bisa disebabkan karena peptida yang meningkatkan permeabilitas sawar darah otak. "Di saat binatang beracun lainnya seperti ular berbisa dan kalajengking membutuhkan taring atau penyengat untuk mengirimkan racunnya, katak [kambo] menggunakan kulitnya untuk mengalirkan racun ke aliran darahnya dengan cepat," imbuhnya.

"Hal ini bisa kita manfaatkan untuk kesehatan di masa depan. Misalnya, mengalirkan obat-obatan kompleks ke otak untuk mengobati berbagai patologi psikiatri."

Efek pencahar Kambo kemungkinan berasal dari tindakan peptida tachykinin dan aktivasi opioid jalur dopamin yang mempengaruhi area postrema, seperti pusat muntah otak kita, kata Giordano. Mungkin karena kamu menguras perut begitu banyak, sehingga tidak ada yang tersisa, dan racun yang larut dalam lemak yang terikat pada empedu di saluran pencernaan bagian atas dan bawahmu dapat diekskresikan. Kambo bahkan dapat membantu melawan infeksi, karena peptida dermaseptin dapat membantu mengurangi bakteri dengan meningkatkan aktivitas sel darah putih yang disebut limfosit.

Dua peptida lain dari kambo juga bisa menyebabkan pembuluh darahmu membesar. Akibatnya, tekanan darah akan meningkat, kamu akan merasa memerah dan “seolah-olah kepala akan meledak,” dan kemudian tekanan darahmu akan turun, dan ususmu akan melepaskan serotonin, ujar Giordano. Biasanya, orang-orang akan merasa “aneh” selama 20-30 menit saat efek kambo muncul, tetapi kemudian mungkin merasa segar kembali sesudahnya, katanya. Sebagai hasil dari tindakan vasodilatasi ini, banyak orang dengan migrain menemukan bahwa migrain mereka memburuk di bawah pengaruh kambo tetapi kemudian berkurang sesudahnya.

Sebagian besar penelitian tentang kambo menggunakan pengujian in vitro atau uji hewan, jadi tidak ada terlalu banyak bukti kuat tentang pengaruhnya pada manusia, kata Zamberlan. Namun, penelitian in vitro ini menunjukkan bahwa kambo memiliki sifat antijamur dan bahkan dapat memperlambat pertumbuhan sel kanker.

Kambo mungkin tidak cocok untuk sebagian orang. Karena ia meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh, orang-orang dengan gangguan autoimun seperti fibromyalgia, MS, atau rheumatoid arthritis—yang sistem kekebalannya sudah terlalu kuat—tidak boleh menggunakan kambo, Giordano memperingatkan. Begitu pula dengan orang dengan masalah jantung atau tekanan darah. Karena pengalaman ini bisa sangat intens, antara muntah, peningkatan denyut jantung, dan tekanan darah berubah, orang harus memastikan untuk melakukannya di suatu tempat di mana mereka diawasi dan memiliki akses ke perawatan medis.

Kalau kamu ingin mencoba kambo, Zamberlan menyarankan untuk memulainya dengan dosis kecil (seperti satu titik kecil di kulitmu) untuk menguji reaksimu sebelum mengambil dosis yang lebih banyak. Giordano tidak menyarankan untuk melakukan kambo lebih dari satu kali dalam sebulan. Jika tidak, efeknya mungkin luntur atau menjadi terlalu menegangkan bagi sistem sarafmu.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic