Cash Confession

Menantang Tabu Soal Uang: Tiga Ortu Buka-Bukaan Cara Membahas Uang Bersama Anak

Topik duit tak kalah tabunya seperti seks, makanya banyak anak Indonesia ogah peduli sama uang dan sulit menabung. Berikut obrolan kami bareng tiga ortu membahas seputar tabu tersebut.
30.8.18
Ilustrasi pengelolaan uang oleh Dian Permatasari/VICE

Kapan pertama kali kalian mengenal uang? Aku sendiri ketika sekolah dasar kelas tiga. Setelah dua tahun sekolah hanya membawa bekal, di kelas tiga itulah baru Ibuku memberi uang saku sekitar Rp1.000 (saat aku SD, jumlah ini lumayan besar lah). Tidak banyak penjelasan apa yang harus kulakukan dengan uang tadi. Di hari pertama aku memegang uang sendiri, semuanya habis langsung buat es krim depan sekolah. Begitulah orang tuaku. Mereka cenderung tidak ikut campur dengan uang yang kumiliki dan bagaimana caraku menghabiskannya. Sampai sekarang, ketika aku akhirnya sudah berumah tangga, mereka pun tidak banyak memberi nasehat soal cara mengelola uang.

Aku intinya diminta tidak boros dan jangan lupa menabung. Sederhana banget lah pesannya. Hasilnya ya aku berusaha menabung. Kadang kalau gaji numpang lewat doang, aku terbujuk untuk pinjam orang tua, walaupun akhirnya dibatalkan lantaran malu. Kalau kepepet, aku paling pinjam teman, dibayar bulan berikutnya. Enggak spesial lah. Anak muda lain seumuran pasti mengalami hal yang sama (semoga sih gitu).

Rupanya aku tidak sendirian. Berdasarkan riset situs BicaraUang.com, rupanya orang tua di Indonesia parno banget sama topik keuangan. Dari responden yang terlibat penelitian situs tersebut, cuma 18 persen orang tua mengaku terbuka soal keuangan kepada anak-anaknya. Bahkan, keuangan jadi tema paling tabu untuk dibicarakan sama anak, hanya setingkat di bawah seks. Wow…

Iklan

Aku pun jadi teringat, kalau dulu baru punya tabungan sendiri setelah masuk kuliah. Itupun karena jadi syarat bikin kartu mahasiswa oleh pihak rektorat. Anak muda kayak aku ternyata banyak lho. Survei Bank Permata pada 2017 menunjukkan hanya 19 persen anak muda dari generasi millenials di Tanah Air yang memiliki rekening bank sendiri.

Temuan yang sama suremnya juga ditunjukkan oleh Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan pada 2016. Hanya 29,6 persen penduduk Indonesia dalam survei OJK, memahami konsep tabungan, investasi, dan aspek-aspek finansial lainnya. Dampak negatif kondisi tersebut turut terasa pada anak muda yang akhirnya cenderung konsumtif tanpa punya kemampuan mengelola keuangan sendiri. Mendapat data kayak gini, aku jadi tambah ketakutan. Millenials jumlahnya merujuk Badan Pusat Statistik mencapai 84,75 juta. Generasi muda ini menjadi motor perekonomian nasional. Tapi kok malah enggak banyak yang ngerti cara mengelola keuangan ya?

Wah, kalau sudah begini, sebaiknya aku harus ngobrol sama para ortu zaman sekarang. Hasil riset tadi wajib banget diuji. Benarkah kebanyakan ortu di negara ini enggan dan malu mengajarkan keuangan pada anak? Kalaupun sempat membahasnya, apa yang biasanya mereka bahas bareng anak?

Beruntung, tiga ortu dengan latar sosial ekonomi berbeda bersedia buka-bukaan kepadaku soal keseharian mereka membicarakan uang bareng anak. Mereka adalah Yunita Arisanti (39) yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga kesehatan Puskesmas di Jakarta Selatan dan punya dua anak, salah satunya sudah remaja. Edy Budi Utomo (54) juga mau membagi pengalamannya selama mendidik perihal keuangan. PNS di Bappenas ini punya dua anak yang semuanya sudah lulus sarjana. Terakhir adalah Desi Aliefia (44), dokter dari Kota Padang, Sumatra Barat, yang anaknya bersiap masuk SMP.

Iklan

Jawaban mereka mengingatkanku, kalau ada yang bermasalah dari cara orang tuaku dulu mendidik soal uang. Semoga ketika harus menghadapi anak kelak soal duit, aku tidak perlu mengulangi kesalahan serupa.

Berikut cuplikan obrolan kami.

VICE: Halo, seberapa sering anda membicarakan uang, mencakup jumlah gaji anda sampai tips menabung, bersama anak di waktu senggang atau saat di rumah?
Yunita: Tidak banyak. Kami lebih membahas soal pendidikan di waktu senggang. Apakah di sekolah lancar mengikuti pelajaran. Apa saja yang dipelajari di sekolah.
Edy Budi: Tidak terlalu sering, saya pikir pada usia tertentu, posisi anak belum memahami tentang konsep gaji. Gaji mungkin bisa kita kenalkan pada anak ketika mereka memasuki usia sekolah menengah pertama, karena kan sudah ada sedikit pelajaran tentang ekonomi dan akuntansi. Sedangkan masalah menabung kami diskusikan atau kenalkan kepada anak sejak usia TK.
Desi Aliefa: Soal jumlah gaji enggak pernah bicarakan. Yang besar pernah nanya sih "gaji Mama berapa? Gaji ayah berapa?" tapi enggak saya jawab. Respons saya paling "Ya ada laaah, memang kenapa nanya?" Katanya sih dia pengen tahu saja gedean gaji ayah atau gaji mama.

Di usia berapa anak mulai anda ajak membahas uang? Apakah sejak mulai memberi anak uang saku sekolah, anda sudah menjelaskan pentingnya menabung atau menyisihkan uang?
Yunita: Di usia delapan tahun. Menjelaskan secara detail tidak, tapi paling tidak saya mengajarkan langsung untuk menabung. Biasanya saya bilang "kamu boleh membeli barang yang diinginkan dengan cara menabung dulu."
Desi: Waktu awal SD kira-kira, dia sudah bisa pegang uang sih. Dari kecil sih udah mulai beli celengan jadi uangnya bisa disimpan kalau yang enggak dipakai. Sekarang karena sudah besar, jadinya berlanjut. Saya enggak pernah nyuruh dia secara langsung nabung, cuma dia memang sudah kebiasaan.

Apakah anda membahas dari mana sumber uang sekolah anak bersama-sama dengan mereka?
Yunita: Tidak secara detail. Anak saya tahu pekerjaan orang tuanya, tapi kami tidak pernah membahasnya.
Edi: Anak-anak perlu diberi pengertian sumber uang yang didapat ortunya dari mana. Kita harus terbuka juga profesi atau pekerjaan orang tua apa.

Iklan

Lantas bagaimana sih cara anda mengatur pola jajan atau belanja anak?
Edi: Sesuai strata atau levelnya; ketika SD-SMP-SMA-Kuliah pasti proporsi jatah uang saku sesuai dengan level sekolah dan jarak tempuh dari rumah ke sekolah. Anak-anak yang sudah memasuki usia sekolah sudah kami beri pos masing-masing yang diperuntukkan untuk keperluan sehari-hari misalnya: kebutuhan transportasi, jajan, menabung, serta keperluan sekolah lain.
Yunita: Saya memberikan uang saku harian. Ini sudah jadi semacam tradisi sejak saya sekolah juga. Karena di sekolah anak saya melarang jajan di luar, saya memberikan uang saku buat jajan di rumah saja. Atau di saat mereka mau beraktivitas di luar rumah.
Desi: Uang jajan berbeda antara kakak dan adiknya. Si adik pernah nanya juga ke saya, "kenapa kakak uang jajannya lebih banyak?" Saya memberi pengertian kakak kegiatannya lebih banyak, kebutuhannya lebih besar. Jam sekolahnya juga lebih lama dan perlu beli makan yang lebih banyak di luar.

Andai anak sudah bekerja apakah anda masih mengirimi dia uang rutin tiap bulan? Jika iya, apa alasannya?
Desi: sebagai orang tua memang membantu, cuma kita lihat kondisi mereka sendiri. Saya enggak mau anak saya terlalu manja, saya ingin mereka berjuang.
Edi: Anak yang sudah bekerja 100 persen tidak menerima lagi jatah uang rutin atau sangu. Tentu karena mereka sudah seharusnya mandiri.
Yunita: Bila memang perlu dan kami sebagai orang tua masih mampu jika diperlukan, pasti kami usahakan. Tapi sifatnya situasional, enggak mungkin juga mengirim uang tiap bulan sedangkan anak sudah bekerja.

Iklan

Apakah anda menjelaskan soal kredit atau utang pada anak? Kalau iya, di usia anak ke berapa anda mulai membahas topik ini?
Desi: Udah juga, anak saya sudah mengerti. Misalnya di dompet saya enggak ada uang kecil, terus saya pesan go-food terus uang saya kurang tunainya. Saya pinjam uang sama yang kecil misalnya Rp5.000 gitu, nanti dia bilang "ya sudah, mama nanti jangan lupa ya nanti diganti uangnya." Anak mulai ngerti dari sekitar kelas 4 SD kalau enggak salah. Mengajarkannya juga secara enggak disadari sih, jadi prinsipnya mereka paham kalau pinjam uang itu wajib dikembalikan. Kalau misalnya ngasih uang ya lain lagi, tapi kalau pinjam itu harus dikembalikan.
Yunita: Saat ini belum, kadang di sela-sela obrolan saya bilang kalau utang itu tidak baik dan harus diselesaikan secepatnya. Mungkin karena mereka belum beranjak dewasa. Kemungkinan saat mereka punya penghasilan sendiri baru kami akan jelaskan.

Apakah anda mengenalkan emas, reksadana, saham, atau properti ke anak?
Edi: Anak sebaiknya memang didorong melakukan investasi ketika mereka sudah pegang uang sendiri. Apapun bentuknya tidak masalah.
Desi: Reksadana sama saham belum, kalau soal emas juga sudah tapi baru ke yang paling besar. Saya sebatas mengajarkan kalau investasi lebih baik ke properti. Kalau mau beli mobil dan barang lainnya saya ajarkan juga untuk tidak konsumtif sama barang, lebih baik ke properti atau tanah karena harganya akan naik.
Yunita: Saat ini belum, tapi saya sendiri sudah berinvestasi ke properti dan emas. Semoga nanti bisa kami turunkan ke anak juga soal investasi ini.

Ada rencana membantu anak membeli rumah kelak? Apa saja hal apa saja anak menurut anda harus dibantu secara finansial?
Desi: Kalau saya sih selalu bilang bahwa dari diri mereka yang mesti bekerja keras karena saya memang dari nol. Kalau bisa dari aset saya dikembangkan saja. Kalau mereka memang mau beli rumah, ya dari usaha mereka sendiri. Karena saya dan suami pun memang dari nol jadi itu yang saya tekankan sama anak saya. Intinya sih yang dari ayah dan mama ini sebagai modal saja untuk dikembangkan.
Yunita: Kalau berencana pasti iya. Sebisa mungkin kami bantu. Yang jelas saya ingin membantu pendidikan anak setinggi mungkin. Saya pasti membantu membeli rumah jika memang harus dan [pesta] pernikahan anak nanti.

Apa sih yang paling membuat anda tidak nyaman saat mengajarkan seluk beluk pengelolaan uang pada anak?
Edi: Paling enggak nyaman seandainya saya harus bicara tentang kredit atau utang yang saya ajukan di salah satu satu lembaga peminjaman seperti bank, pegadaian, atau koperasi, tapi sebisa mungkin anak tak perlu tahu.
Yunita: Saya sendiri tidak terlalu diajarkan soal uang oleh orang tua dulu. Mereka tidak terbuka sehingga saya juga masih bingung untuk mengajarkan kepada anak. Ibaratnya saya belajar keuangan sendiri sambil mengamati orang tua. Saya belajar dari kebaikan dan kesalahan mereka dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut dalam hidup saya.
Desi: Kalau saya enggak nyaman itu ketika ditanya soal gaji. Apalagi kalau anak yang nanya. Kita enggak pernah jawab berapa range-nya. Kalau saya sih soal berapa jumlah yang saya dan suami terima, enggak saya kasih tahu sama anak. Jadi nanti dia tahu berapa uang orang tuanya. Nanti juga dia bandingkan antara uang ayah dan mamanya. Saya enggak mau dibandingkan aja.


Cash Confession adalah seri artikel dan video kolaborasi VICE X PermataBank untuk meningkatkan kesadaran anak muda Indonesia mengelola uang secara bijak.